Kamis, 26 April 2012

Urgensitas Alquran dalam Kehidupan


Muhammad Arifin Jahari

Sebuah anologi bahwa ketika suatu produk diciptakan, diberikan pula panduan untuk mengoparasikan produk tersebut. Begitu juga manusia dan alam ini, Sang Pencipta menitipkan panduan, untuk bisa diberdayagunakan. Panduan tersebut Allah titipkan kepada manusia, yang Allah tunjuk sebagai khalifah-Nya. Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ.
 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).
Dalam ayat lain, Allah berfirman:
 “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An`am [6]: 165).
Untuk tugas ini, Allah berikan kepada manusia dua panduan yang saling melengkapi. Pertama adalah akal. Allah menitipkan akal kepada manusia untuk bisa dipergunakan dan menjadi panduan dalam mengelola kehidupan di dunia ini. Namun, akal manusia berbeda-beda dan sangat terbatas, sehingga perlu adanya panduan yang sempurna, yakni wahyu Sang Pencipta. Allah lebih mengetahui tentang ciptaan-Nya, jadi Dia pulalah yang berhak untuk menentukan panduannya.
Panduan yang kedua adalah Alquran. Alquran, sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat adalah kitab petunjuk bagi orang yang bertakwa, beriman, muslim, dan manusia secara umum. Allah berfirman:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ.
 “Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2).
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ.
 “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Alquran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. An-Nahl [16]: 64).
Untuk orang Islam, Allah berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (Islam).” (QS. An-Nahl [16]: 89).
Untuk manusia secara umum, Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).
Dari ayat-ayat di atas, jelas bahwa Alquran adalah kitab petunjuk kepada siapa saja. Selayaknya sebagai kitab panduan dalam hidup ini, pastinya kitab tersebut dapat dipahami oleh pembacanya, tidak hanya sekedar dibaca tanpa makna. Allah berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24).
Dalam ayat lain, Allah berfirman:

كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته ، و ليتذكر أولو الألباب

 “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad [38]: 29).
Tidak jarang, para sahabat dan bahkan Nabi sendiri pun menangis ketika membaca atau mendengarkan Alquran. Hal ini hanya terjadi ketika Aquran diresapi dan direnungkan.
Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah Hadis:
قال النبي لابن عباس: اقرأ علي القرآن. قلت:  يا رسول الله أقرأ عليك وعليك أنزل؟ قال: إني أشتهي أن أسمعه من غيري . فقرأت عليه سورة النساء حتى بلغت : فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد ، وجئنا بك على هؤلاء شهيدا. قال لي كف او امسك، فإذا عيناه تذرفان.
Rasul bersabda kepada Abdullah bin Abbas, “Bacakanlah Alquran kepadaku?” Lalu Ibnu Mas`ud menjawa, “Bagaimana aku membacakannya kepadamu, sedangkan ia turun kepadamu!? Nabi menjawab, “Sungguh aku ingin mendengarnya dari selainku.” Lalu Ibnu Abbas membaca surat an-Nisa, ketika sampai pada ayat 41, “Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” Kemudian Rasul memerintahkan, “Cukup!” Dan aku lihat air matanya mengalir.”
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa menangis dalam membaca Alquran adalah sifat orang Arif dan tanda orang saleh. Imam al-Ghazali juga berkomentar bahwa menangis ketika membaca dan mendengarkan Alquran disunatkan. Untuk mencapai hal itu haruslah ia menghadirkan hati dengan perenungan sehingga timbul rasa sedih dan takut terhadap janji dan ancaman Allah dalam Alquran. Jika hal ini tidak ada, maka itu adalah musibah yang sangat besar.   

Bukti lain bahwa Alquran sebagai pedoman bagi manusia adalah diturunkan Alquran dengan menggunakan bahasa manusia, dalam hal ini adalah bahasa Arab. Allah memilih bahasa Arab sebagai sarana untuk berbicara kepada manusia bukan tanpa alasan. Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya dan unik. Hal ini terlihat, antara lain, dalam menetapkan feminim dan maskulin, bilangan tunggal, dua, dan plural, serta kekayaan kosakata dan sinonimnya, yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Sinonim dalam bahasa Arab tidak selalu sepenuhnya bermakna sama. Sebagai contoh, antara kata ‘jalasa’ dan ‘qa`ada’ sama-sama bermakna duduk, tetapi penggunaannya berbeda. Jika lawan bicara dalam kondisi berdiri dan kita ingin memerintahkannya duduk, keliru ketika kita menggunakan bentuk perintah dari ‘jalasa’, yakni ‘ijlis’, karena kata ini digunakan untuk memerintahkan seseorang yang sedang berbaring agar ia duduk. Kata yang tepat digunakan adalah ‘uq`ud’ sebagai bentuk perintah dari ‘qa`ada.’ Demikian penjelasan Quraish Shihab.
Qurash Shihab menjelaskan lagi bahwa betapa paham pun seseorang tentang kadaan mitra bicaranya, ia tidak mungkin dapat memberi bimbingan kalau orang itu tidak mampu menjelaskan kandungan bimbingannya. Selanjutnya, betapa pun kemampuan seseorang memberi bimbingan, tetapi kalau bahasa yang digunakan tidak mampu menampung semua ide yang hendak disampiaknnya, maka bimbingan tidak akan mengena, bahkan boleh jadi disalahpahami.
Selanjutnya, Quraish melanjutkan, betapa pun kedua hal di atas telah terpenuhi, ini pun belum menjadi jaminan bagi dipahaminya bimbingan tersebut oleh yang dibimbing. Karena itu di samping bahasa lisan, dibutuhkan juga bahasa contoh atau permisalan, bahkan di samping pengulangan dan peragamannya. Hal ini semua terpenuhi dengan pemilihan bahasa yang digunakan Alquran. Allah berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَــاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُـــــونَ

 “Sesungguhnya Kami menjadikan Alquran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf [43]: 3).
            Untuk itu, umat Islam harus mengembalikan fungsi Alquran sebagai kitab petunjuk dalam kehidupannya, supaya tepat guna.
            Namun demikian, bukan berarti membaca Alquran tidak bermanfaat sama sekali. Dalam bukunya Mukjizat al-Qur’an, Quraish Shihab melaporkan bahwa sejumlah peneliti setelah melakukan observasi dengan alat-alat elektronik canggih guna mengukur perubahan-perubahan fisiologis terhadap sejumlah sukarelawan sehat yang sedang mendengar dengan tekun ayat-ayat Alquran. Mereka terdiri dari orang-orang muslim dan non-muslim, yang mengerti bahasa Arab dan yang tidak mengerti. Hasil pengamatan membuktikan adanya pengaruh yang menenangkan hingga mencapai 97 %. Hasil pengamatan ini telah dilaporkan pada konferensi tahunan XVII Organisasi Kedokteran Islam Amereika Utara yang diselenggarakan di Santa Lusia Agustus 1984.
            Jangankan membaca, mendengarkan Alquran saja dapat menjadikan iman bertamabah. Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal [8]: 2).
Yang dibutuhkan di sini, menurut Quraish Shihab adalah kesadaran tentang kebesaran Allah dan kebenaran firman-firman-Nya. Sebab itu, Allah memerintahkan kepada manusia untuk diam dan mendengarkan bacaan-bacaan ayat Alquran. Allah berfirman:
وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون
“Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A`raf [7]: 204).
            Selain itu, Nabi Muhammad menjelaskan bahwa hanya dengan membaca Alquran, si pembaca akan mendapatkan pahala yang berlipat. Rasul bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.
“Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran, maka baginya satu kebaikan yang dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas`ud). Dalam salah satu riwayat dijelaskan bahwa membaca satu huruf Alquran mendapat sepuluh kebaikan dan dapat menghapus sepuluh keburukan.
            Dalam hadis yang lain, Nabi bersabda:
الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران
“Orang yang mahir membaca Alquran, ia bersama para penghuni surga yang mulia. Dan orang yang terbatah dalam membaca Alquran, baginya dua pahala.” (HR. Muslim dari `Aisyah).
            Jika dilihat para sahabat Nabi dalam membaca Alquran, mereka sangat ambisius. Alquran dikhatamkan hanya dalam beberapa hari. Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis bahwa Nabi bertanya kepada Abdullah bin Amr, “Bagaimana engkau puasa?” Abdullah bin Amr menjawab, “Aku puasa setiap hari.” Rasul bertanya lagi, “Bagaimana dengan mengkhatamkan Alquran?” Dia menjawab, “Aku mengkhatamkan Alquran dalam satu malam.” Mendengarkan keterangan tersebut, Rasul memerintahkan, “Puasalah dalam satu bulan tiga hari, dan khatamkannlah Alquran satu kali dalam satu bulan.” Abdullah bin Amr berkata, “Aku sanggup lebih baik dari itu.” Nabi bersabda, “Puasalah tiga hari dalam satu jumat.” Abdullah bin Amr kembali berkata, “Aku sanggup lebih banyak dari itu.” Nabi kembali bersabda, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Nabi Daud; satu hari puasa, satu hari berbuka. Lalu khatamkanlah Alquran satu kali dalam satu minggu.”
            Dalam riwayat Abu Daud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i dijelaskan bahwa Rasul memerintahkan untuk membaca Alquran dalam empat puluh hari, jika sanggup, dalam sebulan, dua puluh hari, lima belas hari, sepuluh hari, atau satu minggu. Dalam berbagai keterangan dari para sahabat seperti Ibnu Mas`ud, “Bacalah Alquran dalam tujuh hari, dan jangan engkau baca Alquran di bawah tiga hari.” Menurut `Aisyah bahwa Nabi tidak pernah mengkhatamkan Alquran di bawah tiga hari. Abdullah bin Amr kembali menjelaskan bahwa membaca Alquran di bawah tiga hari adalah bacaan yang tidak dapat direnungi. Namun, menurut Imam an-Nawawi bahwa batasan hari ini sesuai dengan kemampuan seseorang dalam memahami Alquran itu sendiri. Demikian tulis Imam Ibnu Hajar al-`Asqalani dalam Fath al-Bari.
            Tidak ada kitab yang lebih pantas dibaca dan dipelajari di dunia ini, selain Alquran. Nabi bersabda:

خيركم من تعلم القرآن وعلمه .

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” Dalam salah satu riwayat dengan menggunakan ‘atau’ sebagai pengganti ‘dan.’ Hal ini berarti, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran atau mengajarkannya.”
            Dalam hadis yang lain, Rasul bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ؛ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ.
“Perumpamaan orang beriman yang membaca Alquran seperti buah Utrujjah; baunya enak dan rasanya nikmat. Perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Alquran seperti buah tamar (kurma); tidak berbau dan rasanya nikmat. Perumpamaan orang munafik (dalam salah satu riwayat para pendosa) membaca Alquran ibarat buah Raihanah; baunya enak rasanya pahit. Perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah Hanzhalah; yang tidak berbau dan rasanya pahit.” (HR. Muslim dari Abu Musa al-`Asy`ari).
             
Hadis lain, Nabi bersabda:

إن هذا القرآن مأدبة الله فتعلموا من مأدبته ما استطعتم.

“Sungguh, Alquran ini adalah hidangan Allah, maka belajarlah dari hidangan Allah ini semampumu.”
            Semoga kita dapat menjadikan Alquran sebagai teman dan pedoman, serta bacaan prioritas dalam kehidupan kita. Amin[].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar