Selasa, 27 September 2011

Wahyu Pertama


Muhammad Arifin el-Jahari
         
Ulama berbeda pendapat tentang menetapkan wahyu pertama yang turun kepada Nabi Saw. Al-Imam Jalaluddin as-Sayuthi menjelaskan hal ini dalam bukunya al-Itqan fi `Ulum al-Qur’an. Setidaknya ada empat pendapat dalam hal ini, sebagai berikut:
  1. Ayat 1-5 surat al-`Alaq.
Menurut as-Sayuthi, pendapat inilah yang paling sahih. Hal ini juga didukung oleh banyak ulama tafsir seperti al-Qurthubi dalam al-Jami` li Ahkam al-Qur’an; Ibnu Taimiyah dalam Tafsir al-Kabir; dan pendapat kebanyakan ulama sebagaimana diungkap oleh Ibnu `Asyur dalam Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir.
Argumen pendapat ini adalah hadis dari `Aisyah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dll. dalam hadis yang sangat makruf, hadis wahyu pertama yang insya Allah akan diungkap kemudian. Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak dan al-Baihaqi meriwayatkan dari `Aisyah, beliau berkata, “Surat Alquran pertama yang turun kepada Nabi adalah iqra’ bismi rabbikal lasdzi khalaq. Ath-Thabrani meriwayatkan hadis dari Abu Musa, dia berkata, “Ayat iqra’ bismi rabbikal lasdzi khalaq adalah ayat Alquran pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Mujahid mengatakan bahwa ayat pertama turun kepada Nabi Muhammad Saw. adalah iqra’ bismi rabbikal lasdzi khalaq dan nun wal qalam.
  1. Awal surat al-Muddatstsir.
Para mufassir banyak memasukkan awal surat al-Muddatstsir sebagai ayat Alquran pertama turun kepada Nabi Muhammad Saw, tetapi sebagai pendapat yang tidak kuat (marjuh). Terbukti dalam beberapa tafsir seperti al-Jami` li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurthubi, dan Tafsir al-Kabir karya Ibnu Taimiyah hanya menyebutkan qila, dalam bentuk fi’il majhul, yakni tidak jelas siapa yang mengatakan. Bentuk yang seperti ini adalah bentuk tamridh, yang biasanya pengarang kitab sendiri melemahkannya. Namun kalau ditelusuri lebih jauh, yang mengatakan hal ini adalah Jabir bin Abdullah.
Al-Bukhari meriwayat sebuah hadis bahwa Abu Katsir bertanya kepada Abu Salamah tentang surat pertama yang diturunkan. Abu Salam menjawab ya ayyuhal muddatstsir. Abu Katsir kembali bertanya, “Bukankah iqra’ bismi rabbik yang pertama turun?” Abu Salamah menjawab, “Hal itu juga aku tanyakan kepada Jabir bin Abdullah, beliau mengatakan “Aku tidak berkata kecuali apa yang dikabarkah oleh Rasul Saw.”
As-Sayuthi mengomentari hadis ini, mungkin yang dimaksud adalah surat pertama turun setelah masa kosongnya wahyu (fatrah al-wahyu), atau wahyu pertama yang menjelaskan tentang perintah untuk berdakwah.
  1. Surat al-Fatihah.
Abu al-Qasim Jarullah az-Zamakhsyari mengungkapkan dalam tafsirnya al-Kasysyaf `an Haqa’iq at-Tanzil wa al-`Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta’wil, menurut pendapat mayoritas mufassir bahwa yang pertama turun adalah al-Fatihah, kemudian surat al-Qalam. Fakhr ad-Din ar-Razi dalam tafsirnya at-Tafsir al-Kabir mengatakan bahwa menurut pendapat ulama-ulama yang lain (memakai kata jama` - qala akharun) surat al-Fatihah adalah surat pertama turun, kemudian surat al-`Alaq.
Muhammad Abduh menyebutkan bahwa surat al-Fatihah adalah surat yang pertama kali turun secara mutlak, pendapat inilah yang rajih. Muhammad Abduh dalam berbagai kumpulan tulisannya tidak menjelaskan alasannya secara riwayat. Tetapi ia mengungkapkan bahwa sudah menjadi sunnatullah yang pertama muncul itu adalah bibit atau sesuatu yang umum, setelahnya baru yang khusus dan rinci. Dan al-Fatihah adalah bibit Alquran, yang merangkum semua isi pokok Alquran.   
Kalau ditelusuri lebih jauh, menurut al-Qurthubi dalam tafsirnya, orang yang berpendapat seperti ini adalah abu Maisarah al-Hamdani. As-Sayuthi menceritakan bahwa al-Baihaqi meriwayatkan hadis dari Abu Maisarah, ia bercerita bahwa Rasul Saw berkata kepada Khadijah, “Sungguh, ketika aku berkhalwat sendirian, aku mendengar seruan. Demi Allah aku takut dengan peristiwa ini.” Khadijah berkata, “Berlindung kepada Allah. Tidak mungkin Allah melakukan itu kepadamu. Karena engkau menunaikan amanah, menyambung silaturrahim, jujur dalam ucapan.” Ketika Abu Bakar masuk, Khadijah menceritakan hal itu, dan menganjurkan kepada Abu Bakar dan Nabi Muhammad untuk pergi ke tempat Waraqah. Mereka pun pergi. Nabi bercerita kepada waraqah, “Ketika aku berkhalwat sendirian, aku mendengar seruan dari belakang, dan berkata, “Hai Muhammad, hai Muhammad.” Aku pun berlari. Waraqah berkata, “Jangan engkau lakukan hal itu, jika ia mendatangimu lagi, tetaplah dan denganrkan apa yang dikatakannya, kemudian engkau datangi aku lagi dan ceritakan padaku.” Tak lama berselang, Nabi Muhammad kembali menyendiri, lalu ada yang menyerunya, “Hai Muhammad, katakanlah bismillahir rahmanir rahim sampai wa ladh dhallin. Hadis ini, menurut as-Sayuthi adalah mursal, walau rijalnya tsiqah. Al-Baihaqi menjelaskan kembali, jika hadis ini benar-benar ada, kemungkinan peristiwa ini setelah turunnya iqra’ dan muddatstsir.
  1. Basmallah.
Al-Wahidi meriwayatkan hadis dari `Ikrimah dan al-Hasan, bahwa ayat pertama yang diturunkan adalah bismillahir rahmanir rahim, dan awal surat iqra’ bismi rabbik. Ibnu Jarir meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ayat pertama yang diturunkan Jibril kepada Nabi Muhammad adalah ketika dia berkata, “Hai Muhammad, berlindunglah kepada Allah, kemudian katakan “Bismillahir rahmanir rahim.”
Namun, menurut as-Sayuthi, pendapat ini tidak layak dikatakan sebagai pendapat yang berbeda dengan yang lain, karena sudah menjadi kelaziman ketika turun ayat, basmallah mengiringinya. Jadi basmallah adalah ayat pertama yang diturunkan secara mutlak, karena antaranya dan ayat yang diturunkan adalah satu kesatuan.

Al-Qurthubi menerangkan bahwa ada satu pendapat lagi, yang berasal dari Ali bin Abu Thalib, beliau berkata, “Ayat Alquran pertama diturunkan adalah surat al-An`am ayat 151. Ada juga hadis yang lain, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari `aisyah menerangkan bahwa yang pertama turun adalah surat-surat pendek, yang disebutkan di sana tentang surga dan neraka. Ketika manusia sudah banyak masuk Islam, baru turun ayat-ayat yang menjelaskan tentang halal dan haram. Pendapat ini terlalu umum, karena ayat yang membicarakan tentang surga dan neraka sangat banyak sekali, sehingga susah untuk mendeteksinya.
