Senin, 08 Agustus 2016

Surat Yasin: KE-MAKKIYAH-ANNYA


Muhammad Arifin Jahari
 
Dalam mushaf Alquran, surat Yâsîn terletak pada urutan ke-36, setelah surat Fâthir dan sebelum surat ash-Shâffât. Sedangkan urutan turun, sebagaimana pendapat Jâbir bin Zaid yang diperpegang oleh al-Ja`barî, surat Yâsîn berada pada urutan ke-41. Turun setelah surat al-Jinn dan sebelum surat al-Furqân. Demikian penjelasan Ibn `Âsyûr (w. 1973 M) dalam Tafsîr at-Tahrîr wa at-Tanwîr.[1]
Penjelasan urutan turun ini juga ditegaskan oleh Quraish Shihab. Dia menambahkan bahwa surat Yâsîn turun sebelum terjadinya peristiwa Isrâ’ dan Mi`râj.[2] Perhitungan Quraish Shihab yang menyatakan bahwa surat Yâsîn turun sebelum terjadinya peristiwa Isrâ’ dan Mi`râj, adalah perhitungan yang terlalu jauh. Rusydî al-Badrâwî mengurutkan surat Yâsîn sebelum peristiwa hijrah beberapa kaum muslimin ke Habasyah, dan sebelum masuk Islamnya `Umar bin al-Khaththâb. Menurut penjelasan Rusydî al-Badrâwî dan pakar sejarah yang lain bahwa hijrah kaum muslimin ke Habasyah dan masuk Islamnya `Umar bin al-Khaththâb terjadi, kira-kira pada tahun ke-5 masa kenabian,[3] kira-kira 5 tahun sebelum peristiwa Isrâ’ dan Mi`râj.
Antara turunnya surat Yâsîn dan peristiwa masuk Islamnya `Umar bin al-Khaththâb, ada beberapa surat lagi yang Allah turunkan: QS. al-Furqan, QS. Fathir, QS. Maryam, dan QS. Thaha. Jadi, menurut perhitungan Rusydî al-Badrâwî, surat Yâsîn diturunkan antara tahun ke-4 dan ke-5 masa kenabian.[4]
Dari penjelasan di atas, menegaskan bahwa surat Yâsîn adalah surat makkiyah, yakni surat yang Allah turunkan sebelum Nabi Muhammad melakukan hijrah ke kota Madinah/Yatsrib. Dalam banyak kitab tafsir, di antaranya al-Jâmi` li Ahkâm al-Qur’ân karya al-Qurthubî (w. 671 H), menjelaskan bahwa surat Yâsîn tergolong dalam surat makkiyah secara ijmak, kecuali ayat ke-12, ada segolongan ulama menyatakannya sebagai ayat madaniyah, yakni turun setelah Nabi hijrah ke Madinah.[5] Tentang ke-madaniyah-an ayat ke-12 ini, akan dijelaskan ketika menafsirkan ayat tersebut pada pembahasan yang akan datang.
            Selain dari sejarah turun surat Yâsîn, ke-makkiyah-annya juga dapat dilihat dari tema yang terkandung dalam surat tersebut. Wahbah az-Zuhailî menjelaskan bahwa kandungan surat ini, sama seperti kandungan surat-surat makkiyah yang lain, yakni seputar pembahasan akidah.[6] Dalam surat Yâsîn ini dibahas tentang kekuasaan dan keesaan Allah, keagungan Alquran, urgensitas pengutusan Nabi Muhammad sebagai pembawa berita gembira dan ancaman, dan kebenaran hari berbangkit dengan pelbagai argumennya. Secara khusus, pembahasan ini akan dijelaskan pada ayat-ayat terkait dalam surat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar