Minggu, 14 Agustus 2016

Hadis-Hadis Keutamaan Surat Yasin

Muhammad Arifin Jahari



Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak hadis menjelaskan keutamaan surat Yâsîn, walau sebagiannya dinilai bermasalah oleh pakar-pakar hadis. Dalam pembahasan ini, penulis mencoba menuliskan hadis-hadis yang terkait dengan keutamaan surat Yâsîn, menjelaskan sanad dan matan-nya untuk melihat kekuatan hadis tersebut.
11. Hadis membaca surat Yâsîn kepada orang yang sedang sekarat atau orang yang sudah meninggal dunia. Nabi saw bersabda:
اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ.
“Bacalah surat Yâsîn terhadap orang yang meninggal dunia (di antara) kamu.” Hadis dengan redaksi seperti ini, diriwayatkan oleh Abû Dâwûd (w. 270 H) dalam Sunan Abî Dâwûd dari Ma`qil bin Yasâr.[1]

a.      Takhrij Hadis
            Abû Dâwûd sendiri tidak menjelaskan status hadis ini. Hadis senada, dengan redaksi yang sedikit berbeda juga diriwayatkan oleh an-Nasâ’î w. 303 H) dalam Sunan al-Kubrâ dari Ma`qil bin Yasâr,[2] al-Baihaqî (w. 458 H) dalam Syu`ab al-Îmân dari Ma`qil bin Yasâr,[3] Ibn Hibbân (w. 354 H) dalam Shahîh Ibn Hibbân dari Ma`qil bin Yasâr,[4] Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dalam al-Musnad dari Ma`qil bin Yasâr,[5] Ibn Mâjah (w. 273 H) dalam Sunan Ibn Mâjah dari Ma`qil bin Yasâr ,[6] dan al-Hâkim (w. 405 H) dalam al-Mustadrak `Alâ ash-Shahîhain dari Ma`qil bin Yasâr.[7]
            Terlihat, hadis di atas dengan pelbagai periwatannya berasal dari seorang sahabat, Ma`qil bin Yasâr. Mata rantai sanad hadis di atas adalah, Abû Dâwûd mendapatkan hadis ini dari Muhammad bin al-`Alâ’ dan Muhammad bin Makkî al-Marwazî; Muhammad bin al-`Alâ’ dan Muhammad bin Makkî al-Marwazî mendapatkan hadis ini dari Ibn al-Mubârak; Ibn al-Mubârak mendapatkannya dari Sulaimân at-Taimî; Sulaimân at-Taimî mendapatkannya dari Abî `Utsmân; Abû `Utsmân meriwayatkannya dari ayahnya; dan ayah Abî `Utsmân meriwayatkannya dari sahabat Nabi saw, Ma`qil bin Yasâr (wafat setelah tahun 60 H).
            Begitu juga al-Baihaqî (w. 458 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Ibn Mâjah (w. 273 H), dan al-Hâkim (w. 405 H), meriwayatkan hadis ini melalui jalur yang sama sampai Ibn al-Mubârak. Yakni Ibn al-Mubârak dari Sulaimân at-Taimî dari Abî `Utsmân dari ayahnya dari Ma`qil bin Yasâr.
Terdapat perbedaan sedikit pada sanad an-Nasâ’î (w. 303 H), yakni Ibn al-Mubârak dari Sulaimân at-Taimî dari Abî `Utsmân dari Ma`qil bin Yasâr. Sedangkan Ibn Hibbân (w. 354 H) mendapatkan hadis ini dari `Imrân bin Mûsâ dari Abî Bakr bin Khallâd dari Yahyâ al-Qaththân dari Sulaimân at-Taimî dari Abî `Utsmân dari Ma`qil bin Yasâr. Sanad an-Nasâ’î (w. 303 H) dan Ibn Hibbân (w. 354 H) ini menjelaskan bahwa Abî `Utsmân mendapatkan hadis ini langsung dari Ma`qil bin Yasâr, bukan melalui ayahnya.
            Penjelasan ini membuktikan bahwa hadis ini, dari segi jalurnya adalah hadis ahâd. Sedangkan status kekuatannya, ulama berbeda pandangan. Banyak ulama hadis mendaifkan hadis di atas. Al-Albânî, pen-tahqîq kitab Sunan Ibn Mâjah, menyebutkan bahwa hadis ini adalah hadis lemah.[8] Kelemahan hadis ini terletak pada perawi yang bernama Abû `Utsmân dan ayahnya. Menurut al-Mundzirî, bahwa Abû `Utsmân dan ayahnya adalah orang yang tidak kenal.[9]
             Dalam bukunya Irwâ’ al-Ghalîl fî Takhrîj Ahâdîts Manâr as-Sabîl, al-Albânî menjelaskan dengan panjang lebar kedudukan hadis di atas. Menurutnya, hadis ini lemah berdasarkan tiga alasan. Pertama, perawi hadis yang bernama Abû `Utsmân adalah perawi majhul (tidak dikenal). Kedua, ayah Abî `Utsmân juga tidak dikenal. Ketiga, terjadi idhthirâb (kekacauan dalam periwayatan), di satu sisi disebutkan bahwa Abû `Utsmân meriwayatkan dari ayahnya, di sisi lain disebutkan Abû `Utsmân meriwayatkan langsung dari Ma`qil bin Yasâr.[10]
            Selain itu, al-Albânî menukil dari Ibn al-Qaththân, dia berkata bahwa Abû Bakr Ibn al-`Arabî menukil dari ad-Dâraquthnî, bahwa hadis di atas adalah hadis daif sanadnya, majhul (tidak diketahui) matannya, dan tidak ada satu hadis pun yang sahih dalam pembahasan ini.[11]
Namun demikian, al-Hâkim (w. 405 H) meletakkan hadis ini dalam bukunya al-Mustadrak `Alâ ash-Shahîhain. Buku ini dimaksudnya untuk menjelaskan kesahihan hadis yang tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Namun, ketika meriwayatkan hadis ini, al-Hâkim (w. 405 H), tidak menjelaskan secara tegas kesahihannya, sebagaimana dia menegaskan hadis-hadis yang lain. Ada hal penting yang harus digarisbawahi, bahwa al-Hâkim (w. 405 H) adalah ulama yang terlalu mudah (mutasahhil) dalam menilai sebuah hadis, sehingga hadis yang sahih menurutnya, boleh jadi kurang kuat menurut ulama lain.
Pen-tahqîq kitab Syu`ab al-Îmân, Abû Hâjir Muhammad as-Sa`îd bin Basyûnî Zaghlûl, menjelaskan bahwa al-Hâkim menyatakan hadis dengan sanad al-Baihaqî (w. 458 H) di atas adalah sahih.[12] Sebagaimana al-Hâkim (w. 405 H) juga meriwayatkan hadis yang sama, dan dengan jalur yang sama.
Bukan hanya itu, Ibn Hibbân (w. 354 H) meletakkan hadis ini dalam kitab hadisnya, Shahîh Ibn Hibbân. Sesuai namanya, hadis-hadis dalam kitab tersebut dianggap sahih oleh penulisnya.
Mengenai tidak dikenalnya Abû `Utsmân dan ayahnya, adz-Dzahabî (w. 748 H) menjelaskan dalam bukunya Mîzân al-I`tidâl fî Naqd ar-Rijâl bahwa Abû `Utsmân tidak dikenal. Ibn al-Madini menyatakan bahwa tidak ada yang meriwayatkan hadis darinya kecuali Sulaimân at-Taimî.[13] Ibn Hajr al-`Asqalânî (w. 852 H) menyebutkan bahwa nama Abû `Utsmân adalah Sa`d, dengan tanpa menyebutkan nama ayahnya.[14] Namun, Ibn Hibbân (w. 354 H) memasukkan Abû `Utsmân dalam buku ats-Tsiqât-nya.[15] Hal ini menunjukkan bahwa Ibn Hibbân (w. 354 H) menggolongkannya ke dalam perawi-perawi yang dapat dipercaya, walau tidak dikenal. Begitulah perbedaan pendapat ulama tentang perbedaan status hadis di atas.

b.     Makna Hadis
Mengenai makna hadis, bahwa Rasul saw memerintahkan umat Islam untuk membacakan surat Yâsîn kepada mautâ di antara kamu. Kata mautâ, bisa diartikan orang yang sudah meninggal dunia, atau orang sedang sekarat menghadapi kematiannya.
Ibn Hibbân (w. 354 H) meletakkan hadis ini pada bab tentang al-muhtadhar (orang yang sekarat menghadapi kematian), dan Ibn Mâjah (w. 273 H) meletakkannya pada bab mâ jâ’a fîmâ yuqâl `inda al-marîdh idzâ hadhar (tentang yang diucapkan kepada orang sakit yang menghadapi kematian). Sedangkan an-Nasâ’î (w. 303 H) meletakkan hadis tersebut pada bab mâ yuqra’ `alâ al-mait (tentang yang dibacakan kepada orang yang meninggal dunia).[16]
 Dari sini, ulama berbeda pendapat tentang membaca surat Yâsîn, apakah setelah meninggal dunia atau sebelum meninggal dunia. Sebenarnya kedua pendapat ini bisa diterima, sebagaimana ulama hadis memosisikan hadis tersebut pada orang sedang menghadapi sekarat maut atau orang yang sudah meninggal dunia. Jadi silakan dibaca pada orang yang sudah meninggal dunia untuk mendapatkan keberkahan dari ayat-ayat Alquran yang dibacakan, atau kepada orang yang sedang sekarat supaya dimudahkan oleh Allah proses pencabutan ruhnya.
Dalam salah hadis yang dinukil oleh al-Qurthubî (w. 671 H) dari al-Âjurri, dari hadis Umm ad-Darda’, Nabi saw bersabda:
مَا مِنْ مَيِّتٍ يُقْرَأُ عَلَيْهِ سُورَةُ يس إِلَّا هَوَّنَ اللَّهُ عَلَيْهِ.
“Tidaklah orang yang sedang sekarat, dibacakan kepadanya surat Yâsîn, kecuali Allah memudahkan kematiannya.”[17] Hadis ini juga dinukil oleh as-Suyûthî (w. 911 H) dalam tafsirnya ad-Durr al-Mantsûr fî Tafsîr bi al-Ma’tsûr.[18]
Dalam kitab al-Musnad, Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) meriwayatkan sebuah hadis bahwa para syaikh menghadiri Ghudhaif bin al-Hârits sedang sekarat, lalu dia berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa membacakan surat Yâsîn?” Kemudian Shâlih bin Syuraih as-Sukûnî membaca surat Yâsîn. Ketika sampai pada ayat ke-40, Ghudhaif pun meninggal dunia dengan tenang. Para Syaikh berkata:
إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا.
“Apabila dibacakan surat Yâsîn kepada orang yang sekarat, maka dimudahkan matinya.”[19] Hadis ini juga dinukil oleh as-Suyûthî (w. 911 H).[20]
            Pen-tahqîq kitab al-Musnad, Hamzah Ahmad az-Zain menjelaskan bahwa riwayat di atas adalah atsar dengan sanad yang sahih. Dari sini, para ulama menyukai membaca surat Yâsîn kepada orang yang sekarat. Hal ini menguatkan hadis, “Bacalah surat Yâsîn terhadap orang yang meninggal dunia/sekarat (di antara) kamu.” Riwayat ini saling menguatkan. Dan perbuatan ini bukanlah perbuatan bid`ah, sebagaimana dituduhkan pihak-pihak tertentu.[21]

22. Hadis yang menjelaskan bahwa surat Yâsîn adalah hati/inti Alquran. Nabi saw bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ اْلقُرْآنِ يس، وَمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ اْلقُرْآنِ عَشَرَ مَرَّات.
“Sesungguhnya setiap sesuatu ada hati, dan hati Alquran adalah surat Yâsîn. Siapa yang membaca surat Yâsîn, Allah tuliskan baginya seperti membaca Alquran sepuluh kali.”

a.      Takhrij Hadis
Hadis di atas, dengan redaksi yang telah disebutkan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzî (w. 279 H) dalam kitabnya Sunan at-Tirmidzî. Silsilah sanad-nya adalah at-Tirmidzî (w. 279 H) mendapatkan hadis ini dari Qutaibah dan Sufyân bin Wakî`, mereka berdua mendapatkannya dari Humaid bin Abd ar-Rahmân, dari al-Hasan bin Shâlih, dari Hârun Abî Muhammad, dari Muqâtil bin Hayyân, dari Qatâdah, dari Anas, dari Rasul saw.[22] Dengan sanad dan matan yang sama juga diriwayatkan oleh ad-Dârimî (w. 255 H) dalam Sunan ad-Dârimî,[23] dan al-Baihaqî (w. 458 H) dalam Syu`ab al- Îmân.[24]
Dengan redaksi yang berbeda, Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) meriwayatkan dari `Ârim, dari Mu`tamir, dari ayahnya, dari seorang laki-laki, dari ayahnya, dari Ma`qil bin Yasâr, bahwa Nabi saw bersabda:
وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ.
“Dan surat Yâsîn adalah hati Alquran. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharapkan rida Allah dan pahala di kampung Akhirat, kecuali diampunkan dosanya. Dan bacalah surat Yâsîn kepada orang mati (di antara) kamu.”[25] Dengan redaksi dan sanad yang mirip juga diriwayatkan oleh an-Nasâ’î (w. 303 H) dalam Sunan al-Kubrâ.[26]
At-Tirmidzî (w. 279 H) sendiri menyatakan bahwa hadis tersebut adalah daif, karena majhûl (tidak diketahuinya) Hârun Abû Muhammad. Sedangkan pen-tahqîq kitab ini, al-Albânî menyatakan hadis tersebut palsu.[27] Dalam bukunya yang lain, Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha`îfah wa al-Maudhû`ah wa Atsaruhâ as-Sayyi` fî al-Ummah, al-Albânî menerangkan argumen kepalsuannya. Al-Albânî mejelaskan bahwa at-Tirmidzî (w. 279 H) tersalah dalam menetapkan perawi hadis yang bernama Muqâtil, yang dianggap oleh at-Tirmidzî (w. 279 H) dan ad-Dârimî (w. 255 H) sebagai Muqâtil bin Hayyân. Padahal yang sebenarnya adalah Muqâtil bin Sulaimân. Muqâtil bin Sulaimân adalah seorang pendusta dan pemalsu hadis. Penjelasan ini dikuatkan oleh al-Albânî dengan pernyataan yang sama dari Ibn Abî Hâtim dan adz-Dzahabî (w. 748 H).[28] Penjelasan al-Albânî ini, lebih kurang, juga dijelaskan oleh pen-tahqîq kitab Sunan ad-Dârimî, Husain Salîm Asad ad-Dârânî.[29]
Sedangkan sanad Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) di atas, oleh pen-tahqîq kitabnya al-Musnad, Hamzah Ahmad az-Zain, dinilai lemah. Hal ini dikarenakan ada dua perawi yang tidak diketahui secara pasti.

b.     Makna Hadis
Yang dimaksud dengan hati Alquran adalah intinya. Surat Yâsîn disebut sebagai hati Alquran, sebagaimana dijelaskan oleh al-Mubârakfûrî (w. 1353 H), karena di dalamnya tertera ayat-ayat yang menceritakan mahsyar dan hari berbangkit dengan cara yang paling baligh. Ath-Thîbî menyebutkan bahwa di dalam surat Yâsîn terdapat bukti-bukti dan tanda-tanda yang jelas tentang kebesaran Allah dan kebenaran hari kemudian, ilmu-ilmu yang tersembunyi, makna yang halus dan dalam, janji yang menakjubkan, dan ancaman yang menakutkan.[30]
Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa surat Yâsîn, seluruhnya, mampu menggerakkan dan menembus hati kecil untuk mengakui ketuhanan Allah dan keesaan-Nya, serta memercayai dengan teguh hati berbangkit dan pembalasan.[31]
Ibn `Ajîbah (w. 1224 H) dalm bukunya al-Bahr al-Madîd, menyebutkan bahwa surat Yâsîn adalah hati/inti Alquran, dan inti pada surat Yâsîn tersebut adalah ayat ke-58, firman Allah, سَلاَمٌ قَوْلاً مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ, ‘salâm’ sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Menurut Ibn `Ajîbah (w. 1224 H) pada ayat tersebut tersimpan rahasia kedekatan hamba dengan Allah SWT.[32]

3.      Hadis membaca surat Yâsîn pada waktu tertentu. Nabi saw bersabda:
مَنْ قَرَأَ يس فِيْ لَيْلَةٍ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ أَوْ مَرْضَاةِ اللهِ غُفِرَ لَهُ.
“Siapa yang membaca surat Yâsîn pada malam hari, karena mengharapkan rida Allah, diampuni baginya.”

a.      Takhrij Hadis
Hadis di atas diriwayatkan oleh ad-Dârimî (w. 255 H). Dia mendapatkan hadis tersebut dari Abî al-Walîd Mûsâ bin Khâlid dari Mu`tamir dari ayahnya, dia (ayah Mu`tamir) berkata, “Disampaikan kepadaku dari al-Hasan,” dia menyebutkan hadis di atas.[33] Menurut pen-tahqîq kitab Sunan ad-Dârimî, Husain Salîm Asad ad-Dârânî menyebutkan bahwa hadis di atas adalah hadis lemah karena sanadnya terputus,[34] ayah Mu`tamir tidak mendapatkan hadis ini langsung dari al-Hasan, hanya disampaikan kepadanya, dan tidak diketahui siapa yang menyampaikannya.
Dengan redaksi yang sedikit berbeda, dan sanad yang berbeda, ad-Dârimî (w. 255 H) meriwayatkan dari al-Walîd bin Syujâ`, dari ayahnya, dari Ziyâd bin Khaitsamah, dari Muhammad bin Juhâdah, dari al-Hasan, dari Abî Hurairah, bahwa Nabi bersabda:
مَنْ قَرَأَ يس فِيْ لَيْلَةٍ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ فِيْ تِلْكَ الْلَيْلَةِ.
“Siapa yang membaca surat Yâsîn pada malam hari karena mengaharapkan rida Allah, diampuni baginya pada malam itu.”[35] Husain Salîm Asad ad-Dârânî juga menyebutkan bahwa hadis ini lemah.[36]
            Seperti dua hadis di atas juga diriwayatkan oleh al-Baihaqî (w. 458 H) dalam Syu`ab al- Îmân,[37] dan Ibn Hibbân (w. 354 H) dalam Shahîh Ibn Hibbân.[38] Ketika Ibn Hibbân (w. 354 H) meletakkan sebuah hadis dalam buku hadisnya tersebut, menurutnya hadis-hadis tersebut adalah sahih.
Ibn Katsîr (w. 774 H) meriwayatkan hadis dengan redaksi yang mirip, dan sanad yang berbeda: dari Ishâq, dari Hajjâj bin Muhammad, dari Hisyâm bin Ziyâd, dari al-Hasan, dari Abî Hurairah, Rasul bersabda:
مَنْ قَرَأَ يس فِيْ لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ. وَمَنْ قَرَأ حم الَّتِي فِيْهَا الدُخَان أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ.
“Siapa yang membaca surat Yâsîn pada malam hari diampuni baginya. Siapa yang membaca surat Hâmîm yang disebutkan di dalamnya ad-dukhân, diampuni baginya.” Menurut Ibn Katsîr (w. 774 H), hadis ini diriwayatkan oleh Abû Ya`lâ dengan sanad yang baik.[39] Ini menguatkan pendapat Ibn Hibbân yang menyatakan hadis seperti ini adalah sahih.
Ad-Dârimî (w. 255 H) meriwayatkan beberapa hadis lagi mengenai keutamaan surat Yâsîn yang dibaca pada waktu-waktu tertentu. Namun, menurut pen-tahqîq-nya, Husain Salîm Asad ad-Dârânî, hadis-hadis tersebut bermasalah. Hadis-hadis tersebut adalah:
مَنْ قَرَأَ يس فِيْ صَدْرِ النَّهَارِ قُضِيَتْ حَوَائِجُهُ.
“Siapa yang membaca surat Yâsîn pada permulaan siang, ditunaikan segala kebutuhannya.” Hadis ini diriwayatkan oleh ad-Dârimî dari `Athâ’ bin Abî Rabâh.[40]
مَنْ قَرَأَ يس حِيْنَ يُصْبِحُ أُعْطِيَ يُسْرَ يَوْمِهِ حَتىَّ يُمْسِيَ، وَمَنْ قَرَأَهَا فِيْ صَدْرِ لَيْلَةٍ أُعْطِيَ يُسْرَ لَيْلَتَهُ حَتّّى يُصْبِحَ.
“Siapa yang membaca surat Yâsîn pada pagi hari, diberikan kemudahan pada hari itu sampai sore hari. Siapa yang membacanya pada permulaan malam, diberikan kemudahan pada malamnya sampai waktu subuh.” Hadis ini diriwayatkan oleh ad-Dârimî dari Ibn `Abbâs.[41] Pen-tahqîq kitab Sunan ad-Dârimî, Husain Salîm Asad ad-Dârânî menjelaskan bahwa sanad hadis ini hasan/baik, namun dinilai mauqûf/terhenti hanya sampai pada Ibn `Abbâs, tidak kepada Nabi saw.[42] Namun, menurut penulis, boleh jadi hadis marfû` kepada Nabi saw.
           
b.     Makna Hadis
Terlepas dari perdebatan tentang sanad hadis di atas, makna hadis tersebut sungguh jelas. Agaknya makna hadis-hadis di atas tidak bertentangan dengan Alquran, bahkan menguatkan. Kebaikan-kebaikan dilakukan, termasuk membaca Alquran, akan mendatangkan pahala dan menghapuskan dosa. Hal ini ditegaskan dalam Alquran:
¨bÎ) ÏM»uZ|¡ptø:$# tû÷ùÏdõムÏN$t«ÍhŠ¡¡9$#
“Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” (QS. Hûd [11]: 114). Dalam sabdanya, Nabi Muhammad menjelaskan:
أَتْبِع السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
“Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbutan baik tersebut akan menghapuskan perbuatan buruk, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, al-Baihaqî, ad-Dârimî, dan at-Tirmidzî).[43]
Namun, jangan dipahami hadis ini sebagai legalitas bagi perbuatan buruk. Maksud hadis ini adalah bagi orang yang terlanjur berbuat buruk, maka dia harus bertobat dan berbuat baik, karena perbuatan baiknya menghapuskan perbuatan jahat yang telah dilakukannya. Selanjutnya, membaca Alquran mendatangkan keberkahan yang membuat hari-hari pembacanya menjadi lebih baik dan mendatangkan kemudahan dan kebaikan.
Dalam hadis yang juga masih diperdebatkan, al-Qurthubî (w. 671 H) menukil dari ats-Tsa`labî dari Abî Hurairah, Nabi saw bersabda:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ يس لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَصْبَحَ مَغْفُورًا لَهُ.
“Siapa yang membaca surat Yasin pada malam Jumat, niscaya dosanya diampuni.”[44] Sekali lagi ingin ditegaskan bahwa hadis ini dinilai bermasalah, sebagaimana hadis di atas.

4.      Hadis Allah membaca surat Yâsîn sebelum penciptaan langit dan bumi. Nabi saw bersabda:
اِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَرَأَ طه ويس قَبْلَ اَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِأَلْفِ عَامٍ، فَلَمَّا سَمِعَتِ اْلمَلاَئِكَةُ الْقَرْآنَ، قَالَتْ: طُوبَى لأُمَّةٍ يَنْزِلُ هَذَا عَلَيْهَا، وَطُوْبَى لأَجْوَافٍ تَحْمِلُ هَذَا، وَطُوْبَى لأَلْسِنَةٍ تَتَكَلَّمَ بِهَذَا.
“Sesungguhnya Allah membaca surat Thâhâ dan surat Yâsîn sebelum menciptakan langit dan bumi seribu tahun. Ketika para malaikat mendengar bacaan Alquran tersebut, mereka berkata, “Beruntunglah umat yang diturunkan surat ini kepadanya, beruntunglah rongga yang membawa surat ini, dan beruntunglah lidah yang membaca surat ini.”

a.      Takhrij Hadis
Hadis di atas diriwayatkan oleh ad-Dârimî (w. 255 H) dalam Sunan ad-Dârimî. ad-Dârimî (w. 255 H) mendapatkan hadis ini dari Ibrâhîm bin al-Mundzir, dari Ibrâhîm bin al-Muhâjir bin al-Mismâr, dari `Umar bin Hafsh bin Dzakwân, dari Maulâ (pembantu) al-Haraqah, dari Abî Hurairah, dari Nabi saw.[45] Al-Baihaqî (w. 458 H) juga meriwayatkan hadis ini dalam Syu`ab al- Îmân, dengan sanad yang sama.[46]
Sanad ini dinilai lemah sekali, karena keberadaan Ibrâhîm bin al-Muhâjir bin al-Mismâr dan `Umar bin Hafsh bin Dzakwân. Pen-tahqîq kitab Sunan ad-Dârimî, Husain Salîm Asad ad-Dârânî menjelaskan bahwa Ibrâhîm bin al-Muhâjir bin al-Mismâr dan `Umar bin Hafsh bin Dzakwân adalah lemah.[47]
Ibn Hajr al-`Asqalânî (w. 852 H), dalam bukunya Tahdzîb at-Tahdzîb menyebutkan bahwa Ibrâhîm bin al-Muhâjir bin al-Mismâr dilemahkan oleh ulama-ulama jarh dan ta`dîl.[48] Sedangkan `Umar bin Hafsh bin Dzakwân, menurut Ahmad, hadisnya kami tinggalkan dan dibuang, dikuatkan oleh an-Nasâ’î dan as-Sâjî. Ad-Dâraquthnî menyatakan bahwa `Umar bin Hafsh bin Dzakwân adalah lemah. Ibn Hibbân dan Ibn Jawzî menyatakan bahwa hadis tersebut adalah palsu.[49] Adz-Dzhabî (w. 748 H), dalam Mîzân al-I`tidâl fî Naqd ar-Rijâl-nya memperkuat kepalsuan hadis ini, bahkan dia menukil dari al-Bukhârî bahwa hadis ini adalah hadis munkar.[50]

b.     Makna Hadis
Al-Baihaqî (w. 458 H) menjelaskan penggalan hadis menyatakan bahwa Allah membaca surat Thâhâ dan Yâsîn, yang dimaksud adalah Allah membicarakan kedua surat ini kepada para malaikat dan mereka pun memahami keagungan dan kemuliaan surat tersebut.[51] Sehingga, para malaikat menyatakan beruntunglah umat yang diturunkan kedua surat ini kepada mereka, juga beruntung orang yang membacanya.
 
5.      Hadis surat Yâsîn sebagai obat. Nabi saw bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ فِي الْقُرْآنِ لَسُورَةً تَشْفَعُ لِقُرَّائِهَا وَيُغْفَرُ لِمُسْتَمِعِهَا أَلَا وَهِيَ سُورَةُ يس تُدْعَى فِي التَّوْرَاةِ الْمُعِمَّةِ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْمُعِمَّةُ؟ قَالَ: تَعُمُّ صَاحِبَهَا بِخَيْرِ الدُّنْيَا وَتَدْفَعُ عَنْهُ أَهَاوِيلَ الْآخِرَةِ، وَتُدْعَى الدَّافِعَةَ وَالْقَاضِيَةَ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَدْفَعُ عَنْ صَاحِبِهَا كُلَّ سُوءٍ وَتَقْضِي لَهُ كُلَّ حَاجَةٍ، وَمَنْ قَرَأَهَا عَدَلَتْ لَهُ عِشْرِينَ حَجَّةً، وَمَنْ سَمِعَهَا كَانَتْ لَهُ كَأَلْفِ دِينَارٍ تَصَدَّقَ بِهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ كَتَبَهَا وَشَرِبَهَا أَدْخَلَتْ جَوْفَهُ أَلْفَ دَوَاءٍ وَأَلْفَ نُورٍ وَأَلْفَ يَقِينٍ وَأَلْفَ رَحْمَةٍ وَأَلْفَ رَأْفَةٍ وَأَلْفَ هدى وَنزع عَنْهُ كُلُّ دَاءٍ وَغِلٍّ.
“Dari `Âisyah, bahwa Rasu saw bersabda, “Sungguh, dalam Alquran ada satu surat yang dapat memberi syafaat bagi pembacanya, diampunkan bagi pendengarnya, itulah surat Yâsîn. Dalam Taurat, surat ini disebut al-mu`immah.” Dikatakan, “Apakah al-mu`immah itu, wahai Rasul?” Dia menjawab, “Surat ini meliputi pembacanya dengan kabaikan dunia dan mencegah dari bahaya akhirat. Surat ini juga disebut pencegah dan mencukupkan. Dikatakan, “Bagaimana bisa demikian, wahai Rasul?” Dia menjawab, “Surat ini dapat mencegah pembacanya dari segala keburukan dan mencukupkan dari segala yang dibutuhkan. Siapa yang membaca surat Yâsîn sebanding baginya haji 20 kali. Siapa yang mendengarnya, baginya seperti bersedekah 1000 dinar di jalan Allah. Siapa yang menulis dan meminumnya masuk dalam rongganya seribu obat, seribu cahaya, seribu yakin, seribu rahmat, seribu belas kasih, seribu petunjuk, serta dicabut darinya setiap penyakit dan rasa dengki.”

a.      Takhrij Hadis
Hadis seperti ini dituliskan oleh al-Qurthubî (w. 671 H) dalam tafsirnya al-Jâmi` li Ahkâm al-Qur’ân dengan tanpa memberikan catatan status hadis.[52] Namun, pen-tahqîq-nya, memberi catatan komentar perawi hadis, al-Baihaqî (w. 458 H), bahwa hadis ini adalah hadis munkar.[53] Begitu juga dijelaskan dalam tafsir h al-Ma`ânî fî Tafsîr al-Qur’ân al-`Azhîm wa as-Sab` al-Matsânî karya al-Alûsî (w. 1270 H).[54]
 Hadis di atas, dengan sanad yang lengkap dan sediki terjadi perbedaan matn, diriwayatkan oleh al-Baihaqî (w. 458 H) dalam Syu`ab al- Îmân. Menurut al-Baihaqî (w. 458 H), hadis ini hanya dari jalur Muhammad bin `Abd ar-Rahmân dari Sulaimân, dan dia adalah munkar.[55] Jadi, menurut periwayat sendiri, hadis ini adalah munkar.

b.     Makna Hadis
Kandungan hadis di atas sangat muluk. Di antara penggalannya yang tidak dapat diterima akal adalah, “Siapa yang menulis dan meminumnya masuk dalam rongganya seribu obat, seribu cahaya, seribu yakin, seribu rahmat, seribu belas kasih, seribu petunjuk, serta dicabut darinya setiap penyakit dan rasa dengki.” Iming-iming muluk seperti ini, ditambah dengan matn yang sulit diterima oleh akal sehat, biasa tanda-tanda hadis yang bermasalah. Allâhu a`lam.

Dari studi hadis keutamaan surat Yâsîn di atas, memang, seluruh hadis yang menerangkan keutamaan surat ini dipermasalahkan, walau tidak bisa dipungkiri di antara ulama hadis, jarh dan ta`dîl, seperti Ibn Hibbân, mensahihkan beberapa darinya. Namun, satu statement yang ingin penulis kuatkan, bahwa walaupun hadis-hadis ini dipermasalahkan, dengan melihat banyaknya riwayat, dari generasi ke generasi, kemungkinan besar keutamaan surat Yasin ini memang tsabit/ada dan diakui dalam syariat.

[2]  Redaksi hadisnya, اقرؤوا على موتاكم يس.
[3] Redaksi hadisnya, سورة يس اقرؤها عند موتاكم, redaksi dalam riwayat `Abdan, اقرؤها على موتاكم.
[4] Redaksi hadisnya, اقرؤوا على موتاكم يس.
[5] Redaksi hadisnya, اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ يَعْنِي يس, riwayat yang lain, اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ قَالَ عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ فِي حَدِيثِهِ يَعْنِي يس.
[16] Kata al-mait bermakna orang yang sudah meninggal dunia. Namun, jika dibaca kata tersebut dengan bacaan al-mayyit, maka maknanya adalah orang yang masih hidup, yang akan meninggal dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar