Selasa, 20 September 2011

Pro-Kontra Tadarus Al-Quran

Muhammad Arifin el-Jahari


Kata tadarus berasal dari kata d-r-s yang berarti belajar. Menurut Ilmu Linguistik kata tadarus digunakan untuk binâ musyârakah yang berarti saling, dalam hal ini saling belajar (diskusi). Lebih jauh kata ini ditarik ke makna, membaca al-Quran di bulan Ramadhan secara berjamaah, yang biasa dilakukan di masjid-masjid pada malam hari (setelah shalat tarawih) dan atau di pagi hari (selesai shalat subuh).

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana al-Quran diturunkan. Allah berfirman, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al-Baqarah: 185). Wajar kiranya, ummat Islam sedunia mengunggulkan amalan membaca al-Quran hingga khatam berkali-kali.

Rasul juga pernah bersabda, “Bacalah al-Quran. Sungguh, Allah akan membalas setiap satu huruf yang dibaca dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lâm Mîm satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf”. Bagaimana pula dengan amal shaleh di bulan Ramadhan, yang akan dilipat-gandakan menjadi tujuh ratus kali lipat. Dan bayangkan lagi kalau mengkhatamkan al-Quran yang hurufnya puluhan, bahkan ratusan ribu dalam bulan Ramadhan. Tentu saja pahala yang didapat tidak terhitung. Maka betul, ketika rasul bersabda, “Al-Quran akan memberikan syafaat di hari kiamat kelak.”  

Kalau kita mau mengkaji dan meneliti hadis yang berkaitan dengan fadhilah al-Quran dan Ramadhan, maka akan kita dapati puluhan hadis shahih yang menerangkan tentang ini. Beginilah kira-kira dasar pengamalan tadarusan di bulan suci Ramadhan.

Pada dasarnya amalan ini berkonotasi positif, sebagaimana telah diuraikan. Namun, setelah banyak ‘penyelewengan’ dari pelaku tadarrus, dianggap tidak wajar dan atau bahkan ‘meresahkan’. Tidak bermaksud untuk mengubur tradisi tadarrusan, mari sama-sama kita koreksi beberapa praktek tadarusan yang berlaku di beberapa masjid:


1.      Penyelewengan makna tadarus
Sebagaimana kita ketahui, makna tadarus adalah diskusi, saling memberi informasi tentang al-Quran. Kalau kita lihat praktek tadarus sekarang, maka hal ini tidak kita dapati lagi. Orang membaca al-Quran seenak dan semaunya saja, tidak lagi melihat dan memelihara kaidah membaca yang harus dipatuhi. Hal ini kalau tadarus kita pahami sebagai membaca al-Quran an sich. Namun, apakah cukup sebatas itu?

2.      Melupakan Fikih Perioritas
Satu hal yang harus kita buang dari benak kita, bahwa al-Quran bukan kitab mantera, sehingga hanya dengan membaca kita akan selamat di dunia dan akhirat. Satu tema sentral al-Quran adalah hudân (petunjuk). Semua pemberitaan al-Quran tentang kisah masa lampau dan mendatang, indikasi sains dan teknologi, dll, bermuara pada satu poros: yaitu memberikan petunjuk kepada semua lapisan umat manusia.

Allah berfirman, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” [QS. Al-Baqarah: 185]. Dalam ayat lain, “Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [QS. Al-Baqarah: 2].

Penting (wajib) bagi umat Islam untuk menempatkan al-Quran pada posisi semestinya, sehingga al-Quran lebih bermanfaat guna buat kehidupan sekarang dan kehidupan ‘nanti’.

Penulis kira inilah hal perioritas buat umat Islam sekarang, ketimbang hanya membaca al-Quran an sich. Karena, umat Islam sekarang sangat jauh dari nilai-nilai al-Quran, walau pun setiap rumah muslim memiliki al-Quran dan mungkin setelah shalat lima waktu mereka membacanya. Namun, jarang sekali yang ingin mengkaji dan meresapi nilia-nilia luhurnya. Wajar kalau al-Quran dianggap tidak terlalu bermanfaat buat kehidupan kita. Aisyah berkata ketika menyifati akhlak Nabi, Kâna khuluquhul qur’ân, akhlak Nabi adalah al-Quran. Artinya Nabi telah berhasil memanifestasikan makna dan nilai al-Quran dalam perilaku kehidupannya sehari-hari.

Ibnu ‘Abbas pernah berkomentar, “Aku lebih suka membaca dan merenungi surat al-Zalzalah dan surat al-Qâri’ah dari pada membaca surat al-Baqarah dan Ali ‘Imrân dengan tanpa mentadabburinya.” Imam Ali juga berkata, “Tidak ada kebaikan pada ibadah tanpa tafaqquh, pada ilmu tanpa tafahhum dan pada bacaan (al-Quran) tanpa tadabbur” [diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abd Al-Bar]. Begitu pentingnya tadabbur dalam membaca al-Quran, sehingga membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran yang terdiri dari 486 ayat (hampir 4 juz al-Quran) tidak lebih baik dari membaca dan menangkap makna surat pendek seperti surat al-Zalzalah dan surat al-Qâri’ah yang hanya terdiri dari 19 ayat.

Pendapat ini bukan tidak beralasan, bukankah Allah berfirman, “(Al-Quran) ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (tadabbur) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” [QS. Shâd: 29]. Dalam ayat lain, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan (tadabbur) al-Quran? kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” [QS. An-Nisa’: 82].

Lebih tegas Allah menjelaskan dan seolah mengancam bagi yang tidak mentadabburi ayat-ayat al-Quran, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan (mentadabburi) al-Quran ataukah hati mereka telah terkunci?” [QS. Muhammad: 24]. Semoga kita tidak termasuk golongan orang yang terkunci hatinya karena tidak merenungkan nilai-nilai al-Quran.

3.      Praktek tadarusan jadi meresahkan
“Awalnya ingin merajut pahala tak terhingga, tapi justru dosa menghampiri.” Inilah ungkapan yang cocok buat para praktisi tadarusan yang sudah jamak. Membaca al-Quran tidak berdosa, namun terkadang, cara dan metodenya yang menjebak kita terjerumus dalam kubangan dosa. Praktek tadarusan yang makruf adalah menggunakan mikropon masjid, dan bahkan sampai tengah malam. Jangankan non-muslim yang butuh ketenangan dalam beristirahat, kaum mislimin sekali pun merasa terganggu oleh bacaan al-Quran tersebut. Bukan karena tidak senang dengan bacaan al-Quran, namun mata dan raga wajib diistirahatkan. Bukankah menjaga ketenangan termasuk salah satu nilai luhur al-Quran yang wajib kita taati..!?
           
Kalau hal ini bisa diterima, maka kita (praktisi tadarusan) telah melanggar nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran, yakni menjaga kurukunan ukhuwah insaniyah dan ukhuwah islamiyah. Buat apa kita kerjakan hal yang hukumnya sunat, kalau malah perkara wajib kita langgar.

Terakhir, ada baiknya kita membaca al-Quran dengan baik, benar dan merenungkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya serta menjaga ketenangan orang dan umat lain. Semoga amal ibadah kita berterima di sisi Allah SWT. Allâhu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar