Senin, 19 September 2011

ANTARA TAFSÎR DAN TA`WÎL (Sebuah Prolog)

Muhammad Arifin Jahari
A. Pengertian Tafsîr
            Dr. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah dalam al-Isrâ'îliyât wa al-Maudû'ât fî Kutub at-Tafsîr, menjelaskan bahwa ilmu tafsir adalah ilmu yang paling mulia. Hal ini dapat dilihat dari tiga sisi. Pertama, objek kajian. Objek kajian ilmu tafsir adalah Alquran, firman Allah. Tidak ada ungkapan paling mulia, paling benar, dan penuh dengan hikmah dan petunjuk, kecuali Alquran yang diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw. Kedua, Tujuan kajian. Tujuan ilmu tafsir adalah berpegang teguh pada tuntunan Allah, guna mendapat keselamatan di dunia dan akhirat. Ketiga, kebutuhan. Kesempurnaan agama dan duniawi butuh pada ilmu-ilmu syariat, dan sumber ilmu syariat adalah Alquran.
            Dalam pembahasan tafsir, setidaknya ada dua terma yang harus dipahami terlebih dahulu: tafsîr dan ta'wîl. Kata tafsîr berasal dari fassara, yufassiru, yang berari al-bayân (penjelasan), al-Kasyf (penyingkapan), at-taudîh (penjelasan). Dalam Alquran, kata ini hanya didapati di satu tempat: QS. Al-Furqan [25]: 33.
وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيراً
"Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya."
Secara terminologi, para ulama memberikan pengertian yang beragam. Dr. Muhammad Abu Syahbah menukil pelbagai definisi ini dalam bukunya, dan memilih satu definisi yang paling jelas, yang diungkapkan oleh az-Zarkasyi: tafsir adalah ilmu yang memahami Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, menjelaskan maknanya, mengeluarkan hukum dan hikmahnya, dengan menggunakan pelbagai ilmu: ilmu Bahasa, Nahw, Sharf, Bayan, Usûl al-Fiqh, dan Qirâ'ât, serta membutuhkan pada pengetahuan tentang asbâb an-nuzâl, nâsikh dan mansûkh.
                Dengan redaksi yang lebih singkat, Dr. Muhammad Abu Syahbah mengungkapkan, tafsir adalah ilmu yang membahas keadaan Alquran dari segi tujuan Allah (dalam ayat-ayatnya), dan dari segi kemukjizatannya, dengan kadar kemampuan manusia yang memahaminya.
B. Pengertian Ta'wîl
            Kata ta'wîl terambil dari al-awwal yang berarti ar-rujû` (kembali), atau dari al-iyâlah yang bermakna as-siyâsah (mengatur). Az-Zarqâni mengatakan bahwa antara makna tafsîr dan ta'wîl adalah sama, jadi makna ta'wîl adalah al-bayân, al-Kasyf, dan at-taudîh. Sedangkan menurut Fairuz Abâdi, makna ta'wîl: dabbara (mengatur), qaddara (menentukan), dan fassara (menjelaskan). Dalam Alquran, kata ini dengan bentuk yang sama, terletak pada tujuh belas tempat: QS. Âli Imrân [3]: 7 terulang dua kali; QS. An-Nisâ' [4]: 59; QS. Al-A`râf [7]: 53 terulang dua kali; QS. Yûnus [10]: 39; QS. Yûsuf [12]: 6, 21, 36, 37, 44, 45, 100, 101; QS. Al-Isrâ' [17]: 35; QS. Al-Kahfi [18]: 78, 82.
            Kalau dilihat redaksi ayat-ayat di atas, makna ta'wîl menjadi variatif. QS. Âli Imrân ayat 7 sebagai contoh:
هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ 
"Dialah yang menurunkan Alquran kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamât, itulah pokok-pokok isi Alquran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyâbihât. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyâbihât darinya, untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah, dan orang-orang yang mendalam ilmunya, mereka berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyâbihât, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal." Makna ta'wîl di ayat ini adalah tafsîr (penjelasan) dan ta`yîn (penentuan), begitu juga di ayat-ayat yang lain.
Di ayat yang lain:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. an-Nisâ' [4]: 59). Makna ta'wil di sini adalah `âqibah (akibat) dan mashîr (akhir).
Ulama berbeda pendapat tentang makna ta'wîl secara terminologi. Tidak sedikit ulama yang mengatakan antara tafsîr dan ta'wîl memiliki pengertian yang sama. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnul Arabi, Abu `Ubaid al-Qasim bin Salam, Abu al-Abbas Ahmad bin Yahya, dll.
Selain itu, banyak pula ulama yang membedakan tafsîr dan ta'wîl. Ar-Râgib al-Asfahâni mengatakan bahwa tafsîr lebih umum dari ta'wîl, penggunaan tafsîr lebih banyak pada lafal dan kata, sedangkan ta'wîl lebih banyak di makna dan kalimat, penggunaan ta'wîl lebih sering pada Kitab-kitab suci, sedangkan tafsîr pada Kitab-kitab suci dan selainnya. Al-Mâturidi mengungkapkan bahwa tafsîr adalah makna pasti dari satu lafal, sedangkan ta'wîl adalah perajihan satu makna di antara beberapa kemungkinan dari satu lafal.
Dr. Muhammad Husain adz-Dzahabi merajihkan pendapat bahwa tafsîr berkaitan dengan riwâyat, sedangkan ta'wîl berkaitan dengan dirâyat. Artinya, tafsir tergolong dalam bil ma'tsûr (tafsîr bil ma'tsûr), sedangkan ta'wîl, bir ra'y (tafsîr bir ra'y): keduanya termasuk dalam pembagian tafsir. Hal yang sama juga dijelaskan oleh Dr. Ibrahim Abdullah Rafidah dalam bukunya, an-Nahw wa Kutub at-Tafsr, ia mengungkap bahwa al-Farrâ' dan az-Zujjâj menggunakan kata tafsîr pada tafsîr bil ma'tsûr.
Perbedaan ini muncul belakangan. Karena di zaman salaf makna ta'wîl adalah tafsir dan penjelasan Alquran, apakah sesuai dengan lafal yang nyata atau menyalahinya. Pada masa muta'akhkhirîn, ta'wîl dimaknai sebagai pemalingan lafal dari makna yang râjih (kuat) ke makna yang marjûh (tidak kuat), disebabkan qarînah.
Hal ini menjadi jelas, ketika ath-Thabari memberi judul buku tafsirnya Jâmi` al-Bayân `an Ta'wîl al-Qur'ân. Begitu juga ketika ath-Thabari hendak menafsirkan ayat Alquran, beliau sering menyebutkan "al-qaulu fî ta'wîl qauluhu ta`âlâ kadzâ wa kadzâ " (pendapat tentang tafsir/ta'wil ayat ini adalah begini dan begitu).  Sebenarnya, hal ini juga telah diungkap oleh Rasul Saw. ketika mendoakan saudaranya, Ibnu Abbas: Allâhumma Faqqihhu fî ad-dîn wa `allimhu at-ta'wîl, Ya Allah Fakihkan dia tentang agama dan ajarkan kepadanya tafsir/ta'wil. (HR. Ahmad). Oleh sebab itu, Ibnu Abbas menjadi pakar tafsir dikalangan sahabat. Allahu a`la wa a`lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar