Selasa, 03 April 2012

Sekilas Surat al-A`râf


Muhammad Arifin Jahari

            Al-A`râf tergolong dalam surat makkiyah, artinya surat yang diturunkan Allah sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Surat ini terdiri dari 206 ayat sebagaimana tercantum dalam mushaf Alquran. Menurut Imam Muhammad ath-Thâhir Ibn `Âsyûr, ulama berbeda pendapat tentang jumlah ayat pada surat al-A`râf, menurut perhitungan Ahli Madinah dan Khufah 206 ayat, dalam perhitungan Ahli Syam dan Bashrah 205 ayat, dan Imam as-Suyuthi dalam al-Itqân fî `Ulûm al-Qur’ân membuka kemungkin lain, yakni 207 ayat.[1] Muhammad Amin al-Urami al-Harari dalam tafsirnya Tafsîr Hadâ’iq ar-Rauh wa ar-Raihân fi Rawâbî `Ulûm al-Qur’ân menambahkan bahwa kata dalam surat al-A`râf sebanayak 3325 kata, dan terdiri dari 14010 huruf.[2]
Tentang kemakkiyahannya, Imam al-Qurthubi mengecualikan 8 ayat, yakni dari ayat 163-171.[3] Ibn `Âsyûr kembali menjelaskan bahwa ulama sepakat tentang kemakkiyahan surat al-A`râf ini. Menurut riwayat dari Ibnu Abbâs dan Ibnu Zubair surat al-A`râf adalah makkiyah secara keseluruhan. Namun ada ulama yang mengecualikan, seperti Qatâdah mengecualikan satu ayat, yaitu ayat 163 sebagai ayat madaniyah. Sedangkan Muqâtil menghitungnya dari ayat 163 sampai ayat 172, atau 10 ayat menurut perhitungan mushaf Alquran.[4] Sedangkan Quraish Shihab mengatakan, ada sementara ulama mengecualikan ayat 163-170 sebagai ayat madaniyah, namun pengecualian ini dinilai lemah.[5]
Muhammad Amin al-Urami al-Harari menjelaskan bahwa surat al-A`râf turun sebelum surat al-An`âm.[6] Berbeda dengan Dr. Rusydî al-Badrâwi, dalam bukunya Qashash al-Anbiyâ’ wa at-Târîkh: Khâtim al-Anbiyâ’ Muhammad Shallallâh `alaih wa Sallam, meletakkan surat al-A`râf secara historis setelah surat Shâd dan sebelum surat al-Jin.[7] Dalam mushaf Alquran sendiri surat Shâd terletak pada nomor urut 38, surat al-A`râf pada nomor urut 7, dan surat al-Jin pada nomor urut 72. Namun, sepertinya Ibn `Âsyûr tidak sependapat dengan statment di atas, karena munurut beliau surat al-Jin diturunkan pada awal masa kenabian, kira-kira tahun ke-2 setelah Nabi Muhammad diangkat sebagai Nabi. Menurutnya lagi, sedangkan surat al-A`râf adalah surat yang panjang, yang jauh kemungkinan diturunkan sebelum atau pada tahun ke-2 masa kenabian.[8] Hal ini juga dipertegas oleh Qurash Shihab, beliau mengatakan bahwa tidak diperoleh informasi akurat tentang masa turunnya surat ini; yang disepakati adalah bahwa ia turun di Makkah, dan agaknya setelah berlalu sekian lama dari risalah Nabi Muhammad saw. Ini karena pada ulama menyatakan bahwa surat-surat pendeklah yang terlebih dahulu turun dalam periode awal kenabian.[9]
Rusydî al-Badrâwi kembali menjelaskan bahwa surat al-A`râf adalah surat pertama yang didahului dengan huruf muqaththa`ah lebih dari satu, yakni alif lâm mîm shâd, karena sebelumnya ada surat al-Qalam yang didahului dengan huruf nûn, surat Qâf yang didahuli dengan huruf qâf, dan surat Shâd yang didahului dengan huruf shâd. Surat al-A`râf  juga surat terpanjang yang diturunkan di Makkah.[10] 
 
Surat ini dinamai dengan al-A`râf, yang bermakna tempat yang tertinggi. Dalam Alquran, kata ini terulang hanya di surat al-A`râf sebanyak dua kali: ayat 46 dan 48.[11] Allah SWT berfirman:
وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلاًّ بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْاْ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَن سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ
“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas al-A`râf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, "Keselamat atas kamu". Mereka belum memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS. Al-A`râf [7]: 46).
وَنَادَى أَصْحَابُ الأَعْرَافِ رِجَالاً يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُواْ مَا أَغْنَى عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ
“Dan orang-orang yang di atas al-A`râf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, "Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.” (QS. Al-A`râf [7]: 48). Makna al-A`râf dalam dua ayat tersebut adalah tempat yang tertinggi.
Nama al-A`râf yang disandang oleh surat ini sudah dikenal sejak masa Nabi saw. an-Nasâ’i meriwayatkan dari `Urwah bin Zaid bin Tsâbit, beliau berkata kepada Marwân bin Hakam, “Saya melihat kamu membaca surat-surat pendek pada waktu shalat Maghrib, sedangkan saya melihat Nabi saw membaca yang terpanjang dari dua surat yang panjang. Marwân bertanya, “Apakah surat terpanjang dari dua surat yang panjang tersebut?” `Urwah menjawab, “al-A`râf.”[12] Dalam riwayat lain dari `Aisyah ra bahwa Nabi saw membaca surat al-A`râf ketika shalat Maghrib. Beliau membagi bacaannya dalam dua rakaat.[13]
Selain al-A`râf, surat ini juga dinamai dengan alif lam mim shad, namun menurut Ibn `Âsyûr pendapat ini lemah. Selain itu, nama al-Mîqât dan al-Mîtsâq juga disandangkan kepada surat ini.[14]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar