Kamis, 26 April 2012

Urgensitas Alquran dalam Kehidupan


Muhammad Arifin Jahari

Sebuah anologi bahwa ketika suatu produk diciptakan, diberikan pula panduan untuk mengoparasikan produk tersebut. Begitu juga manusia dan alam ini, Sang Pencipta menitipkan panduan, untuk bisa diberdayagunakan. Panduan tersebut Allah titipkan kepada manusia, yang Allah tunjuk sebagai khalifah-Nya. Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ.
 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).
Dalam ayat lain, Allah berfirman:
 “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An`am [6]: 165).
Untuk tugas ini, Allah berikan kepada manusia dua panduan yang saling melengkapi. Pertama adalah akal. Allah menitipkan akal kepada manusia untuk bisa dipergunakan dan menjadi panduan dalam mengelola kehidupan di dunia ini. Namun, akal manusia berbeda-beda dan sangat terbatas, sehingga perlu adanya panduan yang sempurna, yakni wahyu Sang Pencipta. Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya, jadi Dia pulalah yang berhak untuk menentukan panduannya.
Panduan yang kedua adalah Alquran. Alquran, sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat adalah kitab petunjuk bagi orang yang bertakwa, beriman, muslim, dan manusia secara umum. Allah berfirman:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ.
 “Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2).
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ.
 “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Alquran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. An-Nahl [16]: 64).
Untuk orang Islam, Allah berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (Islam).” (QS. An-Nahl [16]: 89).
Untuk manusia secara umum, Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).
Dari ayat-ayat di atas, jelas bahwa Alquran adalah kitab petunjuk kepada siapa saja. Selayaknya sebagai kitab panduan dalam hidup ini, pastinya kitab tersebut dapat dipahami oleh pembacanya, tidak hanya sekedar dibaca tanpa makna. Allah berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24).
Dalam ayat lain, Allah berfirman:

كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته ، و ليتذكر أولو الألباب

 “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad [38]: 29).
Tidak jarang, para sahabat dan bahkan Nabi sendiri pun menangis ketika membaca atau mendengarkan Alquran. Hal ini hanya terjadi ketika Aquran diresapi dan direnungkan.
Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah Hadis:
قال النبي لابن عباس: اقرأ علي القرآن. قلت:  يا رسول الله أقرأ عليك وعليك أنزل؟ قال: إني أشتهي أن أسمعه من غيري . فقرأت عليه سورة النساء حتى بلغت : فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد ، وجئنا بك على هؤلاء شهيدا. قال لي كف او امسك، فإذا عيناه تذرفان.
Rasul bersabda kepada Abdullah bin Abbas, “Bacakanlah Alquran kepadaku?” Lalu Ibnu Mas`ud menjawa, “Bagaimana aku membacakannya kepadamu, sedangkan ia turun kepadamu!? Nabi menjawab, “Sungguh aku ingin mendengarnya dari selainku.” Lalu Ibnu Abbas membaca surat an-Nisa, ketika sampai pada ayat 41, “Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” Kemudian Rasul memerintahkan, “Cukup!” Dan aku lihat air matanya mengalir.”
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa menangis dalam membaca Alquran adalah sifat orang Arif dan tanda orang saleh. Imam al-Ghazali juga berkomentar bahwa menangis ketika membaca dan mendengarkan Alquran disunatkan. Untuk mencapai hal itu haruslah ia menghadirkan hati dengan perenungan sehingga timbul rasa sedih dan takut terhadap janji dan ancaman Allah dalam Alquran. Jika hal ini tidak ada, maka itu adalah musibah yang sangat besar.   

Bukti lain bahwa Alquran sebagai pedoman bagi manusia adalah diturunkan Alquran dengan menggunakan bahasa manusia, dalam hal ini adalah bahasa Arab. Allah memilih bahasa Arab sebagai sarana untuk berbicara kepada manusia bukan tanpa alasan. Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya dan unik. Hal ini terlihat, antara lain, dalam menetapkan feminim dan maskulin, bilangan tunggal, dua, dan plural, serta kekayaan kosakata dan sinonimnya, yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Sinonim dalam bahasa Arab tidak selalu sepenuhnya bermakna sama. Sebagai contoh, antara kata ‘jalasa’ dan ‘qa`ada’ sama-sama bermakna duduk, tetapi penggunaannya berbeda. Jika lawan bicara dalam kondisi berdiri dan kita ingin memerintahkannya duduk, keliru ketika kita menggunakan bentuk perintah dari ‘jalasa’, yakni ‘ijlis’, karena kata ini digunakan untuk memerintahkan seseorang yang sedang berbaring agar ia duduk. Kata yang tepat digunakan adalah ‘uq`ud’ sebagai bentuk perintah dari ‘qa`ada.’ Demikian penjelasan Quraish Shihab.
Qurash Shihab menjelaskan lagi bahwa betapa paham pun seseorang tentang kadaan mitra bicaranya, ia tidak mungkin dapat memberi bimbingan kalau orang itu tidak mampu menjelaskan kandungan bimbingannya. Selanjutnya, betapa pun kemampuan seseorang memberi bimbingan, tetapi kalau bahasa yang digunakan tidak mampu menampung semua ide yang hendak disampiaknnya, maka bimbingan tidak akan mengena, bahkan boleh jadi disalahpahami.
Selanjutnya, Quraish melanjutkan, betapa pun kedua hal di atas telah terpenuhi, ini pun belum menjadi jaminan bagi dipahaminya bimbingan tersebut oleh yang dibimbing. Karena itu di samping bahasa lisan, dibutuhkan juga bahasa contoh atau permisalan, bahkan di samping pengulangan dan peragamannya. Hal ini semua terpenuhi dengan pemilihan bahasa yang digunakan Alquran. Allah berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَــاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُـــــونَ

 “Sesungguhnya Kami menjadikan Alquran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf [43]: 3).
            Untuk itu, umat Islam harus mengembalikan fungsi Alquran sebagai kitab petunjuk dalam kehidupannya, supaya tepat guna.
            Namun demikian, bukan berarti membaca Alquran tidak bermanfaat sama sekali. Dalam bukunya Mukjizat al-Qur’an, Quraish Shihab melaporkan bahwa sejumlah peneliti setelah melakukan observasi dengan alat-alat elektronik canggih guna mengukur perubahan-perubahan fisiologis terhadap sejumlah sukarelawan sehat yang sedang mendengar dengan tekun ayat-ayat Alquran. Mereka terdiri dari orang-orang muslim dan non-muslim, yang mengerti bahasa Arab dan yang tidak mengerti. Hasil pengamatan membuktikan adanya pengaruh yang menenangkan hingga mencapai 97 %. Hasil pengamatan ini telah dilaporkan pada konferensi tahunan XVII Organisasi Kedokteran Islam Amereika Utara yang diselenggarakan di Santa Lusia Agustus 1984.
            Jangankan membaca, mendengarkan Alquran saja dapat menjadikan iman bertamabah. Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal [8]: 2).
Yang dibutuhkan di sini, menurut Quraish Shihab adalah kesadaran tentang kebesaran Allah dan kebenaran firman-firman-Nya. Sebab itu, Allah memerintahkan kepada manusia untuk diam dan mendengarkan bacaan-bacaan ayat Alquran. Allah berfirman:
وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون
“Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A`raf [7]: 204).
            Selain itu, Nabi Muhammad menjelaskan bahwa hanya dengan membaca Alquran, si pembaca akan mendapatkan pahala yang berlipat. Rasul bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.
“Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran, maka baginya satu kebaikan yang dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas`ud). Dalam salah satu riwayat dijelaskan bahwa membaca satu huruf Alquran mendapat sepuluh kebaikan dan dapat menghapus sepuluh keburukan.
            Dalam hadis yang lain, Nabi bersabda:
الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران
“Orang yang mahir membaca Alquran, ia bersama para penghuni surga yang mulia. Dan orang yang terbatah dalam membaca Alquran, baginya dua pahala.” (HR. Muslim dari `Aisyah).
            Jika dilihat para sahabat Nabi dalam membaca Alquran, mereka sangat ambisius. Alquran dikhatamkan hanya dalam beberapa hari. Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis bahwa Nabi bertanya kepada Abdullah bin Amr, “Bagaimana engkau puasa?” Abdullah bin Amr menjawab, “Aku puasa setiap hari.” Rasul bertanya lagi, “Bagaimana dengan mengkhatamkan Alquran?” Dia menjawab, “Aku mengkhatamkan Alquran dalam satu malam.” Mendengarkan keterangan tersebut, Rasul memerintahkan, “Puasalah dalam satu bulan tiga hari, dan khatamkannlah Alquran satu kali dalam satu bulan.” Abdullah bin Amr berkata, “Aku sanggup lebih baik dari itu.” Nabi bersabda, “Puasalah tiga hari dalam satu jumat.” Abdullah bin Amr kembali berkata, “Aku sanggup lebih banyak dari itu.” Nabi kembali bersabda, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Nabi Daud; satu hari puasa, satu hari berbuka. Lalu khatamkanlah Alquran satu kali dalam satu minggu.”
            Dalam riwayat Abu Daud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i dijelaskan bahwa Rasul memerintahkan untuk membaca Alquran dalam empat puluh hari, jika sanggup, dalam sebulan, dua puluh hari, lima belas hari, sepuluh hari, atau satu minggu. Dalam berbagai keterangan dari para sahabat seperti Ibnu Mas`ud, “Bacalah Alquran dalam tujuh hari, dan jangan engkau baca Alquran di bawah tiga hari.” Menurut `Aisyah bahwa Nabi tidak pernah mengkhatamkan Alquran di bawah tiga hari. Abdullah bin Amr kembali menjelaskan bahwa membaca Alquran di bawah tiga hari adalah bacaan yang tidak dapat direnungi. Namun, menurut Imam an-Nawawi bahwa batasan hari ini sesuai dengan kemampuan seseorang dalam memahami Alquran itu sendiri. Demikian tulis Imam Ibnu Hajar al-`Asqalani dalam Fath al-Bari.
            Tidak ada kitab yang lebih pantas dibaca dan dipelajari di dunia ini, selain Alquran. Nabi bersabda:

خيركم من تعلم القرآن وعلمه .

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” Dalam salah satu riwayat dengan menggunakan ‘atau’ sebagai pengganti ‘dan.’ Hal ini berarti, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran atau mengajarkannya.”
            Dalam hadis yang lain, Rasul bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ؛ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ.
“Perumpamaan orang beriman yang membaca Alquran seperti buah Utrujjah; baunya enak dan rasanya nikmat. Perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Alquran seperti buah tamar (kurma); tidak berbau dan rasanya nikmat. Perumpamaan orang munafik (dalam salah satu riwayat para pendosa) membaca Alquran ibarat buah Raihanah; baunya enak rasanya pahit. Perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah Hanzhalah; yang tidak berbau dan rasanya pahit.” (HR. Muslim dari Abu Musa al-`Asy`ari).
             
Hadis lain, Nabi bersabda:

إن هذا القرآن مأدبة الله فتعلموا من مأدبته ما استطعتم.

“Sungguh, Alquran ini adalah hidangan Allah, maka belajarlah dari hidangan Allah ini semampumu.”
            Semoga kita dapat menjadikan Alquran sebagai teman dan pedoman, serta bacaan prioritas dalam kehidupan kita. Amin[].

Minggu, 22 April 2012

Berzikir Kepada Allah: Penjelasan Ayat 205


Muhammad Arifin Jahari
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A`râf [7]: 205).
            Dari ayat di atas, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad tiga hal: pertama, menyebut dan mengingat Allah dalam hatinya dengan rendah diri dan rasa takut serta tidak mengeraskan suara. Dalam sebuah hadis dijelaskan:
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَجْهَرُونَ بِالتَّكْبِيرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ.
            “Dari Abû Mûsâ al-Asy`ari, beliau berkata, “Kami bersama Nabi saw dalam sebuah perjalanan, lalu orang-orang bertakbir dengan semangat dan suara yang keras. Nabi saw bersabda, “Hai manusia, kasihanilah diri kalian! Kamu tidak menyeru Tuhan yang tuli dan ghaib, tapi kamu menyeru Tuhan Yang Maha Mendengar dan Mahadekat, Dia bersama kalian.” (HR. Muslim dan al-Bukhâri).
            Baginda Muhammad saw kembali bersabda:
عَنْ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيُّ وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي.
            “Dari Sa`d bin Mâlik, Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir khafiy, dan sebaik-baik rezki adalah sesuatu yang memadai.” (HR. Ahmad).
            Ayat dan hadis di atas jelas melarang dzikir dengan suara keras, namun bukan tanpa suara. Karena Allah berfirman:
“Katakanlah, “Serulah Allah atau Ar-Rahmân. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmâ’ul Husnâ; dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam doamu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra’ [17]: 110). Selain doamu, kata صَلاَتِكَ di ayat ini diartikan juga sebagai shalatmu. Makna yang mana saja sah, dan termasuk dalam dzikir kepada Allah.
Dalam hadis dijelaskan:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنْ ذَكَرْتَنِي فِي نَفْسِكَ ذَكَرْتُكَ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرْتَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُكَ فِي مَلَإٍ مِنْ الْمَلَائِكَةِ أَوْ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ.
“Dari Anas, Rasul saw bersabda, “Allah SWT berfirman, “Wahai anak cucu Adam, jika kamu mengingat-Ku dalam dirimu, Aku mengingatmu dalam diri-Ku. Jika kamu mengingat-Ku dalam keramaian, Aku mengingatmu dalam keramaian dari Malaikat, atau keramaian yang lebih mulia.” (HR. Ahmad). 
Imam Fakhruddîn ar-Râzî meriwayatkan komentar Ibnu Abbas tentang ayat 205 surat al-A`râf, yang dimaksud di sana adalah dzikir lisan/suara yang didengar oleh dirinya sendiri. Dzikir tersebut akan berdampak positif atau menguatkan dzikir hati.[1] Dzikir yang seperti ini akan menimbulkan keikhlasan, kerendahdirian, dan menimbulkan rasa takut kepada Allah SWT.[2]
            Kedua, jangan lalai untuk mengingat Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh banyak ulama, kata الغُدُو dan  الآصَالbermakna terus menerus.[3] Makna ini sama dengan firman Allah:
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring.” (QS. Ali Imrân [3]: 191). Artinya berdzikir dalam semua keadaan.
            Makna ini diperkuat lagi oleh penggalan terakhir, “dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” Imam Fakhruddîn ar-Râzî menegaskan bahwa wajib bagi Nabi Muhammad untuk mengingat Allah, merasakan kebesaran dan keagungan Allah dalam hatinya di setiap detik kehidupannya.[4]
            Menurut Muhammad Amin al-Urami al-Harari penggunaan kata الغُدُو dan  الآصَال memiliki tujuan tertentu. Kata al-ghuduw bermakna waktu dari mulai terbit fajar sampai terbit matahari. Pada waktu ini manusia bangun dari tidurnya, diharapkan ketika memulai harinya, manusia harus mengingat Tuhannya, supaya aktifitasnya pada hari itu diberkati oleh Allah SWT. Sedangkan kata al-âshâl bermakna waktu dari mulai Ashr sampai tenggelam matahari. Pada waktu ini manusia bersiap-siap untuk tidur dan istirahat, dan tidur adalah saudara mati, diharapkan kepada manusia untuk ingat kepada Allah, karena jangan-jangan pada tidurnya ia meninggal dunia.[5]
            Perintah dalam ayat ini, walaupun ditujukan kepada Baginda Muhammad saw, juga ditujukan kepada umatnya berdasar level dan kemampuannya. Karena Nabi saw adalah suri teladan yang harus diikuti.
             Ketiga, dari penggalan pertama ayat ini, “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu”, para mufassir mensyaratkan dzikir harus dengan kesadaran dan hati diikutsertakan. Muhammad Amin al-Urami al-Harari menjelaskan bahwa faidah dzikir adalah hadirnya hati dan merasakan keagungan Allah SWT. Jadi siapa yang berdzikir tidak mengikutkan hati, maka dzikirnya tidak bermanfaat. Banyak sekali orang berdzikir, tapi tidak mengenal Allah, tidak merasa bahwa Allah sedang mengawasinya. Melalui ayat ini, mestilah seorang hamba berdzikir dengan lisannya dan hatinya secara bersamaan.[6] Imam Fakhruddîn ar-Râzî menegaskan hal ini, bahkan beliau menambah argumennya, bahwa ulama fiqih sepakat ketika seseorang mengucapkan akad yang tidak dipahaminya maka akad tersebut tidak sah, begitu juga dzikir tegas beliau.[7]
 
            Namun demikian, bukan berarti ketika dzikir tidak di hati, lalu kita meninggalkan dzikir itu sendiri, kita haruslah berfikir seperti pepatah, tidak ada rotan akar pun jadi, terlambat lebih baik dari tidak sama sekali. Imam Ibnu `Athaillâh as-Sakandari berkata dalam kitabnya al-Hikam:
لاَ تَتْرُكِ الذِّكْرَ ِلعَدَمِ حُضُوْرِ قَلْبِكَ مَعَ اللهِ فِيْه، لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُوْدِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِيْ وُجُوْدِ ذِكْرِهِ، فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ غَفْلَةٍ إِلىَ ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ يَقْظَةٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ يَقْظَةٍ إِلىَ ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ حُضُوْرٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ حُضُوْرٍ إِلىَ ذِكْرٍ مَعَ غَيْبَةٍ عَمََّا سِوَى اْلمَذْكُوْرِ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ.
            “Jangan tinggalkan dzikir lantaran hatimu tidak bisa berkonsentrasi kepada Allah saat berdzikir. Sebab, kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berdzikir lebih buruk daripada kelalaianmu saat berdzikir. Semoga Allah berkenan mengangkat derajatmu dari dzikir yang penuh dengan kelalaian menuju dzikir yang penuh dengan kesadaran; dan dzikir yang penuh dengan kesadaran menuju dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya. Juga dari dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya menuju dzikir yang meniadakan segala sesuatu selain-Nya. Dan yang demikian itu bagi Allah bukanlah merupakan sesuatu yang sulit.”
Agak sedikit berbeda dengan tafsir di atas, Imam Ibn al-`Arabi memahami ayat ini secara khusus, yakni berkenaan dengan shalat. Agaknya beliau menyamakan kasus ayat ini dengan ayat 204 di atas, yang sama-sama berkenaan dengan shalat. Menurutnya, ayat “dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu,” berkenaan dengan shalat jahriyah, artinya dalam shalat jahriyah menyebut dan mengingat Allah dalam hati. Sedangkan ayat, “dan dengan tidak mengeraskan suara,” berkenaan dengan shalat sirriyah, yang ketika berdzikir dan membaca bacaan shalat hanya didengar oleh dirinya dan orang disebelahnya.[8]
Imam as-Samarqandi mempertegas penafsiran ini dengan mengutip pernyataan adh-Dhahhâk bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah keraskan bacaan pada shalat Ghuduw, Maghrib, dan `Isya’, dan janganlah kamu lalai untuk membaca dengan pelan pada shalat Zhuhur dan `Ashr.[9] Penafsiran seperti ini penuh dengan pertanyaan, karena – sepanjang pembacaan penulis – tidak ada satu riwayat pun dari Nabi atau sahabat yang menjelaskan ayat ini berkenaan dengan shalat, apalagi adanya pembedaan antara jahriyah atau sirriyah dalam satu ayat.

Senin, 09 April 2012

Dengarkanlah Alquran: Penjelasan Surat al-A`raf Ayat 204


Muhammad Arifin Jahari

Allah Berfirman:
وَ إِذا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A`râf [7]: 204).
Sekilas, ayat ini memerintahkan untuk mendengarkan dan memerhatikan bacaan Alquran. Hal ini berdasarkan pada kata اسْتَمِعُوا dan أَنْصِتُوا dengan menggunakan fi`l amr (kata perintah). Namun, ulama berbeda pendapat tentang ketegasan, kondisi dan objek perintah dalam ayat tersebut. Perbedaan itu dapat disimpulkan dalam beberapa poin sebagai berikut:
1. Banyak ulama memahami ayat di atas secara khusus, yakni mengaitkannya dengan asbâb an-nuzûl. Dalam hal ini, ada dua kumpulan riwayat yang menjelaskan tentang sebab turunnya. Pertama, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan bacaan imam dalam shalat. Artinya, ketika imam membaca ayat Alquran, makmum harus diam dan mendengarkan.[1] Imam as-Suyûthi (849-911 H) dalam tafsirnya ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma’tsûr, menyebukan banyak riwayat menjelaskan hal ini, diantaranya:
عَنْ أَبِي هُرَيرَة فِي قَولِه: وَإِذَا قُرِىءَ القُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا، قَالَ: نَزَلَتْ فِي رَفْعِ الأَصْوَات، وَهُمْ خَلْفَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فِي الصَّلاَة.
            “Dari Abû Hurairah, beliau berkata mengenai ayat, “Apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah dan diamlah” (QS. Al-A`râf [7]: 204), ayat ini turun ketika para jamaah mengangkat suara dibelakang Nabi dalam shalat. Hadis ini dikeluarkan oleh Ibnu Jarîr, Ibnu Abî Hâtim, al-Baihaqî, dan Ibnu `Asâkir.[2]
Imam Ahmad menerangkan bahwa umat Islam sepakat tentang surat al-A`râf ayat 204 ini berkenaan dengan bacaan shalat.[3] Bahkan Ibnu Abbâs pernah ditanya mengenai ayat tersebut, apakah ayat ini dipahami secara umum, beliau menjawab bahwa ayat ini khusus dalam shalat wajib.[4]
            Kedua, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan shalat dan bacaan khatib dalam khutbah jumat dan atau khutbah `idul fitri dan adha. Riwayat yang menjelaskan hal ini adalah:
عَنْ ابْنِ عَبَّاس فِي قَولِه: وَإِذَا قُرِىءَ القُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَه وَأَنْصِتُوا، قَالَ: نَزَلَتْ فِي رَفْعِ الأَصْوَات خَلْفَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فِي الصَّلاَة، وَفِي الخُطْبَةِ لِأَنَّهَا صَلاَةٌ، وَقَالَ: مَنْ تَكَلَّّمَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ.
            “Dari Ibnu Abbâs, beliau berkomentar tentang ayat, “Apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah dan diamlah” (QS. Al-A`râf [7]: 204), ayat ini turun ketika para jamaah mengangkat suara dibelakang Nabi dalam shalat dan khutbah, karena khutbah adalah shalat. Nabi bersabda, “Siapa yang berbicara pada hari Jum’at sedangkan imam berkhutbah, maka tidak ada shalat baginya.” Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Mardawaih dan al-Baihaqi.[5]
            Pendapat ini diusung oleh Mujahid, namun menurut Imam Ibn al-`Arabi, pendapat ini lemah, karena membaca Alquran dalam khutbah sangat sedikit, sedangkan perintah untuk diam dan mendengarkan dari mulai awal khutbah sampai akhirnya.[6] Imam as-Samarqandî menjelaskan bahwa Mujahid berpendapat, ayat tersebut bukan hanya berkenaan dengan khutbah saja, tapi juga berkenaan dengan bacaan imam dalam shalat. Bahkan jelas bahwa Mujahid berpendapat boleh berbicara ketika orang membaca Alquran di luar shalat.[7]
            2. Kumpulan ulama al-Azhar yang tergabung dalam penulisan Tafsîr al-Wasîth menjelaskan bahwa wajib hukumnya bagi orang yang ada dalam suatu halaqah Alquran untuk diam dan mendengarkan bacaan Alquran.[8] Oleh pengarang tafsir, ayat ini dimaknai secara khusus walau tanpa ada penjelasan apa yang mengkhususkannya. Namun demikian, makna ini cukup bagus untuk diikut, karena tidak wajar jika Alquran dibacakan, orang yang ada dalam halaqah tersebut sibuk dengan urusan yang lain.
            Muhammad Amin al-Urami al-Harari menjelaskan bahwa sangat dibenci (makrûh syadîdah) orang yang tidak mendengarkan bacaan Alquran pada halaqah yang mana Alquran dibacakan. Lebih tegas beliau menambahkan bahwa tidak boleh membaca Alquran pada kumpulan orang yang tidak mau mendengarkannya.[9]
            3. Sementara ulama memahami ayat di atas secara umum. Artinya, dalam kondisi apa pun, kaum muslimin dianjurkan untuk mendengarkan dan diam ketika Alquran dibacakan. Hal ini dipahami dari kata إذَا (apabila) dan قُرِئَ (dibacakan), yakni fi`il mâdhî majhûl. Maknanya, dalam kondisi apa pun dan siapa pun yang membaca Alquran, dianjurkan untuk mendengarkannya dan diam merenunginya. Sebuah kaidah tafsir mengatakan:
العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب.
            “Yang menjadi `ibrah adalah keumuman lafalnya, bukan kekhususan sebab turunnya.”
Dalam footnote terjemahan Alquran Departemen Agama RI dijelaskan, “Jika dibacakan Alquran, kita diwajibkan mendengarkan dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.”[10] Imam Fakhruddîn ar-Râzi menjelaskan bahwa pendapat ini dianut oleh al-Hasan dan Ahli Zhahir. Dari pendapat ini, wajib bagi siapa pun yang mendengar bacaan Alquran untuk mendengarnya dan diam, termasuk orang yang berada dalam perjalanan atau dalam proses pendidikan.[11] Hal yang sama juga dipertegas oleh al-Qâsimi dalam tafsirnya Mahâsin at-Ta’wîl. Beliau menambahkan pendapat ini juga dianut oleh Abû Muslim al-Ashfahâni.[12]
 Namun, tidak sedikit ulama yang berpendapar demikian, ayat tersebut berlaku umum, tapi mereka menjelaskan bahwa perintah pada kata اسْتَمِعُوا dan أَنْصِتُوا tidak tegas, sehingga hukumnya tidak sampai wajib, hanya sekedar anjuran. Karena, jika diwajibkan pastilah perintah tersebut sulit untuk dijalankan dan membawa pada masyaqqah dalam hukum Islam, padahal Islam adalah agama yang mudah. Berkenaan dengan penjelasan ini, Imam Muhammad ath-Thâhir Ibn `Âsyûr menjelaskan bahwa tidak ada satu orang pun yang mewajibkan bagi seseorang yang sibuk dengan pekerjaannya untuk mendengarkan Alquran yang dibacakan.[13] Ini juga dipertegas oleh Quraish Shihab, beliau menjelaskan bahwa ulama sepakat memahami perintah tersebut bukan dalam arti mengharuskan setiap yang mendengar ayat Alquran harus benar-benar tekun mendengarnya. Betapapun penghormatan kepada Alquran mengharuskan kita mendengarnya kapan dan di mana saja ia dibacakan, sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dihadapi dan dalam keadaan yang tidak menyulitkan atau memberatkan.[14]
4. Selain itu, ada juga ulama yang menganggap ayat tersebut khusus buat orang kafir. Pemahaman seperti ini dapat terjelasakan dari ilmu manâsabât (korelasi) antarayat. Imam Fakhruddîn ar-Râzî menjelaskan bahwa besar kemungkinan ayat tersebut ditujukan kepada orang kafir. Hal ini dapat dibuktikan dari ayat sebelumnya, yakni ayat 203, yang berbicara tentang orang kafir yang meminta kepada Nabi Muhammad untuk mendatangkan mukjizat. Lalu Nabi menjelaskan bahwa dia hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya berupa Alquran, maka ketika Alquran dibacakan, diam dan dengarkanlah baik-baik, supaya kamu tahu bahwa Alquran itu sendiri adalah mukjizat dari Allah SWT.[15] Pada ayat 203 Allah berfirman:
وَإِذا لَمْ تَأْتِهِمْ بِآيَةٍ قالُوا لَوْ لا اجْتَبَيْتَها قُلْ إِنَّما أَتَّبِعُ ما يُوحى إِلَيَّ مِنْ رَبِّي هذا بَصائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدىً وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Dan apabila kamu tidak membawa suatu mukjizat kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri mukjizat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Alquran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A`râf [7]: 203). Kata آية di sini diterjemahkan oleh Imam Fakhruddîn ar-Râzî sebagai mukjizat, yang tidak menutup kemungkinan bermakna ayat Alquran, yang konon adalah mukjizat itu sendiri. 
Imam Fakhruddîn ar-Râzî ingin menegaskan bahwa antara ayat 203 dan ayat 204 memiliki hubungan yang sangat erat. Jika dipahami ayat 204 ini dengan tiga pemahanan di atas, menurut beliau, susunan ayat Alquran akan menjadi kacau, dan hal ini tidak layak buat firman Allah Yang Mahasuci. Jika dilihat dari munâsabât (korelasi) ayat, penafsiran seperti ini sangat dapat diterima. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Imam Muhammad ath-Thâhir Ibn `Âsyûr bahwa ayat tersebut sangat erat kaitannya dengan ayat sebelumnya, jadi ayat tersebut ditujukan kepada orang kafir. Namun, beliau tidak menutup kemungkinan bahwa ayat ini juga ditujukan kepada orang Islam.[16]
Keempat pendapat di atas tidaklah saling bertentangan, tapi saling melengkapi dan menguatkan adab kita kepada Alquran. Oleh karena tidak saling bertentangan, maka yang mana saja sah untuk dijadikan panutan, namun yang lebih baik adalah menggabung semua pendapat di atas.

Selain itu, dari ayat 204 surat al-A`râf ini juga menerangkan bahwa orang yang diam dan mendengarkan bacaan Alquran akan mendapat Rahmat dari Allah SWT. Di penghujung ayat, Allah berfirman, “agar kamu mendapat rahmat.” Banyak hadis Nabi saw yang menjelaskan fadhilah mendengarkan bacaan Alquran. Diantaranya, Nabi bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَن اسْتَمَعَ إِلَى آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى كُتِبَ لَهُ حَسَنَةٌ مُضَاعَفَةٌ وَمَنْ تَلَاهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Dari Abû Hurairah, Rasul saw bersabda, “Siapa yang mendengar bacaan ayat Alquran, Allah akan menetapkan baginya kebaikan yang berlipat ganda. Dan siapa yang membaca ayat Alquran, baginya cahaya di hari Kiamat.” (HR. Ahmad).


[1] Berkenaan dengan mendengarkan dan diamnya makmum dalam shalat berjamaah, ulama berbeda pendapat. Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menerangkan hal ini dalam bukunya al-Fiqh al-Islâmiy wa Adillatuh. Menurut mazhab Hanafî, ketika imam membaca ayat Alquran, makmum wajib mendengarkan dan diam, tidak boleh membaca apa-apa. Mereka berargumen dengan surat al-A`râf ayat 204 di atas. Dari hadis, mereka berpegang dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abû Hanîfah dari Jâbir, Rasul saw bersabda, “Siapa yang shalat di belakang imam, maka bacaan imam adalah bacaannya.” Artinya si makmum tidak perlu membaca lagi. Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abû Hurairah, Rasul saw bersabda, “Imam dijadikan untuk diikut, apabila ia bertakbir maka takbirlah, apabila ia membaca Alquran maka diamlah.” Bagi mereka, hal ini berlaku untuk shalat jahriyah atau sirriyah, karena ada hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dan Muslim dari `Imrân bin Hushain yang menerangkan pelarang Rasul kepada makmum yang  membaca ayat pada shalat Zhuhur.
Menurut Jumhur Ulama, selain mazhab Hanafî, berpendapat wajib membaca surat al-Fâtihah dalam shalat, karena itu adalah rukun yang tidak boleh ditinggalkan oleh imam atau makmum. Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw yang sangat ma’ruf, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat al-Fâtihah.” Dalam riwayat Abû Dâud, at-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Hibbân dari `Ubâdah bin Shâmit, beliau bercerita, “Ketika Rasul shalat subuh, bacaannya terganggu. Setelah selesai, ia berpaling dan berkata, “Aku melihat kamu membaca sesuatu di belakang imam kamu!? Para sahabat menjawab, “Betul ya Rasulallah!” Rasul bersabda, “Janganlah kamu membaca sesuatu pun kecuali surat al-Fatihah, karena tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah.” Hal ini menjadi kesepakan antara mazhab Mâliki, Syâfi’i, dan Hanbali dalam shalat sirriyah. Adapaun dalam shalat jahriyah, mereka berbeda pendapat. Menurut Mazhab Mâliki dan Hanbali tidak boleh membaca apapun, jadi makmum wajib diam dan mendengarkan bacaan imam dalam shalat jahriyah. Sedangakan menurut Mazhab Syâfi’i, makmum wajib membaca al-Fâtihah saja dalam shalat jahriyah, sedangkan surat sunat tidak diperbolehkan.

Daftar Pustaka
Abû Bakar Muhammad bin Abdullâh (Ibn al-`Arabî), Tafsîr Ahkâm al-Qur’ân, Bairut: Dâr al-Jail, tt.
Abû Laits Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrâhîm as-Samarqandî (w. 375 H), Tafsîr as-Samarqandî al-Musammâ bi Bahr al-`Ulûm, Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1993.
Al-Qurthubi, al-Jâmi` li Ahkâm al-Qur’ân, Kairo: Dâr al-Hadîts, 2002.
An-Nasâ’i, Sunan an-Nasâ’i, Riyâdh: Maktabah al-Ma`ârif, tt.
Fakhruddîn ar-Râzî, at-Tafsîr al-Kabîr au Mafâtîh al-Ghaib, Kairo: Maktabah at-Taufiqiyah, 2003.
Jalal ad-Din as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma’tsûr, Cairo: Markaz Hijr li al-Buhuts wa ad-Dirasat al-`Arabiyah wa al-Islamiyah, 2003.
Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Departemen Agama Republik Indonesia, al-Jumanatul Ali Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: J-ART, 2005.
Muhammad Amîn al-Uramî al-Hararî, Tafsîr Hadâ’iq ar-Rauh wa ar-Raihân fî Rawâbî `Ulûm al-Qur’ân, Bairut: Dâr ath-Thauq an-Najâh, 2001.
Muhammad Fu’âd Abdul Bâqî, al-Mu`jam al-Mufahras li Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm, Kairo: Dâr al-Hadîts, tt.
Muhammad ath-Thâhir Ibn `Âsyûr, Tafsîr at-Tahrîr wa at-Tanwîr, Tunis: Dâr as-Suhnûn, tt.
Muhammad Jamâl ad-Dîn al-Qâsimi, Tafsîr al-Qâsimî al-Musammâ Mahâsin at-Ta’wîl, Kairo: Dâr al-Hadîts, 2003.
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbâh: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hari, 2002.
Rusydî al-Badrâwi, Qashash al-Anbiyâ’ wa at-Târîkh: Khâtim al-Anbiyâ’ Muhammad Shallallâh `alaih wa Sallam, Kairo: Jazîrah International, 2004.
Tim Penyusun, Tafsîr al-Wasîth li al-Qur’ân al-Karîm, Kairo: Hai’ah al-`Âmmah li Syu’ûn al-Mathâbi’ al-Amîriyah, 1977.
Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiy wa Adillatuh, Damasukus: Dâr Fikr, 2007.