Minggu, 07 Agustus 2016

Isra': Nabi Musa atau Nabi Muhammad



ISRᾹ’: NABI MŪSᾹ ATAU NABI MUḤAMMAD?[1]
Muhammad Arifin Jahari
Peminat Kajian Tafsir dan Ilmu Alquran

Masalah
Di antara musyakkik (orang yang menyebarkan keraguan) menyatakan bahwa nabi yang diisra’kan oleh Allah dalam QS. al-Isrā’ [17]: 1 adalah Nabi Mūsā. Hal ini dikarenakan tidak adanya penyebutan nama orang yang diisra’kan pada ayat tersebut, dan jika dikorelasikan (munāsabah) dengan ayat kedua yang menyebutkan nama Nabi Mūsā secara jelas, maka nabi yang diisra’kan pada ayat pertama dijelaskan oleh ayat kedua, dengan menerapkan ilmu munāsabah antarayat.[2] Dari sini mereka berkesimpulan bahwa yang diisra’kan oleh Allah adalah Nabi Mūsā, bukan Nabi Muḥammad.

Jawaban: Ilmu Munāsabah
Penulis mencoba mencari alasan/dalil dari statement di atas, namun tidak penulis dapatkan alasan yang lebih kuat, kecuali alasan/dalil munāsabah antarayat. Apakah alasan  ini, dapat diterima atau tidak? Untuk itu perlu dijelaskan teori-teori ulama tafsir dan ilmu Alquran terkait munāsabah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu munāsabah adalah ilmu penting dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran, menimbang bahwa susunan ayat dan surat berdasarkan tauqīfī, bukan disusun berdasarkan ijtihad ulama. Dalam bukunya, Mabāhits fī `Ulūm al-Qur’ān, Syaikh Mannā’ al-Qaththān menjelasakan bahwa mengetahui ilmu munāsabah antarayat memberikan pengaruh penting dalam penafsiran yang baik dan pemahaman yang dalam terhadap ayat-ayat Alquran.
Munāsabah yang dimaksud adalah keterkaitan antara satu kalimat dengan kalimat yang lain pada suatu ayat, atau keterkaitan antara satu ayat dengan ayat yang lain pada beberapa ayat, atau keterkaitan antara surat dengan surat yang lain. Demikian penjelasan Mannā’ al-Qaththān. Al-Qādhī Abū Bakr Ibn al-`Arabī (w. 543/1148), dalam bukunya Sirāj al-Murīdīn menjelaskan bahwa munāsabah adalah keterkaitan sebagian ayat Alquran dengan sebagian yang lain, sehingga ia ibarat satu kesatuan yang utuh, memberi makna yang luas dan seperti bangunan yang saling terkait dan tersusun rapi. Ia (munāsabah) adalah ilmu yang agung. Penjelasan ini juga dinukil oleh Imam Muḥammad bin Muḥammad bin Muḥammad ath-Thāhir bin `Ᾱsyūr at-Tūnisī (w. 1394/1973) dalam tafsirnya at-Taḥrīr wa at-Tanwīr: Taḥrīr al-Ma`nā as-Sadīd wa Tanwīr al-`Aql al-Jadīd min Tafsīr al-Kitāb al-Majīd.
Untuk itu, para ulama mempergunakan ilmu ini memahami ayat yang ingin ditafsirkan. Dalam tafsirnya, Mafātīḥ al-Ghaib, Imam Fakhr ad-Dīn ar-Rāzī (w. 606/1209) kerap kali menjelaskan munāsabah sebelum menafsirkan ayat yang ingin ditafsirkan. Bahkan, setelah masanya, berkembang kitab tafsir yang terkonsentrasi pada ilmu munāsabah secara khusus, di antaranya, al-Burhān fī Munāsabah Tartīb Suwar al-Qur’ān karya Abū Ja`far Aḥmad bin Ibrāhīm bin Zubair al-Andalūsī al-Naḥwī (w. 807/1404); dan Nazhm ad-Durar fī Tanāsub al-Ᾱyāt wa as-Suwar karya Burhān ad-Dīn Abū al-Ḥasan Ibrāhīm bin `Umar al-Biqā`ī (w. 885/1479). Karya yang terakhir ini adalah karya yang sudah tersebar secara luas di dunia Islam, di antaranya diterbitkan oleh Dār al-Kitāb al-Islāmiyah, Kairo, pada tahun 1404/1984.
Namun, yang menjadi catatan, tidaklah setiap yang disimpulkan dari ilmu munāsabah adalah maksud dari ayat itu sendiri, karena kesimpulan dari ilmu munāsabah adalah ijtihad, bukan tauqīfī sebagaimana susunan ayat dan surat itu sendiri. Syaikh Mannā’ al-Qaththān menjelasakan bahwa mengetahui munāsabah dan kaitan antara ayat bukanlah perkara tauqīfī, melainkan berpegang kepada ijtihad mufasir, ketercapaiannya untuk merasakan kemukjizatan Alquran dan rahasia kesusastraannya. Apabila kesimpulan munāsabah memiliki ketajaman analisis dan berkesesuaian dengan pondasi bahasa dan ilmu-ilmunya, maka kesimpulan tersebut dapat diterima. Sebaliknya, jika tidak berdasarkan analisis memadai dan tidak sesuai dengan ilmu-ilmu terkait, maka harus ditolak, walaupun mungkin benar, karena tafsir Alquran berdasarkan ilmu, bukan dugaan.
Jadi, menetapkan Nabi Mūsā sebagai orang yang diisra’kan oleh Allah dalam QS. al-Isrā’ [17]: 1, berdasarkan munāsabah-nya dengan ayat berikutnya, adalah sesuatu yang seharus berpegang pada analisis yang mendalam, tidak cukup hanya dengan penyebutan nama Mūsā pada ayat kedua. Pembahasan berikutnya akan membuktikan kekeliruan tafsiran tersebut.

Kata `Abd: Nabi Mūsā atau Nabi Muḥammad?
            “Mahasuci Allah yang memperjalankan hamba-Nya (`abdihi)….” Menurut Imam Ibn Katsīr (w. 774/1372), `abd yang dimaksud adalah Nabi Muḥammad, begitu juga penjelasan Tafsīr al-Jalālain karya dua Imam: Jalāl ad-Dīn al-Maḥallī (w. 864/1459) dan Jalāl ad-Dīn as-Suyūthī (w. 911/1505). Bahkan, menurut Imam Fakhr ad-Dīn ar-Rāzī, dalam tafsirnya Mafātīḥ al-Ghaib, sepakat ulama tafsir untuk menyatakan bahwa `abd pada ayat tersebut adalah Nabi Muḥammad saw. Penjelasan yang sama juga dituliskan oleh Syaikh Wahbah bin Mushthafā az-Zuḥailī, dalam tafsirnya at-Tafsīr al-Munīr fī al-`Aqīdah wa asy-Syarī`ah wa al-Manhaj. Sepanjang pembacaan penulis terhadap kitab-kitab tafsir, tidak satu kitab tafsir muktabarah pun yang menyatakan selain Nabi Muḥammad saw., termasuk kitab tafsir beraliran muktazilah seperti al-Kasysyāf `an Ḥaqā’iq at-Tanzīl wa `Uyūn al-Aqāwīl fī Wujūh at-Ta’wīl karya Abū al-Qāsim Jārullāh Maḥmūd bin `Umar az-Zamakhsyarī (w. 538/1143).
            Ayat ini tidak menyebutkan kata nabi atau rasul, apalagi namanya, Muḥammad, karena `abd adalah sebutan yang paling mulia. Menurut Syaikh Aḥmad ash-Shāwī al-Mālikī (w. 1241/1825), dalam Ḥāsyiyah ash-Shāwī `alā Tafsīr al-Jalālain, kata `abd mengisyaratkan sifat kehambaan (`ubūdiyah), sebagai sifat khusus dan paling mulia, karena jika sah penisbahan seorang hamba kepada Tuhannya dengan tidak menserikatkan-Nya dengan sesuatupun, maka beruntung dan bahagialah dia.
            Ketika menjelaskan sebab turun QS. al-Isrā’ [17]: 1, Imam Fakhr ad-Dīn ar-Rāzī mejalaskan bahwa tatkala Nabi Muḥammad telah sampai pada derajat dan tingkatan yang tinggi, Allah mewahyukan kepadanya, “Wahai Muḥammad, dengan apa engkau Aku muliakan?” Nabi Muḥammad menjawab, “Wahai Tuhanku, dengan menisbahkan aku kepada diri-Mu pada penghambaan (al-`ubūdiyah).” Lalu Allah menurunkan, “Mahasuci Allah yang memperjalankan hamba-Nya (`abdihi)…,” (QS. al-Isrā’ [17]: 1). Sebab turun ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dari kata `abd (hamba) adalah Nabi Muḥammad.
Imam al-Qurthubī menyebutkan bahwa jika ada sebutan untuk nabi Muhammad yang lebih mulia dari sebutan `abd ini, maka akan disebutkanlah nama tersebut. Namun, tidak ada nama yang lebih mulia dari penisbahan `abd kepada Allah. Penjelasan Imam al-Qurthubī ini juga dijelaskan oleh Imam `Abd ar-Raḥmān bin Muḥammad bin Makhlūf ats-Tsa`ālibī dalam tafsirnya, al-Jawāhir al-Ḥisān fī Tafsīr al-Qur’ān.
Mungkin timbul pertanyaan, jika kata `abd pada ayat tersebut dinyatakan sebagai Nabi Muḥammad, mengapa pada ayat kedua disebutkan Nabi Mūsā? Seolah-olah kedua ayat tersebut tidak memiliki korelasi, karena lompatannya sangat jauh: antara Nabi Muḥammad dan Nabi Mūsā. Apa kira-kira munāsabah kedua ayat tersebut?
            Imam Fakhr ad-Dīn ar-Rāzī, dalam tafsirnya Mafātīḥ al-Ghaib menjelaskan bahwa ketika Allah memuliakan Nabi Muḥammad dengan isra’ pada ayat pertama, Dia memuliakan Nabi Mūsā dengan memberikan al-Kitāb pada ayat kedua. Jadi menurut ar-Rāzī, korelasinya terletak pada pemuliaan Allah terhadap dua nabi tersebut. Penjelasan yang sama juga ditegaskan oleh Imam al-Qurthubī dan Syaikh Wahbah az-Zuḥailī, masing-masing dalam tafsirnya. Memang, menurut Syaikh Jamāl ad-Dīn al-Qāsimī dalam tafsir Maḥāsin at-Ta`wīl, penggandengan antara Nabi Mūsā dan Nabi Muḥammad sering terjadi dalam Alquran, sebagaimana penggandengan antara Alquran dan Taurat.
            Lebih rinci, penjelasan korelasi antara dua ayat tersebut dijelaskan oleh Imam al-Biqā`ī dalam Nazhm ad-Durur-nya. Selanjutnya dia menegaskan, setelah Allah menyebutkan kuasa-Nya dengan mengisra’kan Nabi Muḥammad pada ayat pertama, Allah jelaskan perihal Nabi Mūsā yang juga pernah diisra’kan dari Mesir ke Palestina, namun memakan waktu yang lama. Dalam dua ayat tersebut, menurut Imam al-Biqā`ī, dapat diterapkan teori al-iḥtibāk.[3] Dalam hal ini, penyebutan isrā’ (memperjalankan) pada ayat pertama mengindikasikan pembuangan kata tersebut pada ayat kedua; dan penyebutan kata ītā’ (memberikan al-Kitāb) pada ayat kedua mengindikasikan pembuangannya pada ayat pertama. Dengan kata lain, sebagaimana Allah memperjalankan (isrā’) Nabi Muḥammad, begitu juga diisra’kan Nabi Mūsā namun dengan memakan waktu yang lama; dan sebagaimana Allah memberikan al-Kitāb kepada Nabi Mūsā, begitu juga Allah memberikan Alquran kepada Nabi Muḥammad, yang pada akhirnya kedua kitab ini mengajak pada “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.”
            Menurut Imam al-Biqā`ī lagi, penyebutan nama Nabi Mūsā pada ayat yang kedua juga memiliki kaitan dalam peristiwa mikraj, yakni ‘bolak-balik-nya’ Nabi Muḥammad kepada Allah untuk pengurangan jumlah rakaat salat, berdasarkan usulan dari Nabi Mūsā. Peristiwa ini dijelaskan dalam hadis Nabi yang diriwayatkan, di antaranya oleh Imam al-Bukhārī dalam Kitab ash-Shaḥīḥ-nya. Menurutnya lagi, penyebutan nama Nabi Mūsā setelah ayat isra’ Nabi Muḥammad, ingin membandingkan kedudukan dan posisi antara keduanya. Nabi Mūsā diperintahkan untuk puasa 30 hari ditambah 10, sehingga genap menjadi 40 hari,[4] sebelum menghadap/bermunajat kepada Allah, sedangkan Nabi Muḥammad tidak perlu melakukan demikian untuk menghadap Allah dalam mikrajnya. Di sisi juga terjadi perbedaan, krtika Nabi Mūsā diperintahkan untuk datang menghadap Allah, sedangkan Nabi Muḥammad diperjalankan oleh Allah dengan cara di luar kemampuan manusia.
            Menurut al-Imām Muḥammad ath-Thāhir Ibn `Ᾱsyūr menjelaskan korelasi QS. al-Isrā’ [17]: 1-2, bahwa Allah memperjalankan hamba-Nya, Nabi Muḥammad, dan memberikan al-Kitāb kepada Nabi Mūsā, dan keduanya adalah anugrah/pemberian yang besar kepada manusia. Dalam dua ayat ini terjadi perpindahan dari satu uraian pada uraian yang berbeda, dan munasabahnya terletak pada penyebutan Masjidil Aqsha. Perkembangan yang terjadi pada Masjidil Aqsha merupakan gambaran kondisi Bani Israel dalam persatuan dan perkembangan mereka: baik-buruk dan maju-mundurnya. Itu semua diisyaratkan oleh ayat ini supaya umat Islam mengambil pelajaran untuk ditiru kejayaan dan kebaikannya atau dihindari kemunduran dan keburukannya. 
Dengan demikian, penjelasan ini semua, menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kata `abd, sebagai objek isra’, adalah Nabi Muḥammad, walau pun dengan menggunakan teori munāsabah antara ayat 1 dan 2 Surat al-Isrā’. Selanjutnya, kata `abd pada QS. al-Isrā [17]: 1 tersebut adalah Nabi Muḥammad, dengan menimbang munāsabah ayat tersebut dengan ayat-ayat sebelumnya, di akhir QS. an-Naḥl. Allah berfirman:
“Bersabarlah (wahai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang muḥsin.” (QS. an-Naḥl [16]: 127-128).
            Penghujung surat an-Naḥl ini berkesesuaian dengan awal surat al-Isrā’ yang diletakkan secara berdampingan. Mengaitkan akhir surat an-Naḥl dengan awal surat al-Isrā’ di atas, Syaikh Muḥammad Mutawallī asy-Sya`rāwī menjelaskan panjang lebar dan dikaitakn dengan kondisi kejiwaan Nabi Muḥammad yang sedang bersedih, singkatnya, pada akhir surat an-Naḥl disebutkan bersabarlah engkau Muḥammad dalam menghadapi kondisi pada tahun kesedihan itu (`ām al-ḥuzn), dan janganlah engkau bersempit dada terhadap muslihat dan tipu daya orang kafir. Allah menjamin bahwa Dia bersama orang bertakwa dan muḥsin. Pada awal surat al-Isrā’ saatnya Allah membuktikan dan menghibur Nabi Muḥammad dengan isra’ dan mikraj, seolah-olah dikatakan, “Jika penduduk bumi menghinakanmu, maka penduduk langit menyambutmu dengan penuh kemuliaan. Jika engkau merasa sempit berada dengan makhluk, maka engkau berlapang-lapang bersama Allah.”
            Imam al-Biqā`ī kembali menjelaskan korelasi penghujung surat an-Naḥl dengan awal surat al-Isrā’: setelah Allah menyebutkan bahwa Dia bersama orang-orang yang bertakwa dan muḥsin, pada akhir surat an-Naḥl, lalu Allah jelaskan bahwa tokoh utama dalam takwa dan iḥsān tersebut adalah Nabi Muḥammad yang Allah isra’kan pada awal surat al-Isra’. Dengan ini maka sempurnalah pembahasan munāsabah QS. al-Isrā’ [17]: 1, dengan ayat sebelum dan sesudahyatnya, untuk menegaskan maksud kata `abd pada ayat tersebut adalah Nabi Muḥammad, bukan Nabi Mūsā.
            Selain ilmu munāsabah yang membuktikan bahwa Nabi Muḥammadlah yang diisra’kan pada QS. al-Isrā’ [17]: 1 tersebut, secara historis juga menguatkan hal ini. Berdasarkan data atau riwayat, sepanjang pembacaan penulis terhadap kitab tārīkh/sejarah dan kisah-kisah kenabian Nabi Mūsā, belum penulis dapatkan satu data/riwayat pun bahwa Nabi Mūsā diisra’kan pada sebagian malam,[5] dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha sebagaimana dalam QS. al-Isrā’ [17]: 1.
            Hal ini berbeda dengan sejarah Nabi Muḥammad, menurut Imam al-Qurthubī, peristiwa isra’ pada Nabi Muḥammad terdapat pada semua kitab hadis. Peristiwa ini diriwayatkah oleh banyak sahabat pada setiap wilayah Islam, dan termasuk dari riwayat mutawātir yang tidak boleh diingkari. Menurut an-Naqqāsy, sebagaimana dinukil oleh al-Qurthubī, yang meriwayatkan peristiwa isra’ Nabi Muḥammad adalah dua puluh sahabat. Menurut penulis, peristiwa isra’ Nabi Muḥammad dinukil dari generasi ke generasi sampai saat ini secara mutawātir. Berdasarkan ini, data/riwayat mutawātir ini sudah menjadi fakta sejarah, yang mungkin tidak perlu dibuktikan secara saintific, karena memang sudah terbukti berdasar riwayat yang meyakinkan.
            Walau demikian, ada perbedaan pendapat tentang kapan peristiwa isra’ ini terjadi. Dalam bukunya, Qashash al-Anbiyā’ wa at-Tārīkh, pakar sejarah Islam, Rusydī al-Badrāwī menjelaskan bahwa perististiwa isra’ dan mikraj terjadi pada tahun kesedihan (`ām al-huzn), setelah meninggalnya Abū Thālib dan Khadījah. Khadījah wafat pada 10 Ramadan tahun 10 kenabian, sedangkan Abū Thālib meninggal dunia pada sebulan lima hari sebelum wafatnya Khadījah. Untuk tanggal kejadiannya, menurut al-Badarāwī, berbeda pendapat ulama, ada yang menyatakan tanggal 17 atau 27, bulan Rabiul Awal atau bulan Rajab. Namun, yang makruf dilaksanakan perayaannya pada saat ini adalah 27 Rajab. Sekali lagi ingin dibuktikan bahwa Nabi yang diisra’kan pada QS. al-Isrā’ [17]: 1 adalah Nabi Muḥammad berdasarkan fakta sejarah.



[1] Artikel ini, untuk pertama kalinya, disampaikan pada pengajian Majelis Taklim al-Ittihad, Komplek Wartawan Medan, Sabtu malam, 7 Mei 2016.
[2] Kedua ayat tersebut adalah:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya dia adalah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.” (QS. al-Isrā’ [17]: 1-2).
[3] Al-iḥtibāk bermakna menenun dan memintal, artinya menenun dan memintal suatu pemahaman ayat dengan apa-apa yang dibuang/tidak dijelaskan dalam ayat tersebut, namun memiliki indikasi pembuangan pada ayat setelah atau sebelumnya.
[4] Hal ini dijelaskan dengan pelbagai penafsirannya, dalam QS. al-A`rāf [7]: 142.
[5] Kata asrā dan lailan menunjukkan bahwa perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha tersebut ditempuh dalam waktu singkat, tidak sampai menghabiskan satu malam secara keseluruhan. Demikian penjelasan Imam Fakhr ad-Dīn ar-Rāzī.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar