Kamis, 02 April 2015

ULAMA DALAM ALQURAN



Muhammad Arifin Jahari

Ulama adalah pewaris para nabi.[1] Begitulah Nabi Muhammad menegaskan urgensi posisi ulama bagi umat. Ketika Nabi menyampaikan ajaran yang diwahyukan kepadanya dan menjelaskannya, serta memberikan contoh pengamalan terhadap wahyu tersebut, maka ulama pun demikian. Tugas-tugas Nabi ini telah berpindah dan diwariskan kepada para ulama.
Memang tidak mudah menjadi ulama. Bukan hanya mencapai derajatnya, tapi juga tanggung jawab yang diembankan kepadanya. Sebagaimana para nabi adalah pemimpin umat yang menunjuki mereka pada jalan seharusnya dan memberi pelbagai solusi dalam kehidupannya, begitu pula ulama, memimpin masyarakat untuk membimbing mereka ke jalan yang benar dan memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapinya.
Penjelasan ini menegaskan, menjadi ulama tidak mudah. Bukan hanya segudang ilmu pengetahuan mengenai ayat-ayat qur’âniyah yang harus dikuasi, tapi juga gejala-gejala masyarakat dan perkembangannya juga harus dipahami, guna memberikan solusi terhadap permasalahan kemasyarakatan yang dihadapi.
Kondisi suatu masyarakat, boleh jadi berbeda dengan kondisi masyarakat yang lain. Kondisi masyarakat klasik, berbeda dengan kondisi masyarakat modern. Ulama yang dibutuhkan masa kini dan akan datang, tentu boleh jadi tidak sama dengan ulama yang telah dilahirkan dan eksis pada masa lalu. Tantangan masa akan datang tentu lebih berat dan kompleks, sehingga dibutuhkanlah ulama yang mumpuni untuk memimpim masyarakat masa mendatang.
Seorang ulama dituntut untuk mampu memahami perkembangan masyarakat dan gejala-gejalanya. Masa modern sekarang, ulama tidak cukup hanya menguasai pelbagai ‘ilmu agama’, seperti ilmu fikih, tafsir, hadis an sich, apalagi jika pengetahuannya tersebut hanya bersifat hafalan yang statis. Untuk menjawab tantangan dan problem masyarakat modern, diperlukan penguasaan ilmu tentang Islam yang lengkap dan dinamis, yang terdiri dari ayat qur’âniyah (‘ilmu agama’) dan ayat kauniyah (‘ilmu umum’, termasuk ilmu sosial yang memahami perkembangan masyarakat).[2] Dengan demikian, ulama dapat selalu memberikan bimbingan dan solusi yang dapat diterima oleh masyarakatnya, tidak tertinggal atau terjerat dalam pemahaman agama yang statis dan wawasan yang sempit.
Melihat realitas di atas, semakin dirasakan sangat kurangnya kehadiran ulama masa kini dan akan datang. Hal ini, bukan saja karena kepergian ulama besar satu per satu sementara penggantinya belum muncul, tetapi juga karena kualifikasi ulama yang diperlukan tidak sesederhana yang dibayangkan. Krisis ulama pun semakin menjadi-jadi. Namun, hal ini hendaknya menyadarkan umat Islam untuk mawas diri dan mengevaluasi segala sendi kehidupan, terutama pendidikan, dalam rangka menciptakan generasi-generasi tangguh.

Ulama Perspektif Alquran
Kata ulamâ’ adalah bentuk jamak dari kata `âlim. Kata`âlim adalah ism fâ`il dari kata `ilm/`alima. Ibn Manzhûr (w. 711 H) menjelaskan bahwa `alima bermakna mengetahui dengan jelas dan pasti (`arafa, khabara, dan atqana).[3] Quraish Shihab menegaskan hal ini, sekaligus menambahkan penjelasan bahwa setiap kata yang terbentuk dari huruf `ain, lâm, dan mîm selalu menunjukkan kejelasan, seperti `alam (bendera), `âlam (alam raya atau makhluk yang memiliki rasa dan atau kecerdasan), `alâmah (alamat).[4]
Dalam Alquran, kata `ilm/`alima dengan pelbagai derivasinya terulang sebanyak 854 kali.[5] Hal ini menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan. Dalam Shahîh al-Bukhârî ada sebuah pembahasan, yakni bâb al-`ilmu qabl al-qauli wa al-`amali (ilmu sebelum perkataan dan perbuatan).[6] Ibn al-Munîr mengomentari bahwa yang dimaksud oleh al-Bukhârî adalah ilmu sebagai syarat sahnya perkataan dan amal manusia.[7] Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa siapa yang Allah menginginkan kebaikan padanya, difakihkan dalam agama.[8]
Kata `âlim, `alîm, dan `allâm sebagai subjek ilmu pengetahuan, dinisbahkan kepada Allah. Allah sebagai `âlim, `alîm, dan `allâm. Dalam Alquran dijelaskan:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
“Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr [59]: 22).
وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ
“Dan Dia Maha Pencipta, Maha Mengetahui.” (QS. Yâsîn [36]: 81).
يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
“(Ingatlah) pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)mu?” Mereka (para rasul) menjawab, “Kami tidak tahu (tentang itu). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” (QS. al-Mâ’idah [5]: 109).
            Ketiga istilah ini digunakan kepada Allah dengan makna Maha Mengetahui, karena pengetahuan Allah sempurna, tidak ada tingkatan dan cela. Ketiga istilah ini juga digunakan buat manusia. Sering didengar istilah al-`âlim dan al-`allâmah yang dinisbahkan kepada orang yang menguasi segudang ilmu pengetahuan tertentu. Sedangkan kata al-`alîm juga dapat dinisbahkan kepada manusia, sebagaimana ungkapan Nabi Yûsuf yang diceritakan Alquran:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Dan (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yûsuf [12]: 55).
            Ibn Manzhûr (w. 711 H) menjelaskan bahwa al-`alîm adalah binâ mubâlaghah (bersangatan). Manusia yang Allah ajarkan ilmu dapat disebut sebagai `alîm, sebagaimana Nabi Yûsuf. Sedangkan kata al-`allâm atau al-`allâmah bermakna sangat mengetahui, sehingga sampai ilmunya pada tingkat akhir dan tinggi.[9]
            Secara khusus, kata al-`ulamâ’ sebagai jamak dari kata al-`âlim, dalam Alquran terulang sebanyak dua kali: QS. asy-Syu`arâ’ [26]: 197 dan QS. Fâthir [35]: 28. Allah berfirman:
أَوَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ آيَةً أَنْ يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Apakah tidak (cukup) menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. asy-Syu`arâ’ [26]: 197).
 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fâthir [35]: 28).
            Walau kedua ayat ini sama-sama menyebutkan kata `ulamâ’, namun ada perbedaan makna yang signifikan. Jika dilihat dari ilmu munâsabah baina al-âyah (korelasi antar-ayat), QS. asy-Syu`arâ’ [26]: 197 berbicara tentang ulama ayat qur’âniyah/wahyu dan QS. Fâthir [35]: 28 berbicara tentang ulama ayat kauniyah/alam. Untuk jelasnya, penulis nukil ayat-ayat sebelumnya:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ (196) أَوَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ آيَةً أَنْ يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dan sungguh, Alquran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang dibawa turun oleh ar-Rûh al-Amîn (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sungguh, (Alquran) itu (disebut) dalam kitab-kitab orang yang terdahulu. Apakah tidak (cukup) menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. asy-Syu`arâ’ [26]: 192-197).
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ (27) وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Fâthir [35]: 27-28).
            Kumpulan ayat di atas jelas menegaskan bahwa QS. asy-Syu`arâ’ [26]: 192-197 berbicara tentang wahyu/ayat-ayat qur’âniyah, sedangkan QS. Fâthir [35]: 27-28 tentang melihat dan merenungi alam/ayat-ayat kauniyah, dan menimbulkan rasa khasyyah. Dari sini, ulama adalah orang yang menguasai segudang ilmu tentang ayat-ayat qur’âniyah dan ayat-ayat kauniyah, serta dapat mengantarkan mereka pada rasa khasyyah kepada Allah SWT. Hal ini berdasarkan pada teori bahwa Alquran adalah satu kesatuan yang utuh, yang tidak bisa dipahami secara parsial.
            Banyak orang menganggap bahwa ulama adalah orang yang menguasai ilmu tentang ayat-ayat qur’âniyah an sich. Secara ideal, anggapan ini tidak sejalan dengan Alquran. Karena, menurut Alquran kualifikasi ulama ada tiga: pertama, penguasaan terhadap ayat-ayat qur’âniyah, kedua, perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah, dan ketiga, ilmu mereka membawa pada rasa khasyyah kepada Allah. Para mufasir juga menegaskan hal ini.
            Ketika menjelaskan QS. Fâthir [35]: 28, Rusydî al-Badrâwî menegaskan bahwa ulama adalah orang yang paling takut kepada Allah, karena intensnya studi mereka terhadap alam, sehingga sampai pada hakikat yang membuat akal terkagum, lalu mereka meyakini bahwa alam ini pastilah ada Pencipta Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.[10]
            Dalam kitabnya Fî Dzilâl al-Qur’ân, Sayid Quthb (w. 1966 M) menjelaskan bahwa ulama adalah mereka yang merenungkan alam yang menakjubkan. Dari sini, mereka mengenal Allah dengan makrifah hakiki, mereka mengenal Allah melalui hasil ciptaan-Nya, mereka menjangkau-Nya melalui dampak kekuasaan-Nya. Mereka merasakan hakikat keagungan Allah dengan melihat hakikat penciptaan-Nya. Dari sini, mereka khasyyah kepada Allah dengan sebenar khasyyah, mereka bertakwa kepada Allah dengan sebenar takwa, mereka menyembah Allah dengan sebenar penyembahan.[11]
            Wahbah az-Zuhailî, ketika menafsirkan QS. Fâthir [35]: 28 dalam kitabnya at-Tafsîr al-Munîr fî al-`Aqîdah wa asy-Syarî`ah wa al-Manhaj menjelaskan bahwa ulama adalah orang alim dalam ilmu alam, ilmu kehidupan, dan rahasia-rahasia alam. Sesungguhnya orang yang alim tentang alam dan rinciannya, alim tentang sifat Allah dan perbuatan-Nya, merekalah yang takut pada kekuasaan-Nya. Siapa yang mengetahui bahwa Allah Mahakuasa, dia akan yakin pada siksa-Nya jika melaksanakan kemaksiatan. Siapa yang tidak memiliki khasyyah, bukanlah orang ulama. Dari sini, orang ulama derajat orang alim lebih tinggi dari `âbid (ahli ibadah), karena Allah menjelaskan bahwa kemuliaan tergantung ketakwaan, dan ketakwaan tergantung pada ilmu pengetahuan.[12]
            Menurut Quraish Shihab, walau ada pakar tafsir yang menyatakan bahwa ulama adalah orang yang menguasai ilmu tentang Allah dan syariat, serti Ibn `Âsyûr (w. 1973 M),[13] namun konteks QS. Fâthir [35]: 28 menjelaskan bahwa mereka yang memiliki pengetahuan tentang fenomena alam dan sosial dinamai sebagai ulama. Hanya saja, pengetahuan tersebut menghasilkan khasyyah. Quraish Shihab melanjutkan bahwa QS. Fâthir [35]: 28 ini berbicara tentang fenomena alam dan sosial. Ini berarti para ilmuwan sosial dan alam dituntut agar mewarnai ilmu mereka dengan nilai spiritual dan dalam penerapannya selalu mengindahkan nilai-nilai spiritual tersebut.[14]
Bahkan, lanjut Quraish Shihab, tidak meleset jika dikatakan bahwa QS. Fâthir [35]: 28 ini berbicara tentang kesatuan apa yang dinamai ‘ilmu agama’ dan ‘ilmu umum’. Karena puncak ilmu agama adalah pengetahuan tentang Allah, sedang ilmuwan sosial dan alam memiliki rasa takut dan kagum kepada Allah yang lahir dari pengetahuan mereka tentang fenomena alam dan sosial, dan pengetahuan mereka tentang Allah.[15]
            Keterangan di atas menegaskan bahwa pengetahuan tentang fenomena alam dan sosial, atau ayat kauniyah, tidak bisa diabaikan, disamping penguasaan tentang Allah dan syariat. Dari sini, ditegaskan kembali bahwa kualifikasi ulama ada tiga: penguasaan tentang Allah dan syariat (ayat qur’âniyah), pengetahuan tentang fenomena alam dan sosial (ayat kauniyah), dan khasyyah.
            Pengetahuan tentang ayat qur’âniyah dan ayat kauniyah harus disertai dengan rasa khasyyah kepada Allah. Dalam tafsirnya, al-Jawâhir al-Hisân fî Tafsîr al-Qur’ân, ats-Tsa`âlibî (w. 875 H) menjelaskan bahwa kata al-ilmu yang sering diulang dalam Alquran dan Hadis adalah ilmu yang bermanfaat, yang disertai dengan khasyyah dan diliputi rasa takut kepada Allah SWT.[16]
            Penjelasan ats-Tsa`âlibî (w. 875 H) di atas, kembali dipertegas oleh Quraish Shihab dalam Membumikan Alquran-nya. Quraish Shihab menjelaskan bahwa jika diperhatikan ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang ilmu dalam pelbagai bentuknya, dan kata-kata lain yang sejalan dengan arti kata ilmu, maka akan ditemukan bahwa Alquran mengaitkan ilmu yang terpuji dengan sikap istislâm (tunduk) dan khasyyah kepada Allah. Hal serupa juga ditemukan dalam hadis-hadis Nabi yang bahkan banyak di antaranya justru menggarisbawahi bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mengantar manusia kepada pengetahuan tentang kebenaran Allah, takwa, khasyyah, dan sebagainya.[17]
            Al-Qurthubî (w. 671 H) dalam tafsirnya al-Jâmi` li Ahkâm al-Qur’ân menuliskan bahwa ar-Rabî` bin Anas menyatakan, “Siapa yang tidak ada rasa khasyyah kepada Allah, bukanlah orang alim/ulama.”[18] As-Suyûthî (w. 911 H) dalam tafsirnya ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma`tsûr, menukil beberapa statement, di antaranya dari Ibn Mas`ûd, “Ilmu, bukanlah banyak (meriwayatkan) hadis, tapi yang memiliki rasa khasyyah.” Yahyâ bin Abî Katsîr mengucapkan, “Orang alim adalah orang yang khasyyah kepada Allah.”[19] Agaknya, yang menjadi pertanyaan, “Apa dan bagaimana yang dimaksud dengan khasyyah?”
            Dalam tafsirnya Tafsîr Hadâ’iq ar-Rauh wa ar-Raihân fi Rawâbî `Ulûm al-Qur’ân, Muhammad al-Amîn al-Hararî menjelaskan bahwa khasyyah adalah khawatir/merintihnya hati dengan sebab akan terjadinya sesuatu yang dibenci pada masa mendatang. Khasyyah adakalanya timbul karena banyaknya dosa, dan ada kalanya timbul karena mengenal Allah dan merasakan keagungan-Nya, dan khasyyah para nabi pada model yang kedua,[20] yakni mengenal Allah dan merasakan keagungan-Nya. Definisi ini terlebih dahulu diungkapkan oleh Ismâ`îl Haqqî dalam Tafsîr Rûh al-Bayân.[21]
            Ibn Manzhûr (w. 711 H) menjelaskan bahwa asal makna khasyyah adalah khauf/takut. Khasyyah bisa juga bermakna ilmu, sebagaimana ucapan syair:
وَلَقَدْ خَشِيتُ بأَنَّ مَنْ تَبِعَ الهُدى ... سَكَنَ الجنانَ مَعَ النبيِّ مُحَمَّدِ
Khasyîtu di sini bermakna `alimtu, jadi makna syair, “Dan sungguh aku mengetahui bahwa siapa yang mengikuti petunjuk, tinggal dalam surga bersama Nabi Muhammad saw.”[22] Dari penjelasan Ibn Manzhûr (w. 711 H) ini, menegaskan bahwa antara ilmu dan takut kepada Allah tidak bisa dipisahkan. 
            Ada empat istilah yang menunjukkan makna takut: rahbah (رَهْبَة), khauf (خَوْف), khasyyah (خَشْيَة), dan haibah (هَيْبَة). Al-Qusyairî (w. 465 H), dalam kitabnya Lathâ’if al-Isyârât menjelaskan bahwa rahbah adalah rasa takut yang membuat orangnya menjauh/lari dari yang ditakutinya. Khauf adalah rasa takut yang didasari dengan keimanan. Hal ini didasari dari firman-Nya, “Takutlah (khauf) kepada-Ku jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Âli `Imrân [3]: 175). Khasyyah adalah rasa takut yang didasari dengan ilmu. Sedangkan haibah adalah rasa takut yang membawa pada makrifah.[23]
            Ibn `Ajîbah (w. 1224 H) dalam kitab tafsirnya al-Bahr al-Madîd memberikan penjelasan yang berbeda. Menurutnya, khauf adalah takut dari siksa Allah, rahbah takut dari celaan-Nya, dan khasyyah adalah takut jauh dari-Nya.[24] Al-Qâsyânî (w. 730 H) menjelaskan bahwa khasyyah bukanlah takut terhadap siksa Allah, tapi khasyyah adalah kondisi hati yang penuh kekhusyukan dan luluh ketika mengambarkan dan menghadirkan sifat keagungan Allah.[25]
            Penjelasan di atas menggambarkan bahwa khasyyah bukanlah rasa takut biasa. Dengan pelbagai penjelasan ulama di atas, bahwa khasyyah adalah rasa takut yang didasari pada ilmu pengetahuan (ayat qur’âniyah dan ayat kauniyah) dan merasakan keagungan Allah dalam jiwanya, serta ingin senantiasa dekat kepada-Nya.
            Kembali ditegaskan bahwa ulama menurut konsep Alquran adalah orang yang menguasai ilmu tentang Allah dan syariat (ayat qur’âniyah), pengetahuan tentang fenomena alam dan sosial (ayat kauniyah), dan memiliki rasa khasyyah. Agaknya, kualifikasi ini berada dalam tataran ideal, yang tidak banyak orang memilikinya. Harus ditegaskan bahwa tiga kualifikasi ulama ini tidak bisa diukur secara pasti, sehingga hanya Allahlah yang mengetahui siapa sebenarnya disebut ulama. Karena Dialah yang mengetahui secara pasti kadar ilmu dan khasyyah seseorang.

Penyempitan Makna Ulama
Semakin tua usia dunia, ilmu pengetahuan semakin berkembang, dan kemampuan manusia sangat terbatas. Bukan hanya usia manusia yang semakin singkat, tapi orentasi ilmu pengetahuan juga semakin mengarah pada sekularitas (keduniaan). Realitas ini membuat semakin langkahnya ulama, dan semakin sempitnya makna ulama yang dikenal oleh masyarakat.
Abad pertengahan Islam, orang `âlim/ulamâ’ lebih dikenal sebagai fakih (orang yang menguasai hukum Islam). Hal ini melihat pada kebutuhan dan orientasi masyarakat terhadap hukum-hukum masalah yang berkembang. Pada abad ini, istilah al-`ârif pun muncul untuk menggambarkan orang yang mengenal Allah, dan takut hanya kepada-Nya.
Pada masa sekarang, dengan perkembangan ilmu pengetahuan mengantarkan umat Islam pada pembidangan ilmu. Bukan hanya pembidangan antara ilmu ‘umum’ dan ilmu ‘agama’, dalam ilmu ‘agama’ pun pembidangannya sudah banyak. Ada yang disebut sebagai ulama tafsir, ulama hadis, ulama fikih, ulama tauhid, ulama tasawuf, ulama falak, dan lain sebagainya.
Penyempitan makna ulama ini, seolah dilegalkan dan ditetapkan oleh pelbagai kalangan. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa ulama adalah ahli dalam hal agama Islam.[26] Pengertian ini pun diikuti oleh Majelis Ulama Indonesia Sematera Utara (MUI SU). Dalam kumpulan fatwanya, MUI SU menegaskan bahwa ulama adalah ahli dalam pengetahuan agama Islam (menukil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia); sarjana di kalangan Islam: ahli agama (menukil dari Ensiklopedia Indonesia); dan moslem doctors of sacred laws and theology/sarjana muslim dalam bidang hukum Islam dan teologi (dinukil dari The Concise Oxford Dictionary of Current English).[27]
Betapa pun demikian, istilah ulama sudah sangat dekat di telinga masyarakat muslim. Orang yang mengerti ilmu agama, mereka katakan sebagai ulama, walau mungkin penguasaannya terhadap ilmu-ilmu agama masih dipermasalahkan. Siapa saja berhak menilai orang lain sebagai ulama atau tidak, namun agaknya hal-hal yang telah dijelaskan di atas harus menjadi pertimbangan.

Bibliografi
As-Sijistâni, Abû Dâwûd Sulaimân bin al-Asy`ats. Sunan Abî Dâwûd. Bairut: Dâr Ibn Hazm, 1997.
Ibn Manzhûr, Abû al-Fadhl Jamâl ad-Dîn Muhammad bin Makram. Lisân al-`Arab. Bairut: Dâr Shâdir, 1990.
Shihab, M. Quraish. Tafsîr al-Mishbâh: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2012.
Abd al-Bâqî, Muhammad Fu’âd. al-Mu`jam al-Mufahras li Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm. Kairo: Dâr al-Kutub al-Mashriyah, 1364 H.
Al-Bukhârî, Abû Abdillâh Muhammad bin Ismâ`îl. al-Jâmi ash-Shahîh. Kairo: al-Mathba`ah as-Salafiyah, 1400 H.
Al-Khathîb, Muhibb ad-Dîn dalam Abû Abdillâh Muhammad bin Ismâ`îl al-Bukhârî, al-Jâmi ash-Shahîh. Kairo: al-Mathba`ah as-Salafiyah, 1400 H.
Al-Badrâwî, Rusydî. Qashash al-Anbiyâ’ wa at-Târîkh (juz VII): Khâtim al-Anbiyâ’ Muhammad Shallâhu `Alaihi wa Sallam. tp. 2004.
Quthb, Sayid. Fî Dzilâl al-Qur’ân. Kairo: Dâr asy-Syurûq, 1992.
Az-Zuhailî, Wahbah bin Mushthafâ. at-Tafsîr al-Munîr fî al-`Aqîdah wa asy-Syarî`ah wa al-Manhaj. Bairut: Dâr al-Fikr al-Mu`âshir, 1991.
Ibn `Âsyûr, Muhammad ath-Thâhir. Tafsîr at-Tahrîr wa at-Tanwîr. Tunis: Dâr Suhnûn, 1997.
Ats-Tsa`âlibî, `Abd ar-Rahmân bin Muhammad bin Makhlûf Abû Zaid. al-Jawâhir al-Hisân fî Tafsîr al-Qur’ân. Bairut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-`Arabî, 1997.
Shihab, M. Quraish. Membumikan Alquran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 2007.
Al-Qurthubî, Abû `Abdillâh Muhammad bin Ahmad al-Anshârî. al-Jâmi` li Ahkâm al-Qur’ân. Kairo: Dâr al-Hadîts, 2002.
As-Suyûthî, Jalâl ad-Dîn. ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma`tsûr. Kairo: Markas Hijr li al-Buhûts wa ad-Dirâsât al-`Arabiyah wa al-Islâmiyah, 2003.
Al-Hararî, Muhammad al-Amîn bin Abdillâh al-Uramî al-`Alawî. Tafsîr Hadâ’iq ar-Rauh wa ar-Raihân fi Rawâbî `Ulûm al-Qur’ân. Bairut: Dar Thauq an-Najah, 2001.
Al-Barûsawî, Ismâ`îl Haqqî. Tafsîr Rûh al-Bayân. Bairut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-`Arabî, 1985.
Al-Qusyairî, Abd al-Karîm bin Hawâzin. Lathâ’if al-Isyârât: Tafsîr Shûfî Kâmil li al-Qur’ân al-Karîm. Mesir: Hai’at al-Mashriyah al-` Âmmah li al-Kutub, 2000.
Al-Hasanî, Ahmad bin Muhammad bin al-Mahdî Ibn `Ajîbah. al-Bahr al-Madîd. Bairut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 2002.
Ibn `Arabî, Muhy ad-Dîn. Tafsîr Ibn `Arabî. Bairut: Dâr Shâdir, 2002.
Adz-Dzahabî, Muhammad Husain. at-Tafsîr wa al-Mufassirûn. Kairo: Dar al-Hadîts, 2005.
Tim Penyusun. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara. Medan: MUI Sumut.



[1] Diambil dari penggalan hadis Nabi:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
“Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surge. Sungguh, para malaikat meletakkan sayapnya (menaungi) karena meridai penuntut ilmu. Sungguh, penghuni langit dan ikan dalam air memohon ampunan buat orang alim. Sesunguhnya keutamaan orang alim terhadap ahli ibadah, seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama terhadap (cahaya) bintang. Ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewarisi dinar atau dirham, yang diwariskan mereka adalah ilmu, siapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.”  (HR. Abû Dâwûd, at-Tirmidzî, Ibn Mâjah, al-Baihaqî, Ibn Hibbân dari Abî Dardâ’). Rujuk di antaranya, Abû Dâwûd Sulaimân bin al-Asy`ats as-Sijistâni (w. 275 H), Sunan Abî Dâwûd (Bairut: Dâr Ibn Hazm, 1997), juz IV, h. 39-40.
[2] Klasifikasi ilmu agama dan umum tersebut hanya untuk mendekatkan paham, bukan untuk dikotomi ilmu pengetahuan. Karena seluruh ilmu adalah ilmu agama Islam dan bersumber dari Yang Satu, Yang `Âlim, Allah SWT.
[13] Menurut Muhammad ath-Thâhir Ibn `Âsyûr, ulama adalah orang yang mengetahui tentang Allah dan syariat. Sebesar kadar ilmunya tentang hal demikian sebesar itu pula kadar khasyyahnya kepada Allah. Adapun orang yang memiliki ilmu pengetahuan dalam bidang yang tidak berkaitan dengan pengetahuan tentang Allah serta pengetahuan tentang ganjaran dan balasan-Nya, pengetahuan mereka itu tidaklah mendekatkan mereka kepada rasa khasyyah dan kagum kepada Allah. Lihat, Muhammad ath-Thâhir Ibn `Âsyûr, Tafsîr at-Tahrîr wa at-Tanwîr (Tunis: Dâr Suhnûn, 1997), juz XXII, h. 304-305.
[25]  Buku ini tercetak dengan nama Tafsîr Ibn `Arabî dan pengarang Muhy ad-Dîn Ibn `Arabî (w. 638 H). Namun, menurut pakar tafsir dan ilmu Alquran al-Azhar University, Muhammad Husain adz-Dzahabî, kitab tafsir yang dinisbahkan kepada Ibn `Arabî tersebut adalah karya `Abd ar-Razzâq al-Qâsyânî (w. 730 H) dengan alasan, di antaranya naskah manuskrip kitab ini dinisbahkan kepada al-Qâsyânî, dan ketika menjelaskan tafsir QS. al-Qashash [28]:32, penulis tafsir menukil sebuah pendapat dari gurunya yang bernama Nûr ad-Dîn `Abd ash-Shamad. Nûr ad-Dîn `Abd ash-Shamad adalah guru al-Qâsyânî yang meninggal pada akhir abad ke VII. Lihat penjelasan ini pada, Muhammad Husain adz-Dzahabî, at-Tafsîr wa al-Mufassirûn (Kairo: Dar al-Hadîts, 2005), juz II, h. 350-351.