Minggu, 22 April 2012

Berzikir Kepada Allah: Penjelasan Ayat 205


Muhammad Arifin Jahari
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A`râf [7]: 205).
            Dari ayat di atas, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad tiga hal: pertama, menyebut dan mengingat Allah dalam hatinya dengan rendah diri dan rasa takut serta tidak mengeraskan suara. Dalam sebuah hadis dijelaskan:
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَجْهَرُونَ بِالتَّكْبِيرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ.
            “Dari Abû Mûsâ al-Asy`ari, beliau berkata, “Kami bersama Nabi saw dalam sebuah perjalanan, lalu orang-orang bertakbir dengan semangat dan suara yang keras. Nabi saw bersabda, “Hai manusia, kasihanilah diri kalian! Kamu tidak menyeru Tuhan yang tuli dan ghaib, tapi kamu menyeru Tuhan Yang Maha Mendengar dan Mahadekat, Dia bersama kalian.” (HR. Muslim dan al-Bukhâri).
            Baginda Muhammad saw kembali bersabda:
عَنْ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيُّ وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي.
            “Dari Sa`d bin Mâlik, Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir khafiy, dan sebaik-baik rezki adalah sesuatu yang memadai.” (HR. Ahmad).
            Ayat dan hadis di atas jelas melarang dzikir dengan suara keras, namun bukan tanpa suara. Karena Allah berfirman:
“Katakanlah, “Serulah Allah atau Ar-Rahmân. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmâ’ul Husnâ; dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam doamu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra’ [17]: 110). Selain doamu, kata صَلاَتِكَ di ayat ini diartikan juga sebagai shalatmu. Makna yang mana saja sah, dan termasuk dalam dzikir kepada Allah.
Dalam hadis dijelaskan:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنْ ذَكَرْتَنِي فِي نَفْسِكَ ذَكَرْتُكَ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرْتَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُكَ فِي مَلَإٍ مِنْ الْمَلَائِكَةِ أَوْ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ.
“Dari Anas, Rasul saw bersabda, “Allah SWT berfirman, “Wahai anak cucu Adam, jika kamu mengingat-Ku dalam dirimu, Aku mengingatmu dalam diri-Ku. Jika kamu mengingat-Ku dalam keramaian, Aku mengingatmu dalam keramaian dari Malaikat, atau keramaian yang lebih mulia.” (HR. Ahmad). 
Imam Fakhruddîn ar-Râzî meriwayatkan komentar Ibnu Abbas tentang ayat 205 surat al-A`râf, yang dimaksud di sana adalah dzikir lisan/suara yang didengar oleh dirinya sendiri. Dzikir tersebut akan berdampak positif atau menguatkan dzikir hati.[1] Dzikir yang seperti ini akan menimbulkan keikhlasan, kerendahdirian, dan menimbulkan rasa takut kepada Allah SWT.[2]
            Kedua, jangan lalai untuk mengingat Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh banyak ulama, kata الغُدُو dan  الآصَالbermakna terus menerus.[3] Makna ini sama dengan firman Allah:
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring.” (QS. Ali Imrân [3]: 191). Artinya berdzikir dalam semua keadaan.
            Makna ini diperkuat lagi oleh penggalan terakhir, “dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” Imam Fakhruddîn ar-Râzî menegaskan bahwa wajib bagi Nabi Muhammad untuk mengingat Allah, merasakan kebesaran dan keagungan Allah dalam hatinya di setiap detik kehidupannya.[4]
            Menurut Muhammad Amin al-Urami al-Harari penggunaan kata الغُدُو dan  الآصَال memiliki tujuan tertentu. Kata al-ghuduw bermakna waktu dari mulai terbit fajar sampai terbit matahari. Pada waktu ini manusia bangun dari tidurnya, diharapkan ketika memulai harinya, manusia harus mengingat Tuhannya, supaya aktifitasnya pada hari itu diberkati oleh Allah SWT. Sedangkan kata al-âshâl bermakna waktu dari mulai Ashr sampai tenggelam matahari. Pada waktu ini manusia bersiap-siap untuk tidur dan istirahat, dan tidur adalah saudara mati, diharapkan kepada manusia untuk ingat kepada Allah, karena jangan-jangan pada tidurnya ia meninggal dunia.[5]
            Perintah dalam ayat ini, walaupun ditujukan kepada Baginda Muhammad saw, juga ditujukan kepada umatnya berdasar level dan kemampuannya. Karena Nabi saw adalah suri teladan yang harus diikuti.
             Ketiga, dari penggalan pertama ayat ini, “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu”, para mufassir mensyaratkan dzikir harus dengan kesadaran dan hati diikutsertakan. Muhammad Amin al-Urami al-Harari menjelaskan bahwa faidah dzikir adalah hadirnya hati dan merasakan keagungan Allah SWT. Jadi siapa yang berdzikir tidak mengikutkan hati, maka dzikirnya tidak bermanfaat. Banyak sekali orang berdzikir, tapi tidak mengenal Allah, tidak merasa bahwa Allah sedang mengawasinya. Melalui ayat ini, mestilah seorang hamba berdzikir dengan lisannya dan hatinya secara bersamaan.[6] Imam Fakhruddîn ar-Râzî menegaskan hal ini, bahkan beliau menambah argumennya, bahwa ulama fiqih sepakat ketika seseorang mengucapkan akad yang tidak dipahaminya maka akad tersebut tidak sah, begitu juga dzikir tegas beliau.[7]
 
            Namun demikian, bukan berarti ketika dzikir tidak di hati, lalu kita meninggalkan dzikir itu sendiri, kita haruslah berfikir seperti pepatah, tidak ada rotan akar pun jadi, terlambat lebih baik dari tidak sama sekali. Imam Ibnu `Athaillâh as-Sakandari berkata dalam kitabnya al-Hikam:
لاَ تَتْرُكِ الذِّكْرَ ِلعَدَمِ حُضُوْرِ قَلْبِكَ مَعَ اللهِ فِيْه، لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُوْدِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِيْ وُجُوْدِ ذِكْرِهِ، فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ غَفْلَةٍ إِلىَ ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ يَقْظَةٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ يَقْظَةٍ إِلىَ ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ حُضُوْرٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُوْدِ حُضُوْرٍ إِلىَ ذِكْرٍ مَعَ غَيْبَةٍ عَمََّا سِوَى اْلمَذْكُوْرِ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ.
            “Jangan tinggalkan dzikir lantaran hatimu tidak bisa berkonsentrasi kepada Allah saat berdzikir. Sebab, kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berdzikir lebih buruk daripada kelalaianmu saat berdzikir. Semoga Allah berkenan mengangkat derajatmu dari dzikir yang penuh dengan kelalaian menuju dzikir yang penuh dengan kesadaran; dan dzikir yang penuh dengan kesadaran menuju dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya. Juga dari dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya menuju dzikir yang meniadakan segala sesuatu selain-Nya. Dan yang demikian itu bagi Allah bukanlah merupakan sesuatu yang sulit.”
Agak sedikit berbeda dengan tafsir di atas, Imam Ibn al-`Arabi memahami ayat ini secara khusus, yakni berkenaan dengan shalat. Agaknya beliau menyamakan kasus ayat ini dengan ayat 204 di atas, yang sama-sama berkenaan dengan shalat. Menurutnya, ayat “dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu,” berkenaan dengan shalat jahriyah, artinya dalam shalat jahriyah menyebut dan mengingat Allah dalam hati. Sedangkan ayat, “dan dengan tidak mengeraskan suara,” berkenaan dengan shalat sirriyah, yang ketika berdzikir dan membaca bacaan shalat hanya didengar oleh dirinya dan orang disebelahnya.[8]
Imam as-Samarqandi mempertegas penafsiran ini dengan mengutip pernyataan adh-Dhahhâk bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah keraskan bacaan pada shalat Ghuduw, Maghrib, dan `Isya’, dan janganlah kamu lalai untuk membaca dengan pelan pada shalat Zhuhur dan `Ashr.[9] Penafsiran seperti ini penuh dengan pertanyaan, karena – sepanjang pembacaan penulis – tidak ada satu riwayat pun dari Nabi atau sahabat yang menjelaskan ayat ini berkenaan dengan shalat, apalagi adanya pembedaan antara jahriyah atau sirriyah dalam satu ayat.

14 komentar:

  1. mohon idzin kopi,terimakasih. terimakasih semoga bermanfaat.

    BalasHapus
  2. kalau berdhikir dlam hati kan ga pakai suara. apakah disini maksudnya berdzikir dengan yang ada suaranya kali ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan tanpa suara (dalam hati) membiasakan diri dengan terus menyebut nama ALLAH dengan tidak mengeraskan suara supaya hati menjadi tentram. 😊

      Hapus
  3. Pro kontra antara dzikir jahar dan siri

    Tetapi seandainya umat mau mengikuti ulama salafus sholeh : sahabat Nabi, tabi'in tabi'ut, imam 4 Mazhab insa'Alloh tidak akan ada pro kontra.
    Dzikir itu benar
    Dzikir jahar itu juga benar dalilnya = Al-Isro’: 110 yang berbunyi : ‘Janganlah kamu mengeraskan suara dalam berdo’a dan janganlah pula kamu melirihkannya melainkan carilah jalan tengah diantara yang demikian itu’.

    Volume =
    1. Tidak bersuara (dlm hati)
    2. Bersuara lirih.
    3. Bersuara (jahar) seperti di contohkan baca takbiratul ihram, surat Al Fatihah dan surat dan dzikir setelah selesai sholat magrib isak subuh.
    4. Bersuara (jahran) : keras : hal ini tidak pernah terjadi dalam bacaan sholat dan dzikir... Kecuali hanya orang orang yang hatinya gelap yang menuduh orang orang yang berdzikir dengan suara jahar seperti yang telah saya jelaskan dalam volume no 3 dengan mengartikan jahar menjadi jahran : keras.

    BalasHapus
  4. Pro kontra antara dzikir jahar dan siri

    Tetapi seandainya umat mau mengikuti ulama salafus sholeh : sahabat Nabi, tabi'in tabi'ut, imam 4 Mazhab insa'Alloh tidak akan ada pro kontra.
    #Dzikir siri dlm hati itu benar
    #Dzikir jahar itu juga benar dalilnya = Al-Isro’: 110 yang berbunyi : ‘Janganlah kamu mengeraskan suara dalam berdo’a dan janganlah pula kamu melirihkannya melainkan carilah jalan tengah diantara yang demikian itu’.

    Volume =
    1. Tidak bersuara (dlm hati)
    2. Bersuara lirih.
    3. Bersuara (jahar) seperti di contohkan baca takbiratul ihram, baca surat Al Fatihah dan baca surat Al Qur’an dan dzikir berjama'ah setelah selesai sholat magrib isak subuh, ini berdasarkan tuntutan Al Qur’an.

    4. Bersuara (jahran) : keras : hal ini tidak pernah terjadi dalam bacaan sholat dan dzikir berjama'ah... Kecuali hanya orang orang yang hatinya gelap yang menuduh orang orang yang berdzikir berjama'ah dengan suara jahar seperti yang telah saya jelaskan dalam volume no 3 dengan mengartikan jahar menjadi jahran : keras.

    BalasHapus
  5. Pro kontra antara dzikir jahar dan siri

    Tetapi seandainya umat mau mengikuti ulama salafus sholeh : sahabat Nabi, tabi'in tabi'ut, imam 4 Mazhab insa'Alloh tidak akan ada pro kontra.
    Dzikir itu benar
    Dzikir jahar itu juga benar dalilnya = Al-Isro’: 110 yang berbunyi : ‘Janganlah kamu mengeraskan suara dalam berdo’a dan janganlah pula kamu melirihkannya melainkan carilah jalan tengah diantara yang demikian itu’.

    Volume =
    1. Tidak bersuara (dlm hati)
    2. Bersuara lirih.
    3. Bersuara (jahar) seperti di contohkan baca takbiratul ihram, surat Al Fatihah dan surat dan dzikir setelah selesai sholat magrib isak subuh.
    4. Bersuara (jahran) : keras : hal ini tidak pernah terjadi dalam bacaan sholat dan dzikir... Kecuali hanya orang orang yang hatinya gelap yang menuduh orang orang yang berdzikir dengan suara jahar seperti yang telah saya jelaskan dalam volume no 3 dengan mengartikan jahar menjadi jahran : keras.

    BalasHapus
  6. Jangan cari sumber lain masalah zikir jelas2 ada di surat al-araf205, niat dalam hati saja Allah Maha mengetahui.Realitanya sholat dan zikir pakai pengeras suara apa gak khawatir malah jadi sum'ah (ingin didengar) manusia (riya), kesannya memperlakukan Allah tidak memiliki sifat Maha Mendengar

    BalasHapus
    Balasan
    1. “Dari Ibnu Abbas beliau berkata, “Sesungguhnya mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jamaah selesai menunaikan shalat fardhu telah terjadi pada masa Rasulullah SAW.” (Shahih Bukhari, Juz III, halaman 421 [841]).

      kalau ini di lakukan di mesjid dan menggunakan pengeras suara arahnya bukan kepada Allah itu maha mendengar jdi gk perlu dngn pembesar suara. argumen anda tidak pada tempatnya.

      tujuan dngn pembesar suara supaya jamaah jelas mendengar dan mengikutinya.

      kalau persoalan ALLah maha mendengar kenapa gk sekalian pas sholat alfatihah gk di jaharkan ??? kenapa alfatihah wajib jahar pada shalat, karena ia rukun sholat dan sebagai imam harus jelas membacanya sehingga makmum mendengarnya dengan baik..

      hati2 akhi berbicara masalah hukum, jngn memahami dalil secara tekstual dan dangkal serta tidak pada tempatnya. krna itulah yg di maksud hadis ( wa syarrol umuuri muhdatsatuhaa) sejelek2 urusan adalah mengada2 alquran dan hadist, dalam arti menambah2 atau mengurang2i maksud hadist..

      gini aja lah akhi,, akhi pasti bermadzhab syafii bukan ? syafii ia berdzikir dngn jhar dan jamaah, berniat dngn lafadz, berqunut, bertahlil takhtim tahmid dan sebagainy sperti yg di lakukan oleh org2 kita selama ini..

      ayo kita cari kebenaran, karena kebenaran tidak bisa di bantah. suatu pendapat yg bisa di bantah pastilah tidak sesuai dngn maksud naqal (alquran dan hadist) karena naqal itu sangat ilmiah dan berlaku sampai hari kiamat.. jazaakallah khair

      Hapus
    2. ikut copas komennya mas Ihsan, trm kasih

      Hapus
  7. Keterangan tentang dzikir dan doa itu dengan mengeraskan suara ataupun memelankan suara :
    Dalam syariat Islam, dzikir ataupun berdoa itu dapat dilakukan secara sendiri-sendiri maupun secara berjamaah. Waktunya pun fleksibel, namun dianjurkan untuk berdzikir dan berdoa setiap selesai shalat fardhu.
    Dzikir dengan cara berjamaah :
    Apabila shalat fardhunya dilakukan secara berjamaah, maka setelah shalat berjamaah disunnatkan untuk berdzikir dan berdoa. Imam juga diperbolehkan mengeraskan suara untuk memandu jalannya dzikir dan doa secara bersama-sama, dan makmum juga mengeraskan suara untuk mengikuti dzikirnya sang imam.
    Cara semacam ini merupakan cara yang sangat utama, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Sebagai berikut :
    “Dari Abu Said Al-Khudri, Rasulullah SAW. Bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir kepada Allah, kecuali mereka akan dikelilingi malaikat. Allah akan memberikan mereka rahmat memberikan ketenangan hati dan memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisinya.” (Shahih Muslim).
    “Dari Ibnu Abbas beliau berkata, “Sesungguhnya mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jamaah selesai menunaikan shalat fardhu telah terjadi pada masa Rasulullah SAW.” (Shahih Bukhari, Juz III, halaman 421 [841]).
    Hadits shahih di atas menunjukkan bahwa membaca dzikir secara keras sudah menjadi tradisi umat Islam di masa Rasulullah SAW. Dan beliau pun melakukannya.
    Dzikir dengan cara memelankan suara :
    Adapun mengenai persoalan membaca dzikir dengan pelan terdapat hadist shahih pula, sebagai berikut:
    “Ringankanlah atas diri kalian (jangan mengeraskan suara secara berlebihan), sesungguhnya kalian tidak meminta kepada Dzat yang tidak mendengar dan tidak kepada yang ghaib, kalian meminta kepada yang Maha Mendengar dan Maha Dekat.” (Shahih Bukhari, Juz III, hal 1091 [2830]).
    Dari keterangan di atas dapat ditarik penjelasan lebih lanjut bahwasanya berdzikir secara keras dan pelan memiliki landasan yang kuat.

    Mengenai hal ini, Imam Nawawi mengambil jalan tengah dengan cara memberikan dua Hukum yang berbeda disesuaikan dengan kondisi pribadi dan lingkungan sekitarnya.
    “Imam Nawawi memadukan dua hadist (yang menjelaskan keutamaan mengeraskan dzikir serta yang memelankan dzikir). Membaca dzikir dengan pelan itu lebih utama jika dapat menimbulkan sifat Riya’ dan mengganggu orang yang tengah shalat ataupun tidur. Pada selain keadaan ini mengeraskan dzikir itu lebih utama karena pekerjaan yang dilakukan lebih banyak (secara berjemaah), manfaat dari dzikir itu mengingatkan hati orang yang membaca, memusatkan segenap pikirannya untuk terus merenungkan dan menghayati dzikir yang dibaca, mengkonsentrasikan pendengarannya, menghilangkan kantuk serta menambah semangat.” (Al-Hawi Lil Fatawi, Juz II, halaman 133).

    BalasHapus
  8. lihat surat al-anfal ayat 2 :
    pada ayat itu ada kalimat dzukiro yg berarti di bacakan dalam arti kita membacakanny dengan bersuara sehingga terdengar oleh manusia, apabila di sebut nama Allah bergetar hatinya, ini jelas kita jaharkan dzikir tersebut sehingga terdengar dan bergetarlah hati org2 yg beriman, bertambah kuat imannya serta menjadi manusia yang berserah diri...

    akhi.. dzikir jahr ada dalilnya begitu juga dzikir khafiy, baik itu dzikir secara sendiri maupun secara jamaah jga ada dalilnya.. sekarang bagaimana kita meletakkan dalil tersebut, karena letakkanlah dalil2 tersebut pada tempatnya dalam arti ada wktu tempat dan keadaan tertentu sehingga yg jahr dan khafiy itu di lakukan.

    ana khawatir nanti kita menentang hadis nabi :(man rahgiba 'an sunnati falaisa minni) brang siapa yg tidak suka akan sunnah ku maka ia bukan dari golonganku..

    dari karya ilmiah akhi seakan2 dzikir jahr itu tidak di ajarkan nabi, di larang di lakukan ???

    hati2 akhi,, segala sesuatu di mintai pertanggung jawabannya.. sebelum kita menyampaikan tentang agama islam, perlu kita pahami dalam2 jngn hanya menangkap atau taqlid terhadap satu pendapat karena ulama salaf berkata jangan kita anggap satu pendapat yg kita temukan itu semata2 itu satu2nya pendapat.. imam madzhab aj ada 4, terus mereka berbeda2, beda2 bukan berarti saingan tapi rahmat.. kalau akhi milih dzikir khafiy ya silahkan, tapi jngn menyalahkan dzikir jahr..

    kalau tidak bisa menambah amalan seseorang jngn kita paksa mereka karena paham kita sehingga mereka meninggalkan amalan mereka yg itu ada dasar dalil dan itu suatu yg sunnah.. na'udzubillah min dzalik

    BalasHapus
  9. http://tipstriksib.blogspot.co.id/2015/12/hukum-dzikir-keras-jahar-menurut-al-quran-dan-al-hadist.html

    baca situs ini,, insya allah di beri petunjuk...

    BalasHapus