As-Sayuthi menganalisis hal ini, mungkin yang dimaksud adalah surat al-Muddatstsir. Karena – munurut as-Sayuthi – surat al-`Alaq tidak membicarakan tentang surga dan neraka. Sedangkan di penghujung surat al-Muddatstsir menyebut tentang surga dan neraka, dan ayat ini diturunkan sebelum turun surat bagian kedua dari surat al-`Alaq, serta surat al-Muddatstsir adalah wahyu pertama setelah masa kekosongan wahyu (fatrah al-wahy).

Pendapat Rajih
            Setelah melihat dan mengkaji beberapa perbedaan pendapat di atas, tergambar bahwa pendapat yang paling populer adalah pendapat pertama, yakni ayat pertama turun adalah surat al-`Alaq ayat 1-5. Soal statement az-Zamakhsyari yang mengatakan “Menurut pendapat mayoritas mufassir bahwa yang pertama turun adalah al-Fatihah, kemudian surat al-Qalam”, tidak dapat dibuktikan. Bahkan Ibnu Hajar al-`Asqalani mengomentari, “Pendapat yang banyak di anut oleh ulama adalah surat al-`Alaq ayat 1-5.
            Dalam menentukan ayat mana yang pertama turun, erat kaitannya dengan sejarah, karena yang menyaksikan hal itu adalah para saksi sejarah, dalam hal ini adalah para sahabat, jika tidak ada pengakuan dari Nabi secara tegas. Riwayat-riwayat yang ada, adalah salah satu bukti sejarah yang dapat diperpegangi, dan riwayat yang terkuat, itulah yang seharusnya menjadi acuan. Dalam hal ini, riwayat yang terkuat, atau bahkan yang terbanyak adalah riwayat yang menerangkan surat al-`Alaq ayat 1-5 sebagai wahyu yang pertama.
            Al-Imam as-Sayuthi meriwayatkan banyak hadis tentang hal ini dalam tafsirnya ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bil Ma’tsur. Jika di buka kitab-kitab sejarah dan sirah maka hal yang sama juga akan ditemui, yakni surat al-`Alaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama. Di antara kitab itu adalah Qashash al-Anbiya’ wa at-Tarikh karya Dr. Rusydi al-Badrawi, pakar sejarah Cairo University, dan as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.
            Tentang riwayat Jabir bin Abdullah yang menerangkan bahwa wahyu pertama adalah surat al-Muddatstsir, ada kemungkinan – menurut as-Sayuthi – hal ini menerangkan wahyu pertama setelah masa kekosongan wahyu (fatrah al-wahy). Sedangkan riwayat Abu Maisarah yang menerangkan bahwa wahyu pertama adalah surat al-Fatihah, hadisnya terputus. Nama asli Abu Maisarah adalah `Amr bin Syurahbil al-Hamdani. Menurut catatan Ibnu Hajar dalam Tahdzib at-Tahdzib, Abu Maisarah tidak pernah meriwayatkan hadis dari Nabi Muhammad Saw secara langsung, karena beliau adalah seorang tabi’in. Walau Abu Maisarah sendiri, serta rijal sanad hadis di atas tsiqah, namun hadisnya tetap saja tidak kuat, karena Abu Maisarah meriwayatkannya langsung dari Nabi Saw, tanpa perantara sahabat. Hadis seperti ini disebut dengan hadis mursal. Lebih tegas Abu Hayyan al-Andalusi dalam tafsirnya al-Bahr al-Muhith, menyebutkan bahwa hadis ini tidak shahih.


Rabu, 21 September 2011

`Ibâd Ar-Rahmân (Upaya Memahami QS. Al-Furqân [25]: 63-77)

Muhammad Arifin el-Jahari
 

Pendahuluan
Furqân bermakna pembeda. Surat ini adalah surat ke-25 dalam urut mushaf Alquran dan terdiri dari 77 ayat. Surat ini diturunkan pada periode Makkah, dalam istilah `ulum Alquran disebut sebagai makkiyah. Dr. Rusydi al-Badrawi meletakkan surat ini setelah surat Yâsîn diturunkan, dan sebelum surat Fâthir.[1] Sedangkan di dalam urutan Mushaf surat Yâsîn terletak di urutan ke-36, dan Fâthir di urutan ke-35. Lebih jelas Muhammad Thahir Ibnu `Asyur mengatakan bahwa surat ini, surat yang keempat puluh dua diturunkan.[2]
Namun demikian, terjadi perbedaan pendapat. Ibnu Abbas dan Qatadah mengatakan tiga ayat (ayat 68-70) diturunkan pada periode Madinah, atau madaniyah. Berbeda dengan adh-Dhahhak, ia mengatakan surat ini adalah madaniyah, walau di sana ada ayat-ayat makkiyah,[3] yakni tiga ayat pertama.
Nama al-Furqân untuk surat ini bersifat tauqîfî, artinya tidak berdasarkan ijtihad ulama. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari[4] menjelaskan bahwa Umar bin Khaththab berkata, "Aku mendengar Ibnu Hizam membaca surat al-Furqân pada masa hidup Rasul Saw., aku mendengar dengan tekun bacaannya, aku mendengar dia membaca variasi bacaan (hurûf/qirâ'ât) yang berbeda dengan bacaan yang diajarkan Rasul kepadaku. Hampir saja aku 'menerkamnya' dalam shalat, tetapi aku bersabar sampai ia selesai shalat, lalu aku menarik leher bajunya dan berkata kepadanya, "Siapa yang mengajarkan kepadamu surat yang aku dengar engkau baca tadi? Dia menjawab bahwa Rasullah yang mengajarkannya. Maka aku menggiringnya menghadap Rasul Saw. Ketika tiba di hadapan Rasul, beliau meminta Hisyam ibn Hizam membacanya, lalu beliau bersabda, seperti itulah surat itu turun. Lalu beliau memintaku untuk membacanya, dan beliau berkata, demikian juga surat itu diturunkan. Alquran diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya."[5]
            Tema sentral surat al-Furqân adalah pembahasan tentang Alquran yang diturunkan dari Allah, tauhid, kenabian, kondisi hari Kiamat, dan ditutup dengan sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih.
            Dalam kesempatan ini dan dengan segala kekurangan, kami mencoba memahami QS. Al-Furqân [25]: 63-77 serta hal-hal yang terkait. Kata `Ibâd Ar-Rahmân bermakna hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Dalam beberapa ayat tersebut dijelaskan sembilan sifat orang-orang yang menjadi `Ibâd Ar-Rahmân, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Fakhruddin ar-Razi,[6] atau sebelas sifat sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Qurthubi. Namun, angka ini bukanlah angka pasti.

Penjelasan Ayat 63
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً
Artinya, "Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan 'salâm'."
Kata  عبادadalah bentuk plural dari عابد yang berati hamba, dalam variasi bacaan al-Yamani  عُبَّادdan dalam bacaan al-Hasan عُبُد.[7] Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ketika kata ini diperuntukkan kepada orang-orang mukmin maka ini berarti kemuliaan (tasyrîf),[8] karena penghambaan adalah posisi yang sangat mulia. Bukankah manusia diciptakan hanya untuk menghambakan diri kepada Allah SWT, sebagaimana friman-Nya, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ, Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar menyembah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Kasus yang sama juga terjadi pada surat al-Isra', سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ, Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya. (QS. Al-Isra' [17]: 1).
            Kemudian kata  عبادini disandarkan (idhâfah) kepada nama dan sifat Allah الرحمن, ini berarti juga kemuliaan (at-tasyrîf wa takrîm), sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya at-Tafsîr al-Munîr.[9]
            Mungkin ada pertanyaan di benak kita, mengapa ayat ini memakai kata الرحمن? Hal ini memiliki kaitan yang erat dengan ayat sebelumnya. Firman Allah:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُوراً
Artinya, "Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Sujudlah kepada ar-Rahman (Yang Maha Pengasih)!" Mereka menjawab, "Siapakah ar-Rahman itu?" Apakah kami harus sujud kepada (Allah) yang engkau perintahkan kepada kami (besujud kepada-Nya)?" Dan mereka semakin jauh (dari kebenaran). (QS. Al-Furqân [25]: 60).
            Sepintas, dalam ayat 63 surat al-Furqân di atas, terjelaskan dua sifat `Ibâd Ar-Rahmân. Pertama adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dengan redaksi, الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً. Dalam Mu`jam al-Qirâ'ât al-Qur'âniyah, kata يَمْشُونَ memiliki variasi bacaan (qira'at) يُمَشَّونَ,[10] namun sang penyusun tidak menjelaskan kedudukan atau status qira'at tersebut. Perbedaan bacaan ini – mungkin – membawa pada perbedaan bina', bahkan makna. Perlu adanya pembahasan lebih lanjut.
            Kata يَمْشُونَ terambil dari kata مشى yang berarti berjalan atau berjalan kaki. Setidaknya yang dimaksud dalam ayat ini ada dua makna. Pertama, berjalan dalam makna hakiki. Dalam at-Tafsîr al-Munîr ketika menafsirkan ayat ini, Dr. Wahbah menjelaskan bahwa Umar ibn al-Khaththab pernah melihat seorang pemuda yang berjalan dengan sombong. Lalu Umar berkomentar, "Sungguh, jalan seperti ini dibenci kecuali ketika berperang, dan Allah memuji  kaum (dalam Alquran) Umar membacakan ayat, "Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati," maka sederhanalah dalam berjalan.[11]
Makna kedua adalah berjalan dalam makna majazi. Menurut Imam al-Qurthubi, kata يَمْشُونَ adalah ungkapan dari seluruh interaksi manusia dalam kehidupannya.[12] Jadi tidak sebatas hanya pada berjalan an sich.
Para mufassir memaknai kata هَوْن dengan سكينة (tenang), وقار (berwibawa), تواضع (rendah hati), حلم (lemah lembut), dan طاعة (ketaatan). Makna-makna ini sesuai dengan dua makna مشى di atas. Artinya, berjalanlah dengan tenang, berwibawa, tawadhu` dan kasih sayang kalau kita merujuk pada arti yang pertama. Sebagaimana Rasul bersabda:
إذا أتيتم الصلاة فلا تأتوها وأنتم تسعون، وأتوها وعليكم السكينة، فما أدركتم منها فصلوا وما فاتكم فأتموا.
Artinya, "Apabila engkau hendak mendatangi shalat, maka janganlah engkau datangi dengan terburu-buru. Datangilah (berjalanlah) dengan tenang. Shalatlah dalam kondisi apa pun engkau dapati, dan sempurnakan apa yang engkau tidak dapati." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Atau dengan makna kedua, hiduplah dengan tenang, berwibawa, dan tawadhu`, lemah lembut dan taat kepada Allah SWT kalau kita merujuk pada makna مشى secara majazi. Untuk mendukung pendapat ini, sebagian mufassir, seperti Imam at-Qurthubi dan Imam Fakhruddin ar-Razi meriwayatkan bahwa Zaid bin Aslam berkata, "Aku mencari-cari penafsiran ayat الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً, tapi tidak aku dapati (tafsir) yang memuaskan sampai akhirnya aku bermimpi dan seseorang mengatakan kepadaku, (penafsiran ayat itu adalah) orang-orang yang tidak ingin berbuat kerusakan di bumi.[13] Imam Qusyairi berkata, "Janganlah kamu berjalan untuk merusak dan berbuat maksiat, tapi (berjalanlah) dengan ketaatan kepada Allah SWT, dan perkara-perkara yang mubah yang bukan perbuatan bodoh.[14] Ibnu Abbas ra. berkata, "(Berjalanlah) dengan ketaatan, berbuat makruf, dan tawadhu`.[15] Al-Alusiy berkata, (`Ibâd Ar-Rahmân) adalah orang yang hidup lemah lembut di antara manusia pada seluruh aspek kehidupan mereka.[16] Pendapat ini, agaknya dikuatkan dengan firman Allah:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya, "Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. al-Qashash [28]: 83).
Ayat yang semakna dengan sifat `Ibâd Ar-Rahmân yang pertama ini, diantaranya:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Artinya, "Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai." (QS. Luqman [31]: 18-19).
وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً
Artinya, "Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi langit." (QS. al-Isra' [17]: 37).
Sifat `Ibâd Ar-Rahmân yang kedua adalah orang-orang yang apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan 'salâm', dengan redaksi ayat, وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً.
Ulama tafsir, dalam memahami makna ayat ini terbagi dua. Pertama memahaminya secara tekstual. Jadi, ketika seseorang berkata dengan perkataan tidak baik, orang beriman harus mengucapkan salâm. Namun, kata سلام di sini bukan bermakna تسليم (penghormatan). Tetapi سلام dengan makna تسلّم (berlepas) sebagaimana yang dikatakan oleh an-Nahhas. Ketika orang Arab berkata سَلاما, maka artinya تسلّما منك yang bermakna berlepas darimu (براءة منك).[17] Dengan istilah yang berbeda, al-Asham mengatakan bahwa salam di sini adalah salam taudî` (perpisahan) bukan salam tahiyyah (penghormatan).[18] Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu `Athiyah. Beliau berargumen, kata سَلاما berposisi manshûb, sedangkan âmilnya adalah kata قَالُوا. Jadi yang diperintahkan adalah mengucapkan kata salâm.
Sebuah hadis menguatkan hal ini. Imam Ahmad meriwayatkan dari Nu`man, Rasul Saw. – ketika seseorang mencela orang yang lain, lalu orang yang dicela mengucapkan, `alaika as-salâm– beliau bersabda, "Sesungguhnya malaikat menolongmu. Ketika dia mencelamu, malaikat berkata kepada orang yang mencela, "Bahkan celaan itu untukmu, dan engkau lebih berhak atas celaan itu." Lalu ketika engkau (orang yang dicela) mengatakan, `alaika as-salâm. Malaikat berucap, "Tidak! Bahkan salam itu untuk engkau, engkau lebih berhak.[19] Ibnu katsir mengatakan hadis ini isnadnya hasan.[20] Namun, al-Albani mendha`ifkan hadis ini.[21]
Ayat yang senada dengan ayat ini dan sekaligus menguatkan makna yang pertama ini adalah:
وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ  
Artinya, ”Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang bodoh." (QS. Al-Qashash [28]: 55).
            Berpijak dari sini, banyak ulama yang beranggapan penggalan ayat telah dihapus (naskh[22]) dengan ayat saif, seperti Sibawaih, al-Kalabi, dan Abu `Aliyah. Menurut mereka, kata الْجَاهِلُونَ dalam ayat itu adalah orang-orang kafir musyrik Makkah, karena ayat ini adalah makkiyah. Menurut mereka lagi, umat Islam dilarang memberikan salam kepada orang kafir.[23] Namun sebenarnya, menurut al-Qurthubi, Fakhruddin ar-Razi, dll. bahwa ayat ini tidak perlu dinaskh karena stressing pointnya adalah orang-orang bodoh, bukan orang-orang kafir. Secara tidak langsung mereka berpendapat, kata الْجَاهِلُونَ dalam ayat itu dimaknai secara umum. Al-Qurthubi menambahkan, walau demikian ulama berbeda pendapat tentang pemberian salam kepada orang kafir, sehingga tidak perlu adanya penasakhan dalam aya tersebut.
            Golongan yang kedua memahami ayat ini secara kontekstual. Mujahid berkata bahwa maksud ayat ini adalah mengatakan yang benar dengan lemah lembut.[24] Sa`id bin Jabir mengatakan, balaslah perkataan mereka dengan ungkapan yang makruf.[25] Hasan al-Bashri berkomentar bahwa jangan kembali membodohi mereka, berkata dan berperilakulah dengan lemah lembut kepada mereka.[26] Dalam at-Tafsîr al-Wasîth dijelaskan bahwa makna salam di sini bukan salam yang biasanya kita kenal. Karena ayat itu tentang orang kafir musyrik Makkah, dan tidak ada salam atas mereka.[27]
            Antara sifat `Ibâd Ar-Rahmân yang  pertama dan kedua bisa dijadikan satu point atau satu sifat saja, kalau kita memahami kedua sifat itu dengan makna yang kedua, yakni kata مشى diartikan dalam makna majazi; dan memahami sifat kedua secara kontekstual. Pointnya, orang-orang yang tergolong dalam hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih (`Ibâd Ar-Rahmân) adalah orang-orang yang hidup di bumi dengan ketaatan dan sifat lemah lembut, dan salah satu aplikasinya adalah berkata dan berbuat lemah lembut terhadap orang yang mencelanya. Jadi dua sifat yang terdapat dalam ayat tersebut bisa digabung menjadi hanya satu sifat saja. Allahu a`lam.
           
Penjelasan Ayat 64
Kalau penggabungan sifat di atas disetujui, maka ayat berikutnya adalah sifat `Ibâd Ar-Rahmân yang kedua, yakni beribadah kepada Allah di malam hari. Allah berfirman:          
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّداً وَقِيَاماً
Artinya, "Dan orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri."
            Di ayat sebelumnya menceritakan tentang aktifitas manusia di siang hari. Pada kesempatan ini, berbicara aktifitas `ibad ar-Rahman di malam hari. Jadi sempurnalah kebaikan yang dilakukan `ibad ar-Rahman dalam hidup mereka 24 jam sehari.
            Az-Zujjaj berkata, kata يَبِيتُونَ berasal dari kata بات yang berarti malam. Orang disebut يَبِيتُونَ apabilan ia mendapati malam, walaupun tidak tidur. Ibnu Abbas menambakan bahwa siapa saja yang shalat dua rakaat atau lebih setelah `isya maka ia sudah terkategori dalam ayat ini. Al-Kalabi menambahkan bahwa siapa saja yang malaksanakan shalat dua rakaat setelah maghrib dan empat rakaat setelah `isya, maka ia sudah tergolong dalam ayat ini.[28]
            Kata لـ pada kata رَبِّهِم bertujuan untuk pengkhususan. Artinya sujud dan berdiri/shalat hanya untuk Allah SWT.
            Ayat yang sejalan dengan hal ini adalah:
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
Artinya, "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. As-Sajdah [32]: 16.

Be Continue


[1] Rusydi al-Badrawi, Qashash al-Anbiyâ' wa at-Târikh: Khâtim al-Anbiyâ' Muhammad Saw. (Cairo: al-Jazirah International, 2003), juz VII, h. 138.
[2] Muhammad Thahir Ibnu `Asyur, Tafsîr at-Tahrîr wa at-Tanwîr (Tunisia: Dar as-Suhnûn, 1997), juz XVIII, h. 314.
[3] Imam al-Qurthubi, al-Jâmi` li Ahkâm al-Qur'ân (Cairo: Dar al-Hadits, 2002), Jilid VII, h. 5.
[4] Redaksi hadisnya,
[5] Dalam Mu`jam al-Qirâ'ât al-Qur'âniyah didapati sekitar 214 variasi bacaan dalam surat al-Furqan dari ayat 1-77, dan terdiri dari variasi yang mutawatir atau yang bukan mutawatir. Pembahasan tentang variasi bacaan dalam Alquran memiliki bahasan yang cukup pelik dan panjang. Jadi membutuhkan waktu khusus.
[6] Imam Fakhruddin ar-Razi, at-Tafsîr al-Kabîr au Mafâtih al-Ghaib (Cairo: al-Maktabah at-Taufiqiyah, tt), Juz 24, h.101.
[7] Al-Alûsiy, Ruh al-Ma`ânî fî Tafsîr al-Qur'ân al-`Azhîm wa as-Sab` al-Matsânî (Cairo: Dar al-Hadits, 2005), jilid X, h. 57. Lihat juga, Ahmad Mukhtar Umar dan Abdul Âli Salim, Mu`jam al-Qirâ'ât al-Qur'âniyah (Cairo: Alam al-Kutub, 1997), Jilid III, h. 413.
[8] Al-Qurthubi, al-Jâmi`…, h. 64.
[9] Diharap untuk merujuk dalam at-Tafsîr al-Munîr versi cetak, karena kami hanya memiliki at-Tafsîr al-Munîr dalam bentuk file pribadi.
[10] Mukhtar Umar, Mu`jam ..., h. 413. Dijelaskan, pembaca (qâri') qira'at ini adalah as-Sulami dan al-Yamani, terdapat dalam Tafsir Bahr al-Muhîth, al-Kasysyâf, dan Mafâtih al-Ghaib. Namun, ketika kami melihat ayat yang bersangkutan, kami tidak mendapatkan model qira'at sepert ini dalam tafsir Mafâtih al-Ghaib yang kami miliki. Allahu a`lam.
[11] Redaksinya:
أن عمر رضى الله رأى غلاما يتبختر في مشيته، فقال: إن البخترة مشية تكره إلا في سبيل الله، وقد مدح الله أقواما فقال: وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنا فاقصد في مشيتك.                                                                                                                                
[12] Al-Qurthubi, al-Jâmi`…, h. 65. Redaksinya, ويمشون عبارة عن عيشهم ومدة حياتهم وتصرفاتهم.
[13] Ibid. Lihat juga ar-Razi, at-Tafsîr…, h. 101. Redaksi dalam tafsir al-Jâmi` li Ahkâm al-Qur'ân:
 قال زيد بن أسلم: كنت أسأل عن تفسير قوله تعالى: الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنا فما وجدت من ذلك شفاء، فرأيت في المنام من جائني فقال لي: هم الذين لا يريدون أن يفسدوا في الأرض.                                                                                          
[14] Ibid. Redaksinya, قال القشيرى: وقيل لا يمشون لإفساد ومعصية، بل في طاعة الله والأمور المباحة من غير هوك
[15] Ibid.
[16] Al-Alûsiy, Ruh…, h, 58. Redaksinya, المراد أنهم يعيشون بين الناس هينين في كل أمورهم
[17] Al-Qurthubi, al-Jâmi`…, h. 66.
[18] Ar-Razi, at-Tafsîr…, h. 101.
[19] Redaksi hadis,
عن النعمان بن مقرّن المزني قال : قال رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلم- وسبّ رجل رجلا عنده ، فجعل المسبوب يقول : عليك السلام- : « أما إن ملكا بينكما يذبّ عنك ، كلما شتمك هذا ، قال له : بل أنت ، وأنت أحقّ به ، وإذا قلت له : وعليك السلام قال : لا ، بل عليك ، وأنت أحق به »
[20] Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur'ân al-`Azhîm (Cairo: Maktabah ash-Shaf, 2002) juz VI, h. 21.
[21] Ibid. dalam footnote no. 1.
[22] Ulama berbeda pendapat tentang naskh dalam Alquran. Ini membutuhkan waktu dan pembahasan tersendiri untuk membahasnya.
[23] Di permasalahan salam ini juga ada perbedaan pendapat ulama, dan membutuhkan waktu dan pembahasan khusus.
[24] Al-Qurthubi, al-Jâmi`…, h. 66.
[25] Ibnu Katsir, Tafsîr…, h. 21.
[26] Ibid.
[27] Lajnah Majma` Buhûts al-Islâmiy di al-Azhar, at-Tafsîr al-Wasîth (Cairo: al-Hai'ah al-`Ammah li Syu'ûn al-Mathâbi` al-Amîriyah, 1985), h. 1539.
[28]Al-Qurthubi, al-Jâmi`…, h. 68. dengan redaksi:
 قال الزجاج‏:‏ بات الرجل يبيت إذا أدركه الليل، نام أو لم ينم‏. قال ابن عباس‏:‏ من صلى ركعتين أو أكثر بعد العشاء فقد بات لله ساجدا وقائما‏.‏ وقال الكلبي‏:‏ من أقام ركعتين بعد المغرب وأربعا بعد العشاء فقد بات ساجدا وقائما‏.‏