Selasa, 27 September 2011

Wahyu Pertama


Muhammad Arifin el-Jahari
         
Ulama berbeda pendapat tentang menetapkan wahyu pertama yang turun kepada Nabi Saw. Al-Imam Jalaluddin as-Sayuthi menjelaskan hal ini dalam bukunya al-Itqan fi `Ulum al-Qur’an. Setidaknya ada empat pendapat dalam hal ini, sebagai berikut:
  1. Ayat 1-5 surat al-`Alaq.
Menurut as-Sayuthi, pendapat inilah yang paling sahih. Hal ini juga didukung oleh banyak ulama tafsir seperti al-Qurthubi dalam al-Jami` li Ahkam al-Qur’an; Ibnu Taimiyah dalam Tafsir al-Kabir; dan pendapat kebanyakan ulama sebagaimana diungkap oleh Ibnu `Asyur dalam Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir.
Argumen pendapat ini adalah hadis dari `Aisyah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dll. dalam hadis yang sangat makruf, hadis wahyu pertama yang insya Allah akan diungkap kemudian. Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak dan al-Baihaqi meriwayatkan dari `Aisyah, beliau berkata, “Surat Alquran pertama yang turun kepada Nabi adalah iqra’ bismi rabbikal lasdzi khalaq. Ath-Thabrani meriwayatkan hadis dari Abu Musa, dia berkata, “Ayat iqra’ bismi rabbikal lasdzi khalaq adalah ayat Alquran pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Mujahid mengatakan bahwa ayat pertama turun kepada Nabi Muhammad Saw. adalah iqra’ bismi rabbikal lasdzi khalaq dan nun wal qalam.
  1. Awal surat al-Muddatstsir.
Para mufassir banyak memasukkan awal surat al-Muddatstsir sebagai ayat Alquran pertama turun kepada Nabi Muhammad Saw, tetapi sebagai pendapat yang tidak kuat (marjuh). Terbukti dalam beberapa tafsir seperti al-Jami` li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurthubi, dan Tafsir al-Kabir karya Ibnu Taimiyah hanya menyebutkan qila, dalam bentuk fi’il majhul, yakni tidak jelas siapa yang mengatakan. Bentuk yang seperti ini adalah bentuk tamridh, yang biasanya pengarang kitab sendiri melemahkannya. Namun kalau ditelusuri lebih jauh, yang mengatakan hal ini adalah Jabir bin Abdullah.
Al-Bukhari meriwayat sebuah hadis bahwa Abu Katsir bertanya kepada Abu Salamah tentang surat pertama yang diturunkan. Abu Salam menjawab ya ayyuhal muddatstsir. Abu Katsir kembali bertanya, “Bukankah iqra’ bismi rabbik yang pertama turun?” Abu Salamah menjawab, “Hal itu juga aku tanyakan kepada Jabir bin Abdullah, beliau mengatakan “Aku tidak berkata kecuali apa yang dikabarkah oleh Rasul Saw.”
As-Sayuthi mengomentari hadis ini, mungkin yang dimaksud adalah surat pertama turun setelah masa kosongnya wahyu (fatrah al-wahyu), atau wahyu pertama yang menjelaskan tentang perintah untuk berdakwah.
  1. Surat al-Fatihah.
Abu al-Qasim Jarullah az-Zamakhsyari mengungkapkan dalam tafsirnya al-Kasysyaf `an Haqa’iq at-Tanzil wa al-`Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta’wil, menurut pendapat mayoritas mufassir bahwa yang pertama turun adalah al-Fatihah, kemudian surat al-Qalam. Fakhr ad-Din ar-Razi dalam tafsirnya at-Tafsir al-Kabir mengatakan bahwa menurut pendapat ulama-ulama yang lain (memakai kata jama` - qala akharun) surat al-Fatihah adalah surat pertama turun, kemudian surat al-`Alaq.
Muhammad Abduh menyebutkan bahwa surat al-Fatihah adalah surat yang pertama kali turun secara mutlak, pendapat inilah yang rajih. Muhammad Abduh dalam berbagai kumpulan tulisannya tidak menjelaskan alasannya secara riwayat. Tetapi ia mengungkapkan bahwa sudah menjadi sunnatullah yang pertama muncul itu adalah bibit atau sesuatu yang umum, setelahnya baru yang khusus dan rinci. Dan al-Fatihah adalah bibit Alquran, yang merangkum semua isi pokok Alquran.   
Kalau ditelusuri lebih jauh, menurut al-Qurthubi dalam tafsirnya, orang yang berpendapat seperti ini adalah abu Maisarah al-Hamdani. As-Sayuthi menceritakan bahwa al-Baihaqi meriwayatkan hadis dari Abu Maisarah, ia bercerita bahwa Rasul Saw berkata kepada Khadijah, “Sungguh, ketika aku berkhalwat sendirian, aku mendengar seruan. Demi Allah aku takut dengan peristiwa ini.” Khadijah berkata, “Berlindung kepada Allah. Tidak mungkin Allah melakukan itu kepadamu. Karena engkau menunaikan amanah, menyambung silaturrahim, jujur dalam ucapan.” Ketika Abu Bakar masuk, Khadijah menceritakan hal itu, dan menganjurkan kepada Abu Bakar dan Nabi Muhammad untuk pergi ke tempat Waraqah. Mereka pun pergi. Nabi bercerita kepada waraqah, “Ketika aku berkhalwat sendirian, aku mendengar seruan dari belakang, dan berkata, “Hai Muhammad, hai Muhammad.” Aku pun berlari. Waraqah berkata, “Jangan engkau lakukan hal itu, jika ia mendatangimu lagi, tetaplah dan denganrkan apa yang dikatakannya, kemudian engkau datangi aku lagi dan ceritakan padaku.” Tak lama berselang, Nabi Muhammad kembali menyendiri, lalu ada yang menyerunya, “Hai Muhammad, katakanlah bismillahir rahmanir rahim sampai wa ladh dhallin. Hadis ini, menurut as-Sayuthi adalah mursal, walau rijalnya tsiqah. Al-Baihaqi menjelaskan kembali, jika hadis ini benar-benar ada, kemungkinan peristiwa ini setelah turunnya iqra’ dan muddatstsir.
  1. Basmallah.
Al-Wahidi meriwayatkan hadis dari `Ikrimah dan al-Hasan, bahwa ayat pertama yang diturunkan adalah bismillahir rahmanir rahim, dan awal surat iqra’ bismi rabbik. Ibnu Jarir meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ayat pertama yang diturunkan Jibril kepada Nabi Muhammad adalah ketika dia berkata, “Hai Muhammad, berlindunglah kepada Allah, kemudian katakan “Bismillahir rahmanir rahim.”
Namun, menurut as-Sayuthi, pendapat ini tidak layak dikatakan sebagai pendapat yang berbeda dengan yang lain, karena sudah menjadi kelaziman ketika turun ayat, basmallah mengiringinya. Jadi basmallah adalah ayat pertama yang diturunkan secara mutlak, karena antaranya dan ayat yang diturunkan adalah satu kesatuan.

Al-Qurthubi menerangkan bahwa ada satu pendapat lagi, yang berasal dari Ali bin Abu Thalib, beliau berkata, “Ayat Alquran pertama diturunkan adalah surat al-An`am ayat 151. Ada juga hadis yang lain, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari `aisyah menerangkan bahwa yang pertama turun adalah surat-surat pendek, yang disebutkan di sana tentang surga dan neraka. Ketika manusia sudah banyak masuk Islam, baru turun ayat-ayat yang menjelaskan tentang halal dan haram. Pendapat ini terlalu umum, karena ayat yang membicarakan tentang surga dan neraka sangat banyak sekali, sehingga susah untuk mendeteksinya.
As-Sayuthi menganalisis hal ini, mungkin yang dimaksud adalah surat al-Muddatstsir. Karena – munurut as-Sayuthi – surat al-`Alaq tidak membicarakan tentang surga dan neraka. Sedangkan di penghujung surat al-Muddatstsir menyebut tentang surga dan neraka, dan ayat ini diturunkan sebelum turun surat bagian kedua dari surat al-`Alaq, serta surat al-Muddatstsir adalah wahyu pertama setelah masa kekosongan wahyu (fatrah al-wahy).

Pendapat Rajih
            Setelah melihat dan mengkaji beberapa perbedaan pendapat di atas, tergambar bahwa pendapat yang paling populer adalah pendapat pertama, yakni ayat pertama turun adalah surat al-`Alaq ayat 1-5. Soal statement az-Zamakhsyari yang mengatakan “Menurut pendapat mayoritas mufassir bahwa yang pertama turun adalah al-Fatihah, kemudian surat al-Qalam”, tidak dapat dibuktikan. Bahkan Ibnu Hajar al-`Asqalani mengomentari, “Pendapat yang banyak di anut oleh ulama adalah surat al-`Alaq ayat 1-5.
            Dalam menentukan ayat mana yang pertama turun, erat kaitannya dengan sejarah, karena yang menyaksikan hal itu adalah para saksi sejarah, dalam hal ini adalah para sahabat, jika tidak ada pengakuan dari Nabi secara tegas. Riwayat-riwayat yang ada, adalah salah satu bukti sejarah yang dapat diperpegangi, dan riwayat yang terkuat, itulah yang seharusnya menjadi acuan. Dalam hal ini, riwayat yang terkuat, atau bahkan yang terbanyak adalah riwayat yang menerangkan surat al-`Alaq ayat 1-5 sebagai wahyu yang pertama.
            Al-Imam as-Sayuthi meriwayatkan banyak hadis tentang hal ini dalam tafsirnya ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bil Ma’tsur. Jika di buka kitab-kitab sejarah dan sirah maka hal yang sama juga akan ditemui, yakni surat al-`Alaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama. Di antara kitab itu adalah Qashash al-Anbiya’ wa at-Tarikh karya Dr. Rusydi al-Badrawi, pakar sejarah Cairo University, dan as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.
            Tentang riwayat Jabir bin Abdullah yang menerangkan bahwa wahyu pertama adalah surat al-Muddatstsir, ada kemungkinan – menurut as-Sayuthi – hal ini menerangkan wahyu pertama setelah masa kekosongan wahyu (fatrah al-wahy). Sedangkan riwayat Abu Maisarah yang menerangkan bahwa wahyu pertama adalah surat al-Fatihah, hadisnya terputus. Nama asli Abu Maisarah adalah `Amr bin Syurahbil al-Hamdani. Menurut catatan Ibnu Hajar dalam Tahdzib at-Tahdzib, Abu Maisarah tidak pernah meriwayatkan hadis dari Nabi Muhammad Saw secara langsung, karena beliau adalah seorang tabi’in. Walau Abu Maisarah sendiri, serta rijal sanad hadis di atas tsiqah, namun hadisnya tetap saja tidak kuat, karena Abu Maisarah meriwayatkannya langsung dari Nabi Saw, tanpa perantara sahabat. Hadis seperti ini disebut dengan hadis mursal. Lebih tegas Abu Hayyan al-Andalusi dalam tafsirnya al-Bahr al-Muhith, menyebutkan bahwa hadis ini tidak shahih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar