Senin, 01 Mei 2017

TAFSIR QS. AL-AN`ÂM [6]: 93




Dr. Muhammad Arifin Jahari

 وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

“Dan siapakah yang lebih zalim dari orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau (orang) yang berkata, “Telah diwahyukan kepada saya,” padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata, “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” (Alangkah dahsyatnya) sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Pada hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar, dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”

I
Ayat di atas menegaskan bahwa tidak ada kezaliman yang lebih besar dari orang yang membuat kedustaan terhadap Allah, atau menyatakan bahwa dia telah mendapatkan wahyu, dan orang yang menyatakan bahwa dia mampu menurunkan/membuat sebagaimana ayat yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw.
Sebagian ulama tafsir, di antaranya Imam Ibn Jarîr ath-Thabarî, al-Qurthubî, dan Wahbah az-Zuhailî, menyebutkan bahwa sebab turun penggalan ayat, “man iftarâ `alâ Allâhi kadziban aw qâla ûhiya ilayya wa lam yûhâ ilaihi syay’un/orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau (orang) yang berkata, “Telah diwahyukan kepada saya,” padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya,” terkait dengan Musailamah al-Kadzdzâb; dan penggalan ayat, “man qâla sa unzilu mitsla mâ anzala Allâh/orang yang berkata, “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah,” terkait dengan `Abdullâh bin Abû Sarh.
Keterkaitan ayat di atas dengan dua nama yang telah disebutkan, menurut Syaikh Muhammad ath-Thâhir bin `Âsyûr, dipermasalahkan secara historis. Menurutnya, Musailamah al-Kadzdzâb mendakwahkan diri sebagai nabi pada tahun ke-9 Hijriah, sedangkan ayat tersebut tergolong pada ayat-ayat makkiyah. Menurutnya lagi, `Abdullâh bin Abû Sarh murtad dari Islam setelah peristiwa hijrah, yakni setelah ayat ini turun, sebelum akhirnya masuk Islam kembali pada peristiwa fathu Makkah.
Dengan demikian, menurut Ibn `Âsyûr dan Muhammad Sayyid Thanthâwî, kata “man/siapa (orang)” pada ayat tersebut bermakna umum, kepada siapa saja yang menklaim dirinya sebagai orang yang pernah mendapatkan wahyu atau mampu memberikan wahyu kepada orang lain, termasuk Musailamah al-Kadzdzâb dan `Abdullâh bin Abû Sarh.
Terkait dengan dua nama di atas, Musailamah al-Kadzdzâb pernah mengutus dua orang laki-laki kepada Nabi Muhammad saw. tentang kenabiannya. Nabi Muhammad saw. bertanya, “Apakah kamu bersaksi, bahwa Musailamah adalah seorang nabi?” mereka menjawab, “Ya.” Nabi bersabda, “Kalaulah bukan karena utusan itu tidak boleh dibunuh, niscaya akan kupenggal kepala kamu berdua.” Demikian penjelasan Ismâ`îl Haqqî.
Musailamah al-Kadzdzâb pernah menyatakan bahwa, Muhammad adalah utusan Allah untuk suku Quraisy, sedangkan aku adalah utusan-Nya untuk suku Banî Hanîfah. Demikian penjelasan Wahbah az-Zuhailî.
Sedangkan terkait dengan `Abdullâh bin Abû Sarh, pada awalnya adalah sebagai penulis wahyu di Makkah, lalu murtad dan menganut Islam kembali. Para ulama tafsir menyebutkan, di antaranya al-Qurthubî, ketika turun surat QS. al-Mu’minûn [23]: 12-14, Nabi memanggil `Abdullâh bin Abû Sarh untuk menuliskannya. Ketika sampai pada ungkapan, “tsumma ansya’nâhu khalqan âkhar (QS. al-Mu’minûn [23]: 14), `Abdullâh bin Abû Sarh merasa takjub dengan penjelasan detail Alquran tentang kejadian manusia ini, dia pun mengucapkan, “fa tabârak Allâhu ahsanu al-khâliqîn/Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” Lalu Nabi mengatakan, “Seperti itu juga diturunkan.” Mendengar ucapan Nabi ini, `Abdullâh bin Abû Sarh menjadi ragu tentang kebenaran Alquran. Dia berkata, “Jika Muhammad benar, sungguh diwahyukan kepadaku sebagaimana diwahyukan kepadanya. Namun dia adalah pembohong, karena aku telah mengucapkan apa yang dia ucapkan. Demikian penjelasan al-Qurthubî.
Riwayat lain dikeluarkan oleh ath-Thabarî bahwa ketika Nabi membaca `azîzun hakîm, `Abdullâh bin Abû Sarh menulisnya dengan ghafûrur rahîm, lalu dia membaca demikian kepada Nabi, Nabi pun membenarkan, “Ya. Hal itu sama.`Abdullâh bin Abû Sarh menyatakan bahwa, jika diwahyukan sesuatu kepada Muhammad, maka sungguh telah diwahyukan kepadaku; dan jika Allah menurunkan sesuatu kepada Muhammad, maka sungguh aku turunkan seperti yang diturunkan oleh Allah. Muhammad berkata, “Samî`an `alîmâ,” maka aku mengatakan, “`alîman hakîmâ.
            Berbeda dengan Musailamah al-Kadzdzâb yang akhir kehidupannya buruk, `Abdullâh bin Abû Sarh kembali menganut Islam pada fathu Makkah, dan baiklah Islamnya. Utsmân bin Affân menugaskan `Abdullâh bin Abû Sarh menjadi gubernur/walî di Mesir, dan melalui kekuasaannya ini, Afrika dapat ditaklukkan. Al-Qurthubî meriwayatkan bahwa `Abdullâh bin Abû Sarh pernah berdoa, “Wahai Allah, jadikanlah penutup amalanku salat subuh,” lalu dia berwudu, kemudian salat subuh. Pada rakaat pertama dia membaca al-Fâtihah dan al-`Âdiyât, serta pada rakaat kedua dia membaca al-Fâtihah dan satu surat yang lain; pada akhirnya dia salam ke arah kanan dan kiri, lalu Allah pun mewafatkannya dalam kondisi baik tersebut.

II
            Menurut Imam al-Qurthubî, ayat ini tidak hanya berbicara tentang orang yang menklaim mendapat wahyu dari Allah. Tapi juga terkait dengan orang yang menolak syariat dengan alasan hatinya berbicara hal yang berbeda, lalu dia berhukum dengan apa yang dikatakan hatinya tersebut dengan menolak hukum-hukum syariat yang telah ada. Orang-orang seperti cenderung menyatakan bahwa hukum-hukum syariat untuk orang umum, adapun para wali dan orang-orang khusus tidak butuh pada teks-teks agama, karena ke dalam hatinya yang bersih telah diberi ilham oleh Allah, sehingga cukuplah ilham itu yang menjadi pedoman dalam kehidupannya. Mereka menukil sebuah ucapan, “Istafti qalbaka wa in aftâka al-muftûn/minta fatwalah pada hatimu, walau orang lain memberikan fatwa kepadamu.
            Selain itu, mereka juga berargumen dengan Nabi Khadhir yang diberikan oleh Allah ilmu dari sisi-Nya, yang bahkan tidak diberikan kepada Nabi Mûsâ. Pendapat-pendapat seperti ini adalah zindik dan kafir, karena merobohkan hukum-hukum syariat dan menetapkan adanya nabi setelah Nabi Muhammad saw. Orang yang seperti ini harus dihukum mati dan tidak perlu berdiskusi dengan mereka. Demikian al-Qurthubî.
            Dari sini juga, tidak boleh seseorang mencampakkan makna zahir teks agama dan berpindah pada makna batinnya saja. Dalam tradisi tafsir Alquran, ada yang disebut sebagai tafsir isyârî, yakni menyingkap makna yang tersembunyi dari ayat-ayat Alquran, yang dirasakan oleh hati yang bersih. Tafsir ini boleh ditempuh dengan kriteria yang ketat.
Dalam buknya, at-Tafsîr wa al-Mufassirûn, Muhammad Husain adz-Dzahabî menjelaskan bahwa syarat diterimanya tafsir isyârî sebagai berikut:
1.      Tafsir isyârî tidak boleh menafikan tafsir/pemahaman zahir yang dikandung oleh ayat Alquran yang ditafsirkan, atau tidak bertentangan dengan lafal ayat.
2.      Tafsir isyârî harus memiliki dukungan/penguat dari sumber ajaran Islam.
3.      Tafsir isyârî tidak boleh bertentangan dengan syariat dan akal sehat.
4.      Penafsir tafsir isyârî tidak boleh mengklaim bahwa itulah satu-satunya maksud/makna ayat dan mencampakkan makna zahir ayat bersangkutan. Penafsir tafsir isyârî haruslah mengakui terlebih dahulu makna zahir, untuk kemudian menambahkan makna isyârî-nya.
Dalam bukunya, al-Itqân fî `Ulûm al-Qur’ân, Jalâl ad-Dîn as-Suyûthî, menjelaskan bahwa tidaklah sampai seorang mufasir pada tafsir isyârî sebelum dia memahami ayat dengan tafsir zahir. Siapa yang mengklaim telah memahami rahasia Alquran (dengan menyimpulkan tafsir isyârî-nya) sebelum melalui tafsir zahir, sama halnya dengan mengklaim sudah sampai di dalam rumah tanpa melalui pintunya.
Dengan demikian, apa saja yang tergambar dalam hati seseorang, sesuci apapun, tidak boleh diklaim sebagai kebenaran dan diamalkan, kecuali berkesesuaian dengan syariat dan atau tidak bertentangan dengan syariat. Untuk inilah Imam Junaid al-Baghdâdî, Abû al-Qâsim al-Qusyairî, dan Abû Hamid al-Ghazalî memperjuangkan keseimbangan antara syariat dan hakikat (at-tawâzun/al-jam` bain asy-Syarî`ah wa al-haqîqah) dalam kehidupan keberagamaan seseorang.

III
            Dalam bukunya, al-`Aqîdah al-Islâmiyah, Syaikh Mahmûd Sâlim `Ubaidât menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil tentang adanya azab kubur. Hal ini tergambar dari ungkapan, “al-Yawm tujzawna `azâbal hûn/pada hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan.” Jika dikaitkan dengan penggalan ayat sebelumnya, “Walau tarâ idz azh-zhâlimûn fî ghamarâti al-mawt wal malâ’ikatu bâsithû aydîhim akhrijû anfusakum/(alangkah dahsyatnya) sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu, maka “al-yawm/hari” yang dimaksud pada ayat tersebut adalah alam Barzakh. Dengan demikian, berdasarkan ayat ini, kuatlah keyakinan seseorang tentang keberadaan siksa kubur.
            Menurut Syaikh Ahmad ash-Shâwî dalam tafsirnya, bahwa yang dimaksud dengan kata al-yawm/hari adalah saat keluarnya ruh dari jasad seseorang, walaupun ada kemungkinan yang dimaksud adalah hari Kiamat. Namun, menurutnya, mengumumkan hari tersebut adalah lebih baik. Artinya, orang kafir akan disiksa mulai dari waktu matinya, alam Barzakh, hingga hari Kiamat. Demikian juga dijelaskan oleh ulama yang lain, di antaranya Abû Hayyân dalam al-Bahr al-Muhîth, Ismâ`îl Haqqî, Muhammad Sayyid Thanthâwi, dan Wahbah az-Zuhailî.
            Menurut Mahmûd Sâlim, keberadaan siksa kubur tidak hanya dikukuhkan oleh ayat-ayat Alquran, tapi juga hadis-hadis Nabi yang derajatnya sampai pada level mutawâtir. Di antara hadis tersebut sebagai berikut:
عن عائشة أن يهودية دخلت عليها فذكرت عذاب القبر فقالت لها أعاذك الله من عذاب القبر فسألت عائشة رسول الله صلى الله عليه وسلم عن عذاب القبر فقال نعم عذاب القبر حق قالت عائشة فما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي صلاة بعد إلا تعوذ من عذاب القبر.
Dari `Âisyah, bahwa seorang wanita Yahudi menjumpai `Âisyah dan bercerita tentang siksa kubur, lalu dia berkata, “Semoga engkau dilindungi Allah dari siksa kubur.” Aku pun bertanya kepada Rasul saw. tentang siksa kubur dan dia bersabda, “Ya. Siksa kubur adalah benar.” `Âisyah pun berkata, “Aku tidak melihat Rasul saw. salat kecuali setelahnya dia berlindung dari siksa kubur.”
Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bukhârî, dan an-Nasâ’î. Masih banyak hadis lain yang menyatakan bahwa azab kubur benar adanya, sebagaimana dituliskan oleh Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya, ar-Rûh. Dengan demikian, meyakini adanya azab kubur adalah sebuah kewajiban, karena, jika diingkari maka dia telah mengingkari hadis-hadis Nabi saw. yang dinukil secara mutawâtir.
Sementara orang berpendapat bahwa siksa kubur tidak ada, dengan menyetir QS. Ghâfir [40]: 46 dan QS. Yâsîn [36]: 52, sebagai berikut:
 
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir´aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Ghâfir [40]: 46).
            Menurut orang-orang yang tidak percaya dengan adanya siksa kubur, berdasarkan ayat ini, nereka hanya diperlihatkan pada pagi dan petang hari di alam Barzakh, jadi bukan disiksa. Menurut ulama akidah Ahli Sunnah wal Jamaah, ayat ini justru menguatkan adanya azab kubur dengan memperlihatkan neraka sebagai tempatnya kelak di akhirat. Ini adalah sebuah penyiksaan psikis, sehingga membuat seseorang merasa sedih dan menyesal dengan segala kekafiran dan kejahatan yang telah dilakukannya. Walau ada jenis penyiksaan yang lain, sebagaimana dijelaskan oleh Mahmûd Sâlim `Ubaidât.
            Istilah pagi dan petang pada ayat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Fakhr ad-Dîn ar-Râzî, untuk menggambarkan kontiniunya azab tersebut pada setiap waktu. Makna ini juga tergambar pada QS. Maryam [19]: 62.
            Sedangkan QS. Yâsîn [36]: 52, Allah berfirman:
قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ 
“Mereka berkata, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).”
            Ayat di atas, menurut mereka, menunjukkan tidak adanya siksa kubur, karena Alquran mengistilahkan sebagai tidur. Hal ini tidaklah benar. Ayat-ayat Alquran adalah satu kesatuan yang utuh, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya, begitu juga dengan hadis-hadis yang pasti datangnya dari Nabi saw. (mutawâtir). Dengan demikian, ayat ini harus disejajarkan dengan yang lain, yang menetapkan adanya siksa kubur.
            Selain itu, menurut Imam al-Qurthubî dengan menukil dari Abî Shâlih, ketika ditiupkan sangkakala dengan tiupan yang pertama, dihentikanlah siksa kubur, dan penghuni kubur pun tidur sampai datang tiupan kedua sebagai tanda hati kebangkitan. Ketika itu terjadi, mereka pun menyatakan, “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?
            Menurut al-Qurthubî lagi dengan menukil dari ahli makna Alquran, bahwa orang kafir ketika melihat neraka jahannam dengan segala jenis siksaannya, maka siksaan kubur yang telah dirasakannya, seperti tidur. Ini adalah perbandingan antara siksaan kubur yang tidak memiliki arti bila dibandingkan dengan siksaan neraka yang begitu dahsyat. Demikian juga yang dijelaskan oleh Syaikh Wahbah az-Zuhailî dalam kitabnya, Tafsir al-Munîr.
Wa shalla Allâhu `alâ Muhammad wa âlihi wa ashhâbih. Wa al-hamdu li Allâhi Rabb al-`âlamîn.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